Friday, May 21, 2010

Hye! Kau Yang Berdusta, Lelaki...


Elang, aku tidak bahagia!
Kenapa rasa ini mendadak muncul, sejak semalam mataku hampir-hampir tidak terpejam.
Saat terlelap sebentar pun yang aku mimpikan ular.
Aku tidak mengerti, lang.
Lalu tiba-tiba aku terbangun.
02:17
Tidak biasa-biasanya kala aku tahu bahwa aku harus kerja esok pagi-pagi dan di pukul begini mata ini terbuka.
Dan kau tahu?
Ada pesan di telepon genggamku.
Satu pesan yang mengatakan ibu seorang teman dipanggil tanah kembali.
Ada satu lagi.
Satu pesan lagi.
Lelaki itu, lang.
Lelaki yang sering aku ceritakan padamu, dulu dan sekarang.
Pesannya mengatakan ia sayang padaku.
Setelah pesan itu kubaca, sampai pagi ini aku tidak bisa tidur lagi.

Mungkinkah ini petunjuk Tuhan?
Mendadak dada ini sesak.
Merasa ditipu - dibohongi.
Semua yang aku curigai sejak dulu, terasa begitu kentara dustanya.
Begitu terang petunjuknya, sampai-sampai aku begitu yakin dengan rasaku ini.
Ia, lang...
Lelaki yang mengirimkan pesan sayang itu.
Sejak awal membohongiku.
Ceritanya, tentang perempuan itu.
Masa-masa nya dulu, keluarga dan terserah apa lagi.
Ada rasa yang tak bisa aku terima.
Ia memupuk cnta dengan dusta.
Aku ingin marah! Ingin berteriak "AKU TIDAK BAHAGIA!"
Bukan ini yang aku ingini.

Sudah setahun lebih berlalu, bahagia itu tidak pernah sungguh-sungguh tiba nya padaku.
Apa yang salah?
Aku meratapi sekarang bahwa aku sendiri.

Aku iri dengan Anda.
Semalam aku begitu sulit tidur, tidak mau mata terpejam walau dipaksa-paksa, sehabis membaca catatannya.
Perenungan hidupnya di usia yang setengah abad.
Anda punya semua, katanya, keluarga yang sempurna, persahabatan yang sehat, mimpi dan cita-citanya.
Lalu semalam juga aku ingin merenung.
Aku bertanya sendiri "Apa yang aku punya?"
Atau rumput tetangga memang selalu nampak lebih hijua, saja.

Yang aku punya, keluarga kah?
Ya, keluarga yang hampir-hampir gagu berkomunikasi, yang tak ada lagi bahagia di dalamnya.
Penghianatan, dusta dan pedih.
Yang perlahan-lahan retaknya gugur satu-satu.

Persahabatan?
Mana teman-temanku sekarang?
Mereka pergi. Aku yang meninggalkan atau ditinggalkan.
Tak ada lagi cerita-cerita atau kebersamaan masa lalu yang aku rasa sekarang.

Mimpi dan cita?
Sulit rasanya digapai, lang.
Sulit sekali mewujudnya.
Lelaki itu juga menghalangi.
Dengan kata-kata saja ia cemburu.
Tak akan ia biarkan aku mengebas sayap sendiri, jika ia tak diajak serta.

Subuh ini, ketika aku berangkat bersama dingin angin sisa basah hujan semalam, aku hanya ingin bercerita.
Tapi tak tahu pada siapa.
Engkau, elang.
Tidak boleh lagi kutemui pada malam-malam kita, bukan?
Malam-malam kita telah berakhir dua hari lalu, kau pun harusnya tahu.
Tapi kita tidak saling berpamitan.
Memang masih ada sisa tiga hari, tapi aku masih tak tau apakah boleh aku menjumpai malam.
Malam kita.


Elang, kau tahu kan.
Sejak dari dua hari yang lalu aku menanti hujan.
Tapi seperti pesan yang kau baca, kemarau saja yang ada.
Lalu lang, kemarin sore hujan!
Hujan, lang, hujan...
Cantik sekali sore kemarin itu.
Awalnya kukira hanya akan mendung saja, aku bahkan sudah bertanya sendiri, jika mendung saja lalu bagaimana kita berjumpa.
Tapi kemarin sore itu hujan.
Tidak deras tapi cukup basah untuk mandi hujan dan cukup keras untuk mendengar senandung rintiknya.
Pohon mangga di halaman tetangga sudah tentu kutahu pasti basah.
Lalu aku membuka pintu biar bisa menjumpai yang sudah kutunggu-tunggu.
Aku pandang langit yang gelap.
Rinai hujan yang mengucur dari ujung genteng, pohon mangga itu lagi, jalan aspal yang basah.
Aku ingin keluar, ingin berlari rasanya.
Biar basah.
Tapi kau tahu, baru saja aku menghayal-hayali itu, suara lelaki itu terdengar dari dalam.
"Kamu ngapain sih diluar? Hujan hujan begini kok diluar. Mau mandi hujan? Aneh!"
Aku kecewa tapi tersenyum pura-pura.
Aku bilang "iya!"
Lelaki itu: "Lha aku panasin air untuk mandi biar hangat, kok malah mau mandi hujan."
Aku diam saja, lalu berdiri di depan pintu.
Memandangi hujan dengan keterbatasan.
"Maaf ya, Hujan, perjumpaan kita begini saja jadinya."

Lelaki itu tidak tahu aku, lang.
Aku yang sampai mati mencintai hujan dan puisi.
Dari dusta yang ia ciptakan, aku berkawan sejati dengan duka.
Hanya hujan yang mampu samarkan pedihku.
Hanya dengan basahnya aku sembunyikan tangisku.
Lalu lelaki itu melarangku menjumpai hujan.
"Hye, Lelaki, dusta dan duka ini kau kan yang cipta!"

Nanti...
Ada masa nya aku akan bertanya tentang semua dusta-dusta yang kau cipta.
Aku percaya akan rasaku sendiri.
Dan aku punya cukup bukti.
Jadi, saat kau kutanya nanti jangan mengelak lagi.
Jangan menumpuk kebohongan untuk menutupi dusta lain lagi.

Walau sakit mesti, aku hanya ingin kau mengakui dan maaf terucap.
Maka kala itu aku akan memaafkan dan kisah kita bisa dijalin lagi.
Tapi kalau kau menipu, lagi!
Jangan harap aku mau kawin denganmu.


Ini memang ancaman!

No comments:

Post a Comment