Friday, January 11, 2019

Berkaca Dari Perjalanan


Apa yang paling mengesankan dari setiap perjalanan? Banyak tentunya. Apalagi kalau kamu berkunjung ke negara lain yang lebih maju daripada negara tempat kamu tinggal. Banyak hal yang bikin kagum, banyak hal yang bikin takjub.

Dari perjalanan ke London, Melbourne, dan Sydney, banyak hal yang bikin saya merasa malu jadi orang Indonesia karena ngerasa, duh, ini negara ketinggalan banget deh. Kapan majunya? Kaya saat passport gak bisa di-scan di bandara Sydney, berdiri stuck hampir 20 menit di line imigrasi, diliatin orang-orang cuma gara-gara kertas passport yang udah tahun 2018 masih aja harus di-input manual karena gak bisa kebaca di mesin scanner. Tapi gak sedikit pula alasan yang membuat saya bersyukur jadi orang Indonesia. Saat menggigil kedinginan di London, rasanya udah mau mati, saya kangen banget ada di Jakarta yang mataharinya tiap hari muncul. Untuk makanan Indonesia yang enak-enak dan murah meriah, sementara makanan di sana udah hambar, mahal pula. Ya begitulah hubungan sama negeri sendiri, benci, benci, benci, tapi rindu.

Dari perjalanan di tiga kota besar ini yang membuat saya paling terkesan adalah soal sistem transportasinya yang canggih, serba teratur, bersih, dan tepat waktu. Selain itu apalagi? Banyak! Udaranya yang bersih, minim polusi, trotoar lebar untuk pejalan kaki yang gak perlu rebutan sama motor atau tukang jualan, banyak taman kota yang luas, museum yang bagus-bagus, infrastruktur yang baik, gak ada macet, gak ada motor yang seliweran sembarangan dengan klakson yang berisik. Yang paling utama soal kesadaran masyarakatnya yang tinggi untuk tertib dan disiplin.

Salah satu taman kota di Melbourne yang luas, bersih, gak ada pedangang kaki lima 😛


Menjadi negara maju itu bukan sekedar menyediakan fasilitas canggih luar biasa dan yang paling terdepan. Bukan cuma soal pemerintahan yang baik dan gak korup. Menjadi negara maju juga perlu mentalitas kuat serta kesadaran tinggi dari masyarakatnya untuk mau tertib, disiplin, mandiri. Sebaik apa pun pemerintahan, sehebat apa pun fasilitas yang diberikan, semua akan sia-sia kalau masyarakat yang hidup di dalamnya minim kepedulian dan kesadaran untuk menjaganya bersama-sama.

Tapi perjalanan ke luar negeri, mengunjungi negara-negara yang lebih maju juga tak sepatutnya dijadikan ajang sibuk mencaci-maki negeri sendiri hanya karena terpukau atas kehebatan negara lain. Karena kadang kita hanya terlalu sibuk menertawakan kekurangan tanpa tahu bagaimana menjadikannya lebih baik. Sibuk mengkritisi tapi tak mengambil peran nyata dalam memperbaikinya.

Perjalanan kerap kali membuat saya berkaca diri, apa yang perlu saya lakukan setidaknya yang dapat dimulai dari diri sendiri. Hal terkecil yang bisa kita lakukan untuk menjadikan tempat kita tinggal terasa lebih baik. Sederhananya saja, gak buang sampah sembarangan, tertib antri, gak merusak fasilitas umum, dll.

Perjalanan itu selayaknya memang membuka mata dan pikiran kita untuk lebih luas lagi memandang dan mampu berpikir lebih bijaksana.


Oxford Street, London, trotoar luas hanya untuk para pejalan kaki. 😊





Thursday, January 3, 2019

Cerita Dari Para Homeless

London, September 2017

Sore itu saya baru saja keluar dari stasiun Tottenham Court Road, hendak balik ke hotel kami di Dean Street. Di tengah keramaian orang di sekitar Oxford Street seorang perempuan paruh baya, berkerudung hitam, dari wajahnya saya tebak sepertinya dari Timur Tengah, menghampiri saya. "Assalamualaikum, Sister... Can you buy me a food, please?", katanya. Saya menggeleng dan berkata, "No, sorry." sambil terus berjalan. Tidak sampai semenit saya jalan rasa bersalah menghinggapi diri. Saya ingat saat itu saya bilang ke Ena, "Yaaah, itu ibu-ibu tadi padahal cuma minta dibeliin makanan." Rasa bersalah itu tak kunjung hilang hingga saya tiba di hotel.

Malamnya Ena nonton Harry Potter and the Cursed Child, saya karena gak kedapetan tiket jadi kelilingan sendiri di Oxford Street, kemudian malah berakhir dengan belanja di Primark. Keluar dari Primark saya masih celingukan di sekitar Oxford Street karena mikir mungkin ibu-ibu tadi masih ada di sekitar sini. Tapi gak ketemu lagi.

Sampai di Jakarta cerita tadi saya kisahkan ke suami. Dia suruh saya sedekah di Jakarta aja sebagai pengganti rasa bersalah tadi. Jadi waktu itu saya niatkan masak sendiri, bikin nasi kotakan untuk dibagiin ke pengemis di sekitar wilayah dekat rumah. Apa rasa bersalahnya hilang? Ternyata tetap enggak. Bayangan atas kesombongan saya saat di London itu masih terus ada.



Cerita tadi memang kesannya biasa saja. Menolak memberikan uang ke pengemis kan di Jakarta juga sering, tapi entah kenapa peristiwa di London itu begitu membekas. Saya seperti ditampar entah oleh apa. Wajah ibu itu, apa yang ia ucapkan, lalu bagaimana cara saya menolaknya, semua detailnya masih jelas sekali saya ingat. Seperti ada hantu yang terus gentayangan di dalam pikiran dan membisikan betapa sombongnya diri ini.

Bagaimana tidak sombong, Allah kasih saya rejeki yang berlimpah sekali di tahun 2017 itu. Keinginan saya yang sudah bertahun-tahun untuk menginjakkan kaki di London dikabulkan, Visa UK yang sudah sempat ditolak ternyata diberikan kemudahan lagi untuk mendapatkannya. Tapi ketika ada orang lain minta sedikit saja rejeki dari saya, mudah banget saya tolak mentah-mentah.

Sudah setahun lewat sejak perjalanan di London saat itu, tapi peristiwa tersebut masih lekat dalam ingatan.

No one has ever become poor by giving

Sydney, Desember 2018

Sore itu juga sama. Saya dalam perjalanan balik menuju hotel. Sydney hujan badai, angin kencang sekali, sampai payung saya berubah jadi mangkok berkali-kali. Jarak dari stasiun King Cross menuju hotel tempat saya tinggal berjarak kurang lebih 1 km, dan saya harus jalan kaki ke sana. Jalanan gak ramai, semua orang berjalan cepat-cepat menghindari hujan angin yang kencang. Dari kejauhan saya lihat seorang perempuan duduk di depan toko. Mendekap dirinya, kehujanan, tanpa payung, bahkan tanpa mengenakan jaket. Seketika saya bertanya sendiri dalam hati, "itu pengemis bukan sih?" karena pakaiannya bersih dan cukup bagus, dan tak ada barang-barang di sekitarnya seperti kebanyakan pengemis lain yang saya temui di jalanan. Namun saat itu juga bayangan perempuan pengemis di London tahun lalu tiba-tiba muncul lagi di kepala saya. Saya yang juga kebasahan saat itu cuma mikir satu hal, jangan sampai kejadian seperti di London terjadi lagi.

Ketika jarak semakin dekat, perempuan ini sudah menatap ke arah saya. "Give me just ten cents, please!" katanya.

Alhamdulillah, penyesalan yang sama tidak lagi hinggap hingga saya menulis cerita ini.

Melbourne, The Most Liveable City in the World.

Apa yang mau saya sampaikan sebetulnya dari cerita ini adalah kita manusia kerap merasa ketakutan kekurangan rejeki, hingga mau berbagi pun rasanya berat sekali. Padahal rejeki sudah dijamin oleh Allah. Kenapa begitu sombong saat memiliki sesuatu? Padahal apa sih yang kita punya sebetulnya?

Kisah dalam perjalanan saya di atas tadi betul-betul menjadi ingatan yang lekat sekaligus pelajaran yang membuat saya belajar untuk terus bersyukur atas apa yang saya punya, sedikit apa pun itu dan kesadaran untuk selalu mau berbagi rejeki dengan orang lain.

Ada dua hadist yang sampai sekarang akan selalu saya ingat. Dikatakan... "Bersedekahlah, supaya engkau diselamatkan dari api neraka, walaupun hanya dengan sebutir kurma." Dan, "tidak akan pernah berkurang harta yang disedekahkan kecuali ia bertambah, bertambah, bertambah."

Kadang kita memang perlu melihat ke bawah untuk terus bisa merasa bersyukur. 

Banyak cerita dari London dan Australia yang belum saya sempat tuliskan di sini, sebagiannya mungkin bahkan saya sudah lupa. Tapi cerita ini adalah kisah pertama dari dua perjalanan saya terakhir yang ingin saya bagikan di sini, sebagai pengingat bagi diri saya sendiri, semoga juga bagi orang lain yang membacanya.

Berbuat baiklah. Niscaya kebaikan itu akan berbalik kepada kita.


PS: Ini sedikit kesan saya melihat para homeless di London, Melbourne dan Sydney. Meskipun  di negara maju, jumlah homeless di sana ternyata juga lumayan banyak. Tapi satu hal yang bikin saya kagum, banyak banget homeless yang saya temui selama diperjalanan, meski tidur di jalanan, meski ga punya rumah, mereka tetap baca buku. Buku dan anjing, dua hal itu yang  banyak saya lihat tetap mereka punyai meski berada di jalanan.


Jakarta, 3 Januari 2019
"Selamat Tahun Baru"

















Monday, December 31, 2018

Hujan Di Luar Meratap

Hujan di luar meratap
Malam pun sepi
Ku tertegun pada kaca jendela
Menghitung rintik demi rintik
Detik demi detik
Melintas waktu begitu bergegas
Kemudian tersadar kita berjarak setengah lingkar dunia

Apa kabar di sana?

Angin musim gugur mengirimkan suara dari jauh kepadamu
Berdesing di telingamu
Tentang airmata yang panas


Salemba, 6 November 2018

Friday, March 16, 2018

Trip To London: Visa UK Ditolak

Hellaaaawwww....

Iyaa, ini emang udah kelewat lama sejak trip ke London akhir September 2017 lalu. Tapi better late than never, kan ya? Setelah blog ini dianggurin sampe jamuran, kali ini aku mau sharing tentang pengalaman visa UK yang sempat ditolak.

Jadi, setelah dapat tiket murah meriah untuk ke London dari Garuda Travel Fair, aku sama Ena udah excited banget karena mimpi kami menjejakkan kaki di Inggris rasanya gak lama lagi terwujud. Akomodasi, itinerary dan segala printilan lain untuk ke sana udah disiapin dari bulan-bulan sebelumnya. Tinggal nabung yang masih kudu jor-joran dan proses bikin visanya. 

Ena apply visa UK sekitar 3 minggu lebih dulu daripada aku yang saat itu masih riweh karena suami diopname karena DBD. Setelah isi aplikasi online untuk visa UK (syarat dan cara pengisian form Visa UK bisa dibaca di sini), tanggal 17 July 2017 pagi sesuai appointment aku datang ke VFS di Kuningan City untuk melakukan interview dan pengambilan sidik jari. Kebetulan di hari yang sama, sore harinya Ena juga mau ngambil hasil visa UK dia yang ternyata udah keluar.

Jam 4 sore, ada Whatsapp masuk dari Ena. Bunyinya, "Visa gue ditolak, Da." 😭

Drama dan huru-hara tentu saja terjadi tapi gak perlu lah ya ditulisin di sini. Kepanjangaaaan...! Intinya adalah, visa UK Ena ditolak karena rekening tabungan yang dikasih gak bisa menunjukan bukti pemasukan dari gaji dia dan ada lonjakan saldo yang tinggi dan dicurigain itu bukan uang dia yang sebenarnya. (Ribet yeee, duit dikit salah duit kebanyakan juga salah 😛)

Baiklah... jadi ya emang ada salahnya juga sih karena ternyata si Ena gak ngasihin print rekening tabungan payroll dia yang mana bisa nunjukin kalau tiap bulan dia terima uang gaji. Dia cuma kasih print rekening tabungannya yang khusus dipake nabungin uang untuk jalan-jalan. Dan soal lonjakan saldo sebetulnya adalah uang THR dia pas lebaran yang begitu masuk di rekening payroll dia transfer langsung semuanya ke tabungan jalan-jalannya.

Saat itu gue ikut deg-degan juga. Mikirnya, kalau nanti gue dapet visa ya masa gue jalan-jalan sendiri. Nanya sana-sini soal aplikasi visa UK yang ditolak, browsing di internet juga minim banget informasinya. Untungnya yaa, ada Kakak Kenny - Kartu Pos (IG: @kartuposinsta) yang baik banget ditanyain soal info ini itu. Dari dia lah akhirnya kami tau kalau visa UK ditolak maka applicant boleh meng-apply visa lagi tanpa perlu menunggu jeda waktu tertentu. 

Jadi diputuskan lah bawa Ena akan apply ulang visa UK (dan tentunya bayar ulang pulaaak...). Semua dokumen disiapin lagi selengkap-lengkapnya. Dia sampe bikin surat keterangan untuk dilampirin yang memberikan keterangan soal apa itu THR. 😁

Seminggu kemudian...

Aku dapat notifikasi lewat email dari VFS bahwa visa UK-nya udah bisa diambil. Dua hari kemudian aku datang. Sepanjang nunggu nomor antrian dipanggil dada ini dag dig dug melulu. Karena sudah tau bahwa visa yang ditolak pasti di dalam plastik pembungkus passport kita bakalan ada surat pemberitahuannya, maka hal yang aku lakukan pertama kali saat menerima amplop tersebut adalah menggesek plastik dokumennya untuk merasai ada kertas gak di dalamnya. Dan apa coba???

Iyaaak... Ada dong kertasnya. Gue rasanya saat itu kok ya nelangsa tapi pasrah. Haha...! Gak kaget lagi sih karena udah dengar kabar visa UK Ena yang ditolak juga. Jadi gue berpikir sama, yaudah gue bakal apply aja lagi.

Setelah terima amplopnya, walaupun udah tau ada kertas di dalamnya, untuk memastikan lagi, aku masuk ke toilet dan duduk di dalamnya cuma untuk buka itu amplop. (Kan malu yak masa buka amplopnya di dalem VFS terus ntar orang-orang liat dong kalo visa gue ditolak). Abis baca surat penolakan visanya aku kirim Whatsapp ke Ena, "Visa gue juga ditolak dong." 😭😭😭

(Anak kembar nasibnya gini amat yaa, serupa.)

Alasan penolakannya kali ini beda, lebih beragam. Mungkin karena aku nulis pekerjaan di form aplikasi sebagai freelancer. Mulai dari yang bilang pemasukan yang gak jelas tiap bulannya, gak ada bukti bahwa sudah pernah melakukan perjalanan ke luar negeri sebelumnya (ini salah gue sih lupa kasih fotokopi isi passport lama), gak mencantumkan bukti pendapatan suami (padahal laki gue kan gak ikut perginya), sampe di state katanya biaya trip ini semacem lebih besar pasak daripada tiang, so deze gak satisfied. (Elaaaah... aku kudu piye supaya kamu satisfied, Maz?)

Dari penolakan ini aku belajar sih kalo soal apply visa itu emang bukan cuma perkara banyaknya duit di rekening. Tapi juga soal kelengkapan dokumen yang meyakinkan mereka. Karena kalo mau ngomongin soal jumlah uang, di rekening aku saat itu jumlahnya jauh banget dari kata cukup (sombooong 😝). Tapi untunglah aku anaknya gigih dan gak mudah menyerah, visa ditolak <strike>dukun bertindak</strike> ya apply lagi lah!

Emang sih apply visa baru means harus bayar lagi, double pengeluaran. Tapi yawis rapopo demi mengejar mimpi. Jadi dalam waktu sekitar 2 minggu berikutnya yang aku lakukan adalah mempersiapkan semua dokumen yang dianggap perlu untuk dilampirkan demi membuat mereka yakin dan percaya. 

Dokumen tambahannya sbb: 

- fotokopi semua halaman passport lama yang ada stamp dari negara-negara yang pernah dikunjungi (ini karena emang kelupaan sebelumnya)
- surat keterangan dari beberapa perusahaan yang selama ini bekerja sama dengan aku, yang menyatakan bahwa betul aku bekerja freelance di tempat mereka dan masih akan menggunakan jasaku untuk ke depannya. (Minta di-print di atas kop surat perusahaan, ditandatangani dan dicap basah)
- print tabungan payroll suami selama 6 bulan terakhir
- tagihan kartu kredit suami selama 6 bulan terakhir
- surat keterangan dari Ena sebagai orang yang pergi bareng untuk trip ini, bahwa dia bekerja dan memiliki gaji tetap dari perusahaannya dan dia menjamin sebagian pengeluaran aku di sana.
- print rekening payroll dan tabungan jalan-jalan Ena selama 6 bulan terakhir
- print tagihan kartu kredit Ena selama 6 bulan terakhir
- foto aku bersama anak-anak dan suami (biar yakin gue punya keluarga di sini dan pasti bakalan pulang). Ini perlu gak perlu sebetulnya, tapi dari hasil baca-baca beberapa blog orang, it works.
- surat keterangan yang berisi pernyataan mengenai beberapa point: menyatakan bahwa walaupun bekerja sebagai freelancer tapi saat itu aku juga bekerja sebagai karyawan tetap di satu perusahaan riset, which means aku punya dua pemasukan sebetulnya. Lalu aku pergi dengan saudara kandungku yang punya pekerjaan tetap di Jakarta, aku punya suami dan anak yang pasti membuatku akan pulang lagi ke Indonesia.
- dan pada print rekening koran selama 6 bulan terakhir, semua pemasukan dari perusahaan-perusahaan tempat aku bekerja sebagai freelancer juga aku stabilo-in biar mereka bisa liat secara jelas jumlah uang yang masuk tiap bulan.


Ribet yak? Mayaan. Tapi untuk mewujudkan mimpi emang perlu usaha, kadang ekstra.

Well, setelah aku masukin aplikasi lagi ke VFS untuk kedua kalinya, tinggal nunggu kabar dari mereka. Kalau aplikasi visa pertama less than a week aku udah bisa terima hasilnya (yhaa, walopun ditolak), yang kedua ini aku sampe senewen nungguinnya kok gak dapat-dapat kabar juga. Sementara tanggal keberangkatan semakin mepet. Dan Ena tentu saja sudah berhasil dapat visa UK nya. 

3 minggu kemudian...

Akhirnya masuk juga email notifikasi dari VFS, mengabarkan bahwa hasil visa UK aku udah bisa diambil. Dan tentu saja kalian udah bisa nebak kan hasilnya? 😎😎



London, I'm comiiiing....!!!






Thursday, March 30, 2017

Mudahnya Mengurus Perpanjangan Passport Sendiri

Pic from Pinterest


Because sharing is caring. Tulisan ini dibuat dengan niat semoga dapat membantu siapa pun yang butuh info untuk melakukan perpanjangan passport. Karena gue sendiri pun selalu dan sangat mengandalkan informasi dari internet dalam banyak hal. Dan pada akhirnya gue berharap semoga artikel ini bisa jadi amal jariyah buat gue (lah, pamrih).

Ok, let's start!

Passport gue sudah habis masa berlakunya sejak bulan Juni 2016. Dan karena sejak melahirkan anak pertama di tahun 2013 gue gak pernah melanglang buana lagi, jadi passport lama yang udah expired itu gue biarkan teronggok di dalam lemari. Kemudian tahun ini karena ada rencana untuk kembali berpetualang ke negeri orang, maka mau gak mau perpanjangan passport pun harus dilakukan. Passport pertama gue dulu dibuat dengan bantuan calo, dengan tarif 500.000. Seinget gue saat itu gue cuma dateng untuk foto dan wawancara, terus terima jadi.

Tapi sekarang gue niat banget ngurus perpanjangan passport sendiri, selain harga lebih murah, pelayanan online dari imigrasi pun sudah tersedia. Sisanya tinggal rajin browsing sana sini untuk cari tau soal dokumen yang diperlukan dan bagaimana tahapannya.

Langkah pertama, siapkan semua dokumen yang diperlukan. Yaitu sebagai berikut:
1. Passport Lama
2. KTP
3. Kartu Keluarga
4. Akte Lahir.

That's all! Simple kan?!

Semua dokumen tadi difotokopi di atas kertas ukuran A4.

Perhatian!
- Untuk passport lama cukup difotokopi halaman depan dan terakhir saja.
- Fotokopi KTP di atas kertas A4, tidak boleh dipotong. Jadi fotokopi saja ukuran normal, tapi jangan dipotong kertasnya.
- Jika kalian tidak punya akte lahir, dokumen ini bisa diganti dengan ijazah atau Surat Nikah. Ijazah yang berlaku adalah ijazah yang tercantum nama orangtua kalian, dalam hal ini ijazah kuliah berarti gak berlaku karena gak ada nama orangtua. Kalau ijazah juga gak punya, entah emang gak pernah sekolah atau hanyut kebawa banjir, bisa pakai Surat Nikah. Tentu saja ini bagi yang sudah menikah. Kalau belum nikah ya pasrah aja, gak usah maksa minjem surat nikah orang lain hanya karena udah kebelet kawin. Ingat, jodoh di tangan Tuhan!
- Jika memakai Surat Nikah, cara fotokopinya pun sama dengan KTP. Jangan dipotong, tetap dalam ukuran kertas A4.

Setelah semua dokumen siap kalian tinggal pilih mau melakukan proses secara online melalui website www.imigrasi.go.id atau secara manual dengan walk-in ke kantor imigrasi.

Saya melakukan proses secara manual. Karena beberapa hari sebelum saya mau melakukan proses online muncul pengumuman dari pihak imigrasi yang menyatakan bahwa layanan online pembuatan passport untuk sementara tidak bisa dilakukan. Alasannya? Hal ini biar hanya Tuhan dan pihak imigrasi yang tau.

(Jika melakukan secara online, maka semua dokumen asli harus di scan. Karena saat melakukan proses tersebut kalian akan diminta untuk melampirkan dokumen tadi. Setelah selesai, tinggal menentukan jadwal interview dan foto. Kalian tetap harus datang ke kantor imigrasi dengan membawa semua dokumen asli dan fotokopinya. Antrian pemohon online dan walk-in dibedakan.)

Karena saya sudah sering dengar kabar bahwa layanan bikin passport di imigrasi itu antriannya bisa ngalahin antrian sembako di tahun 1998, maka berdasarkan beberapa blog yang saya baca, saya berangkat subuh dari rumah. Rumah saya di Salemba, dan memutuskan untuk datang ke kantor Imigrasi Jakarta Selatan yang berada di Mampang. Berangkat jam 5 subuh dengan Gojek, saya tiba di sana pukul 05.25, dan setibanya di sana hal yang pertama kali saya lakukan adalah melongo liat antrian. Langit masih gelap, angin masih dingin, dan maling pun baru mau pulang, tapi yang antri sudah ada sekitar 100 orang. Tapi karena saya orangnya ikhlas, pasrah dan hanya mampu bertawakal kepada Tuhan, maka dengan legowo saya ikut ngantri di sana.

Sekitar jam setengah 7 ada petugas yang mulai mengecek apakah ada di antara pemohon passport dalam antrian ini yang usianya sudah di atas 50 tahun atau membawa anak di bawah usia 2 tahun. Jika ada maka orang-orang tersebut akan dipersilahkan masuk lebih dulu, menunggu di dalam dan bisa dapat nomor antrian awal. Sementara yang lain ya terima nasib nunggu sampai jam 07.30.

Pukul 07.10 perlahan-lahan para pemohon ini dipersilahkan masuk naik ke lantai dua untuk mengambil nomor antrian, saat itu kalian harus siapkan semua dokumen asli di tangan kalian, terutama KTP. Akan ada petugas juga yang bakal teriak-teriak, berulang-ulang, "siapkan dokumen aslinya, pak, bu! KTP nya yang asli disiapkan!" (Nada teriakannya agak songong dan nyolot sih, jd mendingan lo kekepin tuh dokumen di tangan daripada pagi-pagi udah kena diomelin). Saat ambil nomor mereka akan tanya apakah mau e-passport atau passport biasa, karena nanti map yang diberikan akan berbeda. Yang e-passport ada stempel di depan map nya. Fyi, saya dapat nomor antrian 85. Huufftt...!

Setelah itu kalian harus mengisi data secara lengkap pada form yang ada di dalam map tersebut. Isinya HARUS MENGGUNAKAN PULPEN TINTA HITAM. Setelah selesai tinggal tunggu nomor kalian dipanggil. Jumlah loket di sini ada 10, jadi proses menunggunya gak terlalu lama menurut saya. (Saya sih nunggu sambil baca novel, mungkin karena itu jadi gak terlalu berasa lama).

Setelah nomor kalian dipanggil, silakan masuk untuk proses interview, diambil sidik jari, kemudian foto. Interviewnya hanya ditanya bikin passport mau pergi kemana? Mau ngapain? Sama palingan ditanya kalian kerja di mana. Begitu selesai kemudian kalian akan diberikan kertas untuk melakukan pembayaran di bank. Karena saya meminta passport biasa saja, maka harga yang harus saya bayar adalah RP 355.000 (untuk e-passport biayanya sekitar 600.000). Kalau sudah bayar kalian boleh pulang, dan kembali lagi untuk ambil passport di hari dan waktu yang telah ditentukan dengan membawa tanda bukti bayar dari bank tersebut.

Selesai! Mudah kan?


INFO & CATATAN PENTING!

1. Pembuatan passport sekarang bisa dilakukan dari kantor imigrasi mana pun, tidak perlu lagi mengikuti wilayah sesuai alamat KTP.

2. Jika kalian datang pagi-pagi, di Imigrasi Jakarta Selatan akan ada bapak petugas yang memandu kalian untuk mengisi form di dalam map tersebut. Jadi gak usah takut bingung. Saat saya di sana ada Pak Wagino (dugaan saya dia pimpinan di Imigrasi Jaksel) yang memandu pengisian form itu. Orangnya ramah sekali bahkan terkadang dia memandu sambil guyon. Dia menjelaskan sangaaaat detail. Dan ga perlu ragu kalau mau bertanya, beliau dengan senang hati menghampiri dan memberikan jawaban.

3. Di Imigrasi Jaksel tersedia tempat untuk fotokopi, jadi kalau kalian ada dokumen yang lupa atau salah bisa fotokopi ulang di sana. Tempat fotokopinya pun jual materai dan blanko surat-surat yang dibutuhkan sebagai tambahan dokumen, misalnya surat izin pembuatan passport untuk anak di bawah umur, surat keterangan kehilangan passport, dll.

4. Sekarang ada web (http://infoantrianpaspor.imigrasi.go.id) di mana kita bisa melihat secara real time nomor antrian yang sedang berlangsung di semua imigrasi di Jakarta. Ini berguna banget buat kalian yang dapat nomor antrian besar kemudian gak dapat tempat duduk di dalam, mendingan sih turun aja dulu nyari sarapan. Kalian bisa cek melalui web tersebut sudah nomor berapa yang dipanggil, jadi gak perlu takut terlewat.

Di web itu kita juga bisa melihat ada berapa banyak jumlah orang yang datang di tiap-tiap imigrasi. Imigrasi Jaksel selalu paling banyak dan Jakut paling sedikit. Saat saya di sana, pukul 08.00 sudah ada 460 pemohon passport yang datang, saat saya cek di Imigrasi Jakut pada waktu yang sama cuma ada 9 orang. Jomplang BGTZ.

5. Pembayaran biaya pembuatan/perpanjangan passport sekarang bisa dilakukan dari bank mana pun, tidak harus di BNI. Pembayaran bisa secara tunai melalui bank, lewat ATM, dan kabarnya di beberapa kantor imigrasi sudah menerima untuk pembayaran secara debit. Di lantai pertama Kantor Imigrasi Jakarta Selatan ada bank BRI dan tiga mesin ATM (Mandiri, BNI dan satu lagi saya lupa). Jadi selesai interview dan foto bisa langsung turun dan bayar di sana.

6. Proses pembuatan passport memakan waktu 3-5 hari kerja, sementara untuk e-passport 14 hari kerja.

7. Pengambilan passport diberikan waktu hingga 30 hari. Lewat 30 hari jika passport kalian tidak juga diambil maka passport akan dipotong oleh pihak imigrasi.

8. Pengambilan passport bisa diwakilkan dengan membawa surat kuasa di atas materai 6000 dan KTP asli pemohon passport. Jika yang mewakilkan masih berada dalam satu Kartu Keluarga yang sama dengan kita, tidak perlu membawa surat kuasa, cukup bawa KK dan KTP asli pemohon dan penerima kuasa.

9. Saran saya ada baiknya kalian datang pagi-pagi supaya masih bisa dapat nomor antrian awal, kalau perlu datanglah ke kantor imigrasi yang biasanya sepi pemohon, seperti imigrasi jakut dan jakbar.

10. Semua proses yang saya jalanin itu, tiba jam 05.25 dan selesai tepat di pukul 10.30 (2 jam pertama cuma dipakai untuk ngantri sampe imigrasinya buka).






Monday, November 28, 2016

Tentang Rindu

Ada yang selalu dikenang dari tahun-tahun yang telah berlalu.
Dan ini tentang rindu...


Entah sudah berapa lama saya tidak lagi pernah duduk berjam-jam termangu di depan layar komputer, merenungkan hidup dan perjalanan, merasai cinta yang hilir mudik di hati dan membuatnya berdegup lebih kencang, lalu menuliskan kisah-kisah tentangnya. Entah sudah berapa lama hidup berjalan begitu saja tanpa lagi dirasa-rasai gairahnya. Entahlah...

Tiap kali membuka blog ini, tiap kali itu juga saya merasa terseret dalam pusaran lorong waktu yang membawa saya kembali pada kenangan di tahun-tahun silam, tahun-tahun ketika begitu banyak orang yang datang dan membawa kisahnya masing-masing, pembicaraan-pembicaraan panjang tengah malam, serta kehidupan dan gegas-gesanya yang selalu hadir di tiap pagi.

Katakanlah, mungkin saya merasa jenuh.
Mungkin juga sepi.
Atau rindu.


pic from here









Friday, August 12, 2016

Cahaya Pagi

Selalu, yang terkenang darimu
Adalah cahaya pagi
Ketika pijar pertama dan embun
Berkilau karenanya
Bahkan di sudut waktu yang muram
Oleh lembab udara yang kesal
Yang terkenang darimu adalah
Cahaya pagi



25 July 2016

Menenun Ingatan

apa yang tersisa sepeninggal kita adalah rasa yang menjadi usang
dan dinding waktu yang beku. waktu kita sampai di sini.

lalu kau dan aku sama-sama merapihkan buku, menyusun serak-serak lembar kenangan
yang padanya kita titipkan semacam harapan.

hingga sampai suatu waktu, kelak kita diserang rindu dan kita akan mulai memintal dari lembar usang berdebu itu, menenum ingatan, tentang rasa yang t'lah dilupakan

dan kelak pula saat itu kita kembali saling menyalahkan
siapa yang lebih dahulu meninggalkan.


Jakarta, 26 Juni 2014

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails