Friday, March 16, 2018

Trip To London: Visa UK Ditolak

Hellaaaw...

Iyaa, ini emang udah kelewat lama sejak trip ke London akhir September 2017 lalu. Tapi better late than never, kan ya? Setelah blog ini dianggurin sampe jamuran, kali ini aku mau sharing tentang pengalaman visa UK yang sempat ditolak.

Jadi, setelah dapat tiket murah meriah untuk ke London dari Garuda Travel Fair, aku sama Ena udah excited banget karena mimpi kami menjejakkan kaki di Inggris rasanya gak lama lagi terwujud. Akomodasi, itinerary dan segala printilan lain untuk ke sana udah disiapin dari bulan-bulan sebelumnya. Tinggal nabung yang masih kudu jor-joran dan proses bikin visanya. 

Ena apply visa UK sekitar 3 minggu lebih dulu daripada aku yang saat itu masih riweh karena suami diopname karena DBD. Setelah isi aplikasi online untuk visa UK (syarat dan cara pengisian form Visa UK bisa dibaca di sini), tanggal 17 July 2017 pagi sesuai appointment aku datang ke VFS di Kuningan City untuk melakukan interview dan pengambilan sidik jari. Kebetulan di hari yang sama hasil visa UK Ena ternyata udah keluar.

Sorenya ada Whatsapp masuk dari Ena. Bunyinya, "Visa gue ditolak, Da." 😭

Drama dan huru-hara tentu saja terjadi tapi gak perlu lah ya ditulisin di sini. Kepanjangaaaan...! Intinya adalah, visa UK Ena ditolak karena rekening tabungan yang dikasih gak bisa menunjukan bukti pemasukan dari gaji dia dan ada lonjakan saldo yang tinggi dan dicurigain itu bukan uang dia yang sebenarnya. (Ribet yeee, duit dikit salah duit kebanyakan juga salah 😛)

Baiklah... jadi ya emang ada salahnya juga sih karena ternyata si Ena gak ngasihin print rekening tabungan payroll dia yang mana bisa nunjukin kalau tiap bulan dia terima uang gaji. Dia cuma kasih print rekening tabungannya yang khusus dipake nabungin uang untuk jalan-jalan. Dan soal lonjakan saldo sebetulnya adalah uang THR dia pas lebaran yang begitu masuk di rekening payroll dia transfer langsung semuanya ke tabungan jalan-jalannya.

Saat itu gue ikut deg-degan juga. Mikirnya, kalau nanti gue dapet visa ya masa gue jalan-jalan sendiri. Nanya sana-sini soal aplikasi visa UK yang ditolak, browsing di internet juga minim banget informasinya. Untungnya yaa, ada Kak Kenny - Kartu Pos (IG: @kartuposinsta) yang baik banget ditanyain soal info ini itu. Dari dia lah akhirnya kami tau kalau visa UK ditolak maka applicant boleh meng-apply visa lagi tanpa perlu menunggu jeda waktu tertentu. 

Jadi diputuskan lah bahwa Ena akan apply ulang visa UK (dan tentunya bayar ulang 😫). Semua dokumen disiapin lagi selengkap-lengkapnya. Dia sampe bikin surat keterangan untuk dilampirin yang isinya menjelaskan soal apa itu THR. 😁

Seminggu kemudian...

Aku dapat notifikasi lewat email dari VFS bahwa visa UK-nya udah bisa diambil. Dua hari kemudian aku datang. Sepanjang nunggu nomor antrian dipanggil dada ini dag dig dug melulu. Karena sudah tau bahwa visa yang ditolak pasti di dalam plastik pembungkus passport kita bakalan ada surat pemberitahuannya, maka hal yang aku lakukan pertama kali saat menerima amplop tersebut adalah menggesek plastik dokumennya untuk merasai ada kertas gak di dalamnya. Dan apa coba???

Iyaaak... Ada dong kertasnya. Aku rasanya saat itu kok ya nelangsa tapi pasrah. Haha...! Gak kaget lagi sih karena udah dengar kabar visa UK Ena yang ditolak juga. Jadi aku berpikir sama, yaudah apply aja lagi.

Setelah terima amplopnya, walaupun udah tau ada kertas di dalamnya, untuk memastikan lagi, aku masuk ke toilet dan duduk di dalamnya cuma untuk buka itu amplop. (Kan malu yak masa buka amplopnya di dalem VFS terus ntar orang-orang liat dong kalo visa gue ditolak). Abis baca surat penolakan visanya aku kirim Whatsapp ke Ena, "Visa gue juga ditolak dong." 😭😭😭

(Anak kembar nasibnya gini amat yaa, serupa.)

Alasan penolakannya kali ini beda, lebih beragam. To be honest aku sempet kesel sih karena alesan penolakan visa yang ditulis dalam surat tersebut kok kayak gak relevan ya. Mulai dari dibilang gak ada pemasukan yang jelas tiap bulan. Lha, padahal di aplikasi jelas banget aku tulis bahwa aku punya pekerjaan tetap dan juga bekerja sebagai freelancer. Di rekening tabungan kan harusnya bisa kelihatan ada gaji tetap dari perusahaan yang sama tiap bulannya dan pemasukan lain. Kemudian gak mencantumkan bukti pendapatan suami (padahal laki gue kan gak ikut perginya), dan gak ada bukti bahwa sudah pernah melakukan perjalanan ke luar negeri sebelumnya (yang ini salah gue sih lupa fotokopi isi passport lama), dan dibilang trip ini semacem lebih banyak gaya daripada harta lebih besar pasak daripada tiang, so deze gak satisfied. (Elaaaah... aku kudu piye supaya kamu satisfied, Maz?)

Dari penolakan ini aku belajar sih kalo soal apply visa itu emang bukan cuma perkara banyaknya duit di rekening. Tapi juga soal kelengkapan dokumen yang meyakinkan mereka. Karena kalo mau ngomongin soal jumlah uang, di rekening aku saat itu jumlahnya jauh banget dari kata cukup (sombooong 😝). Tapi untunglah aku anaknya gigih dan tidak mudah menyerah, visa ditolak dukun bertindak ya apply lagi lah!

Emang sih apply visa baru means harus bayar lagi, double pengeluaran. Tapi yaudah lah yhaa, demi mengejar mimpi. Jadi dalam waktu sekitar 2 minggu berikutnya yang aku lakukan adalah mempersiapkan semua dokumen yang dianggap perlu untuk dilampirkan demi membuat mereka yakin dan percaya. 

Dokumen tambahannya sbb: 

- fotokopi semua halaman passport lama yang ada stamp dari negara-negara yang pernah dikunjungi (ini karena emang kelupaan sebelumnya).

- surat keterangan dari beberapa perusahaan yang selama ini bekerja sama dengan aku, yang menyatakan bahwa betul aku bekerja freelance di tempat mereka dan masih akan menggunakan jasaku untuk ke depannya. (Minta di-print di atas kop surat perusahaan, ditandatangani dan dicap basah).

- print tabungan payroll suami selama 6 bulan terakhir.

- tagihan kartu kredit suami selama 6 bulan terakhir.

- surat keterangan dari Ena sebagai orang yang pergi bareng untuk trip ini, bahwa dia bekerja dan memiliki gaji tetap dari perusahaannya dan dia menjamin sebagian pengeluaran aku di sana (padahal mah tetep gue bayar sendiri).

- print rekening payroll dan rekening tabungan jalan-jalan Ena selama 6 bulan terakhir.

- print tagihan kartu kredit Ena selama 6 bulan terakhir.

- foto aku bersama anak-anak dan suami (biar yakin gue punya keluarga di sini dan pasti bakalan pulang). Ini perlu gak perlu sebetulnya, tapi dari hasil baca-baca beberapa blog, it works.

- surat keterangan yang ditandatangani di atas materai berisi pernyataan mengenai beberapa point: menyatakan bahwa walaupun bekerja sebagai freelancer tapi saat itu aku juga bekerja sebagai karyawan tetap di satu perusahaan riset, which means aku punya dua pemasukan sebetulnya. Lalu aku pergi dengan saudara kandungku yang punya pekerjaan tetap di Jakarta, aku punya suami dan anak yang pasti membuatku akan pulang lagi ke Indonesia. Dan pernyataan bahwa semua biaya seperti tiket pesawat, hotel, tour, dan visa sudah dibayar, yang artinya aku tinggal butuh uang untuk meals dan transportasi selama 9 hari di sana dan uang di tabungan itu jumlahnya cukup banget dipake buat makan sampe gumoh.

- dan pada print rekening koran selama 6 bulan terakhir, semua pemasukan dari perusahaan-perusahaan tempat aku bekerja sebagai freelancer juga aku stabilo-in biar mereka bisa liat secara jelas jumlah uang yang masuk tiap bulan ngalir deres kayak banjir bandang.
(Lagi lagi somboooong) Hahaha...


Ribet yak? Mayaan. Tapi untuk mewujudkan mimpi emang perlu usaha, kadang ekstra.

Well, setelah aku masukin aplikasi lagi ke VFS untuk kedua kalinya, tinggal nunggu kabar dari mereka. Kalau aplikasi visa pertama less than a week aku udah bisa terima hasilnya (yhaa, walopun ditolak), yang kedua ini aku sampe senewen nungguinnya kok gak dapat-dapat kabar juga. Sementara tanggal keberangkatan semakin mepet. Dan Ena tentu saja sudah berhasil dapat visa UK nya. 

3 minggu kemudian...

Akhirnya masuk juga email notifikasi dari VFS, mengabarkan bahwa hasil visa UK aku udah bisa diambil. Dan tentu saja kalian udah bisa nebak kan hasilnya? 😎😎



London, I'm comiiiing....!!!

Notes:

- Buat kalian yang mau apply visa sebaiknya jangan terlalu mepet dengan tanggal keberangkatan, hal ini sih untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

- Siapkan dokumen selengkap mungkin, gak usah mikir "emang ini dokumen perlu ya dikasih?", kalau bisa membantu ya kenapa enggak, lampirkan aja.

- Ini pertama kalinya aku apply visa tanpa bantuan travel agent/calo, dan ini baru kedua kalinya pergi ke negara yang membutuhkan visa. Apply visa sendiri sebetulnya gampang tapi memang perlu teliti dalam mempersiapkan semua dokumennya. Jadi double bahkan triple check itu perlu banget dan gak perlu takut kalau mau coba apply sendiri. 



Hello, Big Ben





Thursday, March 30, 2017

Mudahnya Mengurus Perpanjangan Passport Sendiri

Pic from Pinterest


Because sharing is caring. Tulisan ini dibuat dengan niat semoga dapat membantu siapa pun yang butuh info untuk melakukan perpanjangan passport. Karena gue sendiri pun selalu dan sangat mengandalkan informasi dari internet dalam banyak hal. Dan pada akhirnya gue berharap semoga artikel ini bisa jadi amal jariyah buat gue (lah, pamrih).

Ok, let's start!

Passport gue sudah habis masa berlakunya sejak bulan Juni 2016. Dan karena sejak melahirkan anak pertama di tahun 2013 gue gak pernah melanglang buana lagi, jadi passport lama yang udah expired itu gue biarkan teronggok di dalam lemari. Kemudian tahun ini karena ada rencana untuk kembali berpetualang ke negeri orang, maka mau gak mau perpanjangan passport pun harus dilakukan. Passport pertama gue dulu dibuat dengan bantuan calo, dengan tarif 500.000. Seinget gue saat itu gue cuma dateng untuk foto dan wawancara, terus terima jadi.

Tapi sekarang gue niat banget ngurus perpanjangan passport sendiri, selain harga lebih murah, pelayanan online dari imigrasi pun sudah tersedia. Sisanya tinggal rajin browsing sana sini untuk cari tau soal dokumen yang diperlukan dan bagaimana tahapannya.

Langkah pertama, siapkan semua dokumen yang diperlukan. Yaitu sebagai berikut:
1. Passport Lama
2. KTP
3. Kartu Keluarga
4. Akte Lahir.

That's all! Simple kan?!

Semua dokumen tadi difotokopi di atas kertas ukuran A4.

Perhatian!
- Untuk passport lama cukup difotokopi halaman depan dan terakhir saja.
- Fotokopi KTP di atas kertas A4, tidak boleh dipotong. Jadi fotokopi saja ukuran normal, tapi jangan dipotong kertasnya.
- Jika kalian tidak punya akte lahir, dokumen ini bisa diganti dengan ijazah atau Surat Nikah. Ijazah yang berlaku adalah ijazah yang tercantum nama orangtua kalian, dalam hal ini ijazah kuliah berarti gak berlaku karena gak ada nama orangtua. Kalau ijazah juga gak punya, entah emang gak pernah sekolah atau hanyut kebawa banjir, bisa pakai Surat Nikah. Tentu saja ini bagi yang sudah menikah. Kalau belum nikah ya pasrah aja, gak usah maksa minjem surat nikah orang lain hanya karena udah kebelet kawin. Ingat, jodoh di tangan Tuhan!
- Jika memakai Surat Nikah, cara fotokopinya pun sama dengan KTP. Jangan dipotong, tetap dalam ukuran kertas A4.

Setelah semua dokumen siap kalian tinggal pilih mau melakukan proses secara online melalui website www.imigrasi.go.id atau secara manual dengan walk-in ke kantor imigrasi.

Saya melakukan proses secara manual. Karena beberapa hari sebelum saya mau melakukan proses online muncul pengumuman dari pihak imigrasi yang menyatakan bahwa layanan online pembuatan passport untuk sementara tidak bisa dilakukan. Alasannya? Hal ini biar hanya Tuhan dan pihak imigrasi yang tau.

(Jika melakukan secara online, maka semua dokumen asli harus di scan. Karena saat melakukan proses tersebut kalian akan diminta untuk melampirkan dokumen tadi. Setelah selesai, tinggal menentukan jadwal interview dan foto. Kalian tetap harus datang ke kantor imigrasi dengan membawa semua dokumen asli dan fotokopinya. Antrian pemohon online dan walk-in dibedakan.)

Karena saya sudah sering dengar kabar bahwa layanan bikin passport di imigrasi itu antriannya bisa ngalahin antrian sembako di tahun 1998, maka berdasarkan beberapa blog yang saya baca, saya berangkat subuh dari rumah. Rumah saya di Salemba, dan memutuskan untuk datang ke kantor Imigrasi Jakarta Selatan yang berada di Mampang. Berangkat jam 5 subuh dengan Gojek, saya tiba di sana pukul 05.25, dan setibanya di sana hal yang pertama kali saya lakukan adalah melongo liat antrian. Langit masih gelap, angin masih dingin, dan maling pun baru mau pulang, tapi yang antri sudah ada sekitar 100 orang. Tapi karena saya orangnya ikhlas, pasrah dan hanya mampu bertawakal kepada Tuhan, maka dengan legowo saya ikut ngantri di sana.

Sekitar jam setengah 7 ada petugas yang mulai mengecek apakah ada di antara pemohon passport dalam antrian ini yang usianya sudah di atas 50 tahun atau membawa anak di bawah usia 2 tahun. Jika ada maka orang-orang tersebut akan dipersilahkan masuk lebih dulu, menunggu di dalam dan bisa dapat nomor antrian awal. Sementara yang lain ya terima nasib nunggu sampai jam 07.30.

Pukul 07.10 perlahan-lahan para pemohon ini dipersilahkan masuk naik ke lantai dua untuk mengambil nomor antrian, saat itu kalian harus siapkan semua dokumen asli di tangan kalian, terutama KTP. Akan ada petugas juga yang bakal teriak-teriak, berulang-ulang, "siapkan dokumen aslinya, pak, bu! KTP nya yang asli disiapkan!" (Nada teriakannya agak songong dan nyolot sih, jd mendingan lo kekepin tuh dokumen di tangan daripada pagi-pagi udah kena diomelin). Saat ambil nomor mereka akan tanya apakah mau e-passport atau passport biasa, karena nanti map yang diberikan akan berbeda. Yang e-passport ada stempel di depan map nya. Fyi, saya dapat nomor antrian 85. Huufftt...!

Setelah itu kalian harus mengisi data secara lengkap pada form yang ada di dalam map tersebut. Isinya HARUS MENGGUNAKAN PULPEN TINTA HITAM. Setelah selesai tinggal tunggu nomor kalian dipanggil. Jumlah loket di sini ada 10, jadi proses menunggunya gak terlalu lama menurut saya. (Saya sih nunggu sambil baca novel, mungkin karena itu jadi gak terlalu berasa lama).

Setelah nomor kalian dipanggil, silakan masuk untuk proses interview, diambil sidik jari, kemudian foto. Interviewnya hanya ditanya bikin passport mau pergi kemana? Mau ngapain? Sama palingan ditanya kalian kerja di mana. Begitu selesai kemudian kalian akan diberikan kertas untuk melakukan pembayaran di bank. Karena saya meminta passport biasa saja, maka harga yang harus saya bayar adalah RP 355.000 (untuk e-passport biayanya sekitar 600.000). Kalau sudah bayar kalian boleh pulang, dan kembali lagi untuk ambil passport di hari dan waktu yang telah ditentukan dengan membawa tanda bukti bayar dari bank tersebut.

Selesai! Mudah kan?


INFO & CATATAN PENTING!

1. Pembuatan passport sekarang bisa dilakukan dari kantor imigrasi mana pun, tidak perlu lagi mengikuti wilayah sesuai alamat KTP.

2. Jika kalian datang pagi-pagi, di Imigrasi Jakarta Selatan akan ada bapak petugas yang memandu kalian untuk mengisi form di dalam map tersebut. Jadi gak usah takut bingung. Saat saya di sana ada Pak Wagino (dugaan saya dia pimpinan di Imigrasi Jaksel) yang memandu pengisian form itu. Orangnya ramah sekali bahkan terkadang dia memandu sambil guyon. Dia menjelaskan sangaaaat detail. Dan ga perlu ragu kalau mau bertanya, beliau dengan senang hati menghampiri dan memberikan jawaban.

3. Di Imigrasi Jaksel tersedia tempat untuk fotokopi, jadi kalau kalian ada dokumen yang lupa atau salah bisa fotokopi ulang di sana. Tempat fotokopinya pun jual materai dan blanko surat-surat yang dibutuhkan sebagai tambahan dokumen, misalnya surat izin pembuatan passport untuk anak di bawah umur, surat keterangan kehilangan passport, dll.

4. Sekarang ada web (http://infoantrianpaspor.imigrasi.go.id) di mana kita bisa melihat secara real time nomor antrian yang sedang berlangsung di semua imigrasi di Jakarta. Ini berguna banget buat kalian yang dapat nomor antrian besar kemudian gak dapat tempat duduk di dalam, mendingan sih turun aja dulu nyari sarapan. Kalian bisa cek melalui web tersebut sudah nomor berapa yang dipanggil, jadi gak perlu takut terlewat.

Di web itu kita juga bisa melihat ada berapa banyak jumlah orang yang datang di tiap-tiap imigrasi. Imigrasi Jaksel selalu paling banyak dan Jakut paling sedikit. Saat saya di sana, pukul 08.00 sudah ada 460 pemohon passport yang datang, saat saya cek di Imigrasi Jakut pada waktu yang sama cuma ada 9 orang. Jomplang BGTZ.

5. Pembayaran biaya pembuatan/perpanjangan passport sekarang bisa dilakukan dari bank mana pun, tidak harus di BNI. Pembayaran bisa secara tunai melalui bank, lewat ATM, dan kabarnya di beberapa kantor imigrasi sudah menerima untuk pembayaran secara debit. Di lantai pertama Kantor Imigrasi Jakarta Selatan ada bank BRI dan tiga mesin ATM (Mandiri, BNI dan satu lagi saya lupa). Jadi selesai interview dan foto bisa langsung turun dan bayar di sana.

6. Proses pembuatan passport memakan waktu 3-5 hari kerja, sementara untuk e-passport 14 hari kerja.

7. Pengambilan passport diberikan waktu hingga 30 hari. Lewat 30 hari jika passport kalian tidak juga diambil maka passport akan dipotong oleh pihak imigrasi.

8. Pengambilan passport bisa diwakilkan dengan membawa surat kuasa di atas materai 6000 dan KTP asli pemohon passport. Jika yang mewakilkan masih berada dalam satu Kartu Keluarga yang sama dengan kita, tidak perlu membawa surat kuasa, cukup bawa KK dan KTP asli pemohon dan penerima kuasa.

9. Saran saya ada baiknya kalian datang pagi-pagi supaya masih bisa dapat nomor antrian awal, kalau perlu datanglah ke kantor imigrasi yang biasanya sepi pemohon, seperti imigrasi jakut dan jakbar.

10. Semua proses yang saya jalanin itu, tiba jam 05.25 dan selesai tepat di pukul 10.30 (2 jam pertama cuma dipakai untuk ngantri sampe imigrasinya buka).






Monday, November 28, 2016

Tentang Rindu

Ada yang selalu dikenang dari tahun-tahun yang telah berlalu.
Dan ini tentang rindu...


Entah sudah berapa lama saya tidak lagi pernah duduk berjam-jam termangu di depan layar komputer, merenungkan hidup dan perjalanan, merasai cinta yang hilir mudik di hati dan membuatnya berdegup lebih kencang, lalu menuliskan kisah-kisah tentangnya. Entah sudah berapa lama hidup berjalan begitu saja tanpa lagi dirasa-rasai gairahnya. Entahlah...

Tiap kali membuka blog ini, tiap kali itu juga saya merasa terseret dalam pusaran lorong waktu yang membawa saya kembali pada kenangan di tahun-tahun silam, tahun-tahun ketika begitu banyak orang yang datang dan membawa kisahnya masing-masing, pembicaraan-pembicaraan panjang tengah malam, serta kehidupan dan gegas-gesanya yang selalu hadir di tiap pagi.

Katakanlah, mungkin saya merasa jenuh.
Mungkin juga sepi.
Atau rindu.


pic from here









Friday, August 12, 2016

Cahaya Pagi

Selalu, yang terkenang darimu
Adalah cahaya pagi
Ketika pijar pertama dan embun
Berkilau karenanya
Bahkan di sudut waktu yang muram
Oleh lembab udara yang kesal
Yang terkenang darimu adalah
Cahaya pagi



25 July 2016

Menenun Ingatan

apa yang tersisa sepeninggal kita adalah rasa yang menjadi usang
dan dinding waktu yang beku. waktu kita sampai di sini.

lalu kau dan aku sama-sama merapihkan buku, menyusun serak-serak lembar kenangan
yang padanya kita titipkan semacam harapan.

hingga sampai suatu waktu, kelak kita diserang rindu dan kita akan mulai memintal dari lembar usang berdebu itu, menenum ingatan, tentang rasa yang t'lah dilupakan

dan kelak pula saat itu kita kembali saling menyalahkan
siapa yang lebih dahulu meninggalkan.


Jakarta, 26 Juni 2014

Tersiksa Sepi

apakah sepi yang membuatmu
menyerukan sunyi berulang-ulang
dan dadamu kosong; nyeri
yang kekal serupa mata belati

malam begitu lindap dan hujan turun di beranda
di dalam kamar kau tersiksa rasa yang ganjil
yang membuatmu kerap bertanya-tanya
apa benar karma itu ada?



Jakarta, 11 July 2014

Simpang Jalan

aku sampai pada suatu titik
berhenti
menggemakan namamu dalam kepala
mendebarkanmu dalam dada

kau simpang jalan itu
arahmu takkan kulalui lagi

hujan terlalu deras
untuk terus berlari
atau mengambil jalan pulang



Jakarta, 15 Juli 2014

Selingkuh

dalam pejam matanya
menciummu
yang dibayang
wajahku



Jakarta, 23 November 2015

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails