Friday, April 29, 2011

Sebuah Perjalanan

apa yang kau ingat di belakang
setelah jejakmu satu-satu menghilang
dalam sebuah perjalanan
tubuh yang lunglai atau jiwa
yang berbahagia

sementara kesunyian terus begini
apa lagi yang kau mau
semoga jalan tak sesat
dan kau masih ingat pulang



Jakarta, 29 April, 2011

Wednesday, April 27, 2011

Buku-Buku Kuartal Pertama

Mengutip dari salah satu cerita dalam Hanya Salju dan Pisau Batu, "membaca dan menulis adalah segala-galanya bagiku. Tanpa kedua hal tersebut, barangkali aku mati." Kegemaran saya membaca buku berpengaruh besar pada hobby menulis saya. Kedua hal tersebut jelas tak terpisahkan. Sulit rasanya menulis ketika sedang malas membaca.

Masuk awal tahun ini saya semacam membuat perjanjian dengan diri saya sendiri. Saya harus lebih sering membaca buku. Mengingat pada tahun 2010 rasanya jumlah buku yang saya baca sedikit sekali. Jadi sejak Januari lalu saya berkomitmen: (at least) Satu Buku Satu Bulan.

Ini sudah hampir akhir April, hampir selesai kuartal pertama dari tahun ini. Alhamdulillah, target satu buku satu bulan saya selalu terlewati. Means, setiap akhir bulan saya berhasil membaca lebih dari satu buku. Saya tidak punya ketentuan khusus tentang buku-buku apa saja yang harus saya baca. Awal tahun ini saya hanya sadar bahwa di rak buku saya masih tersusun beberapa buku yang sudah saya beli tapi belum pernah dibaca sama sekali. Jadi alasan itu pula yang menjadi pemicu utama saya membuat komitmen tadi. Rasanya seperti ada hutang yang harus segera dilunasi.

So, let's check it out, buku-buku apa saja yang sudah saya baca dalam empat bulan pertama dalam tahun 2011 ini. Susunannya saya buat seurut mungkin (lupa soalnya, hehe...).


Angin Timur Angin Barat dari Pearl S. Buck - Kisah cinta yang menyatukan dua manusia dari latar belakang budaya yang berbeda. Buku ini mengisahkan tokoh Kwei Lan, wanita yang dididik menurut adat-istiadat Cina kuno. Ia merasa begitu sulit menyesuaikan diri dengan suaminya yang modern dan berpendidikan Barat. Perbedaan yang begitu kuat ini menimbulkan masalah di dalam keluarga besar kedua belah pihak.


Sup Gibran dari Sapardi Djoko Damono - Kumpulan cerita pendek yang sebagian pernah terbit dalam Pengarang Telah Mati dan Membunuh Orang Gila, sebagian cerita belum pernah dibukukan.


Girl With A Pearl Earrings dari Tracy Chevalier - Berkisah tentang kehidupan seorang gadis muda yang jatuh cinta kepada majikannya yang seorang pelukis. Cerita yang berlatar belakang di Belanda abad pertengahan ini mengangkat kisah fiksi dari kehidupan pelukis Johannes Vermeer.


1 Perempuan 14 Laki-laki dari Djenar Maesa Ayu - Kumpulan cerita terbaru Djenar, berisi 14 cerpen yang ditulis duet oleh Djenar dan seorang laki-laki yang berbeda untuk setiap cerpen.


Kolam dari Sapardi Djoko Damono - Buku kumpulan puisi tebaru dari SDD.



Baby Proposal dari Dahlian & Gilda - Buku ini dikirimkan oleh Gagas Media sebagai hadiah kepada saya, karena salah satu puisi saya diterbitkan dalam website mereka. Cerita pop - mengenai kisah cinta romantis dan mengharukan tentang Karine dan Daniel. Pesan yang bisa diambil dari novel ini adalah bahwa perasaan cinta itu memang tak perlu suatu alasan ataupun beribu-ribu alasan bahwa kita mencintai seseorang. Memberi pelajaran pula bagi para pria bagaimana cara menghargai dan mencintai seorang wanita dengan tulus tanpa mengharapkan suatu imbalan apapun.


Asep Sambodja Menulis: Tentang Sastra Indonesia dan Pengarang Lekra - Sekumpulan esai yang pernah ditulis Alm. Asep Sambodja dan di publish dalam Facebook-nya. Belum tuntas saya baca, tinggal sedikiiiiittt lagi. :p



Bulan Celurit Api dari Benny Arnas - 13 cerita pendek dengan sentuhan lokal. Begitu kental adat budaya dari Lubuk Linggau, tanah kelahiran sang penulis, menjadikan cerita-cerita yang penuh dengan diksi lokal ini begitu unik dan nikmat.



Querida dari Novri Susan - Kumpulan puisi-puisi cinta yang begitu romantis ditulis oleh Novri Susan, seorang sosiolog dan pengajar di Universitas Airlangga, Surabaya.


The Little Prince dari Antoine de Saint Exupery - Buku cerita anak yang ditulis seorang pengarang Perancis. Walau buku ini terkenal sebagai bacaan anak namun kandungan nilai di dalamnya lebih banyak ditujukan untuk pembaca dewasa. Pesan-pesan yang sarat dengan makna kehidupan disampaikan melalui sudut pandang anak-anak oleh tokoh Pangeran Kecil.


Dengarlah Nyanyian Angin dari Haruki Murakami - Novel pertama Muraki mengisahkan "Aku" sebagai tokoh utama dengan jalan cerita yang datar nyaris tanpa klimaks. Mungkin sedikit membosankan namun kekuatan Murakami bagi saya dalam novel ini adalah selalu mampu menggambarkan tokoh-tokohnya dengan begitu baik, baik tokoh utama atau tokoh yang cuma sekelebatan. Boleh pembaca merasa  kesal, tidak puas, atau setidaknya, bertanya-tanya mengenai apa maksud dari novel tersebut, mengutip percakapan dalam novel ini, mungkin boleh saya bilang “Lantas apa artinya menulis novel yang isinya sudah diketahui semua orang?”
 

Perempuan Dalam Sajak - Antologi puisi yang ditulis oleh sembilan orang penyair perempuan. Tema dalam pusi ini tidak lain dan tidak bukan ialah mengenai sosok perempuan itu sendiri.


Aku Ini Binatang Jalang - Tidak mampu menemukan puisi-puisi Chairil dalam satu buku? Bacalah yang satu ini. Yang tercecer dalam Deru Campur Debu dan Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus, sedangkan sebagian lagi kita jumpai dalam Tiga Menguak Takdir dan Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45. Sajak-sajak yang terdapat dalam pelbagai buku itu sekarang disatukan dalam Aku Ini Binatang Jalang. Selain keseluruhan sajak-asli, dalam koleksi ini juga dimuat untuk pertama kalinya surat-surat Chairil - yang menggambarkan "keadaan jiwa"nya - kepada karibnya, H.B. Jassin.

Dan berikut yang masih dalam tahap sedang dibaca (karena belum selesai resensinya ala kadarnya yaa...) :

Kafka on The Shore dari Haruki Murakami - Istilah Odipus Complex membuat pengarang Jepang ini berhasil mengeksplorasinya ke dalam sebuah novel. Kafka on the Shore, menuturkan kisah pengembaraan anak lelaki berusia 15 tahun yang minggat dari rumah. Untuk menghapus jejaknya, bocah tersebut berganti nama menjadi Kafka Tamura.



 ***

Selama empat bulan rasanya cukup banyak buku yang saya baca namun masih harus ditingkatkan sedikit. Karena seringnya rencana pagi untuk membaca buku dalam perjalan ke kantor berubah arah menjadi  asik update Twitter dan Facebook atau chatting dengan beberapa teman, hehehe... 

Dan, tulisan ini saya buat setelah membaca salah satu cerita dari sebuah blog yang saya ikuti. Penulisnya yang bernama Eka menuliskan buku apa saja yang telah dia baca selama empat bulan pertama di tahun 2011 ini.Well, take this as my version. :)

Tuesday, April 26, 2011

Suara Angin

Sudah dua hari ia tidak menghubungiku. Mungkin sedang di luar kota. Ia begitu tertutup sehingga aku tidak pernah tau pasti apa yang sedang dilakukannya. Aku kembali merebahkan badan di kasur. Siang ini begitu terik. Tadinya aku berencana pergi ke toko buku, tapi udara di luar membuat niatku tak terlaksana. Aku pergi ke dapur untuk mengambil limun dingin dari kulkas. Lalu menyalakan komputer. Musik dari Richard Clayderman mengalun mengisi ruangan kosong di kamar ini. Aku teringat sebuah video clip-nya, sudah lama sekali rasanya, mungkin usiaku masih 11 tahun. Video itu menggambarkan Clayderman sedang bermain piano di bawah naungan pohon yang rimbun, di dekat sebuah kolam. Aku membayangkan video dan teringat ia.

Semalam aku sudah tidur saat ia mengirimkan pesan itu. Jadi aku baru membacanya saat terbangun subuh tadi.

"Rindu kamu, Ai."

***

Aku sedang sarapan sereal dan susu pisang pagi itu ketika dia tiba-tiba menelpon.

"Hallo."
"Hallo."
"Hallo?"
"Hallo."
"Hallo?"
"Hallo."
"Apa-apaan sih kamu?"
"Aku hanya ingin mengetes telingamu." Dia terkikik di seberang telepon itu.
"Ada apa?"
"Aku menginap di rumah seorang teman, di pinggiran kota. Urusanku belum selesai."
"Kapan urusanmu selesai kalau begitu?"
"Gak tahu."
"Hmm..."
"Anaknya sedang kugoda."
"Anak temanmu?"
"Iya."
"Bayi kan?"
"Hahaha."
"Apa rencanamu hari ini?"
"Belum tahu. Tidak perlu direncanakan, jalani saja."
"Hmm, begitu ya."
"Ya sudah. Aku meneleponmu hanya untuk memastikan kamu sudah bangun pagi ini, pemalas."
"Hei...."
"Aku hubungi lagi kamu nanti. Dah."
 
Dia memotong sebelum aku menyelesaikan kalimatku dan menutup teleponnya. Aku pergi ke kamar mandi untuk berendam setelah itu. Cuaca belakangan ini membuatku selalu malas kemana-mana, tetapi habis berendam aku memutuskan untuk ke Clay's. Di cafe itu aku meminum Margarita sebanyak mungkin sampai sore hari sambil membaca sebuah buku.


***

Dalam perjalanan pulang aku teringat suatu malam di sebuah musim panas yang menyenangkan. Dia memarkir mobilnya di tepi jembatan sebuah jalan layang. Saat itu sudah hampir pukul dua pagi. Di bawah jembatan itu mengalir sebuah sungai yang lebar. Di sebelahnya terbentang jalur kereta api listrik yang derunya selalu mengingatkanku pada masa lalu.

"Apa yang mau kita lakukan di sini?"
"Memandang bulan." Ia melipat tangannya diatas tepian jembatan itu lalu matanya menatap langit.
Aku juga melipat tanganku, menirunya. Lalu berdiri di sebelahnya sambil menatap langit. Malam itu purnama besar sekali. Bayang-bayang bulan bergoyang di permukaan sungai lebar itu.
"Kamu sering melakukan ini ya?"
"Tidak juga."
"Hei, tau tidak, memandang senja di jembatan ini selalu indah, lho. Aku sering melihatnya dari dalam bus. Selalu berpikir kapan aku bisa berhenti di jembatan ini untuk menikmatinya. Tapi malam ini yang kupandang bukan senja, melainkan lampu malam yang begitu besarnya. Tak kalah indah ternyata."
"Iya, memang indah." Ia berkata tanpa menolehkan wajahnya ke arahku.
"Jika memandang bulan siapa yang melintas dalam benakmu?"
"Entahlah."
"Kenapa sih kamu tidak bicara kalau belum ditanya?"
"Sudah kebiasaan mungkin." Kali ini dia menatapku.
"Menurutku itu kebiasaan yang buruk."
"Oh ya? Aku tidak tahu." Ia kemudian mengambil sebatang rokok dari sakunya dan menyalakannya.

Malam itu kami habiskan dengan makan pizza dan minum bergelas-gelas bir di sebuah kedai yang buka 24 jam, tidak jauh dari jembatan itu. Ia menghabiskan delapan batang rokok dalam waktu dua jam. Setelah itu aku hanya ingat dia mencium pipiku ketika mengantar pulang. 

***

Sejauh ini aku senang tinggal di kota ini meski sendiri. Kota kecil di dekat laut, sepi namun menyenangkan. Meski jika musim panas yang bisa kucium hanya bau asin air laut dan aspal terbakar saja. Jika kamu tinggal dekat dengan perkebunan buah, mungkin saat musim panen kamu bisa mencium wangi buah-buah yang ranum dan enak itu. Atau jika rumahmu dekat padang rumput saat musim panas kamu bisa bermain layang-layang dan memetik bunga-bunga rumput. Tapi musim panas di tepi pantai, bagiku hanya bisa berjemur saja. Sementara aku tidak terlalu suka menggelapkan kulitku. Memang bunyi ombak di malam hari bisa begitu indah dan menenangkan perasaan. Satu hal yang paling menjadi favoritku di musim panas adalah menulis di bawah payung besar di atas pasir-pasir pantai itu.

Di siang hari kadang aku membaca buku, pergi ke taman untuk duduk menulis puisi atau bertemu beberapa teman di sebuah cafe. Berbicara tentang masa saat kami di universitas dulu. Kamu tau, masa-masa itu selalu menyenangkan untuk diingat bagi orang yang menjadi dewasa dalam kesepian. Para orang tua dan banyak orang lainnya sering mengatakan ketika kamu lepas dari univeristas maka itulah dunia sesungguhnya yang perlu dihadapi. Karena perlahan semua orang akan menjauh. Lalu kamu hanya sendiri sesungguhnya. Dan maka pikirku, menjadi kanak dalam diri tak ubahnya seperti menyadari hadirnya sosok ibu setiap saat.

*** 

"Hallo."
"Hai."
"Sudah pulang?"
"Sudah."
"Sudah makan?"
"Belum."
"Kamu suka iga bakar?"
"Suka."
"Kalau begitu temui aku di sini dalam waktu satu jam. Aku tunggu!"
"Hei..."
"Aku tidak mau menunggu terlalu lama." Aku lalu menutup telepon.


Saat ia tiba aku baru saja selesai mengeluarkan kentang panggang dan brokoli dari dalam oven. Bau mentega yang terbakar di atas kentang yang merekah itu menyebar keseluruh ruangan dapur. Ia datang membawa sebotol anggur merah. Aku menyiapkan iga bakar dengan kentang dan brokoli itu di atas meja makan. Namun ia berkata, "Bolehkah kita makan sambil menonton TV saja?" Jadi aku menggeser sebuah meja kecil di depan sofa besar yang empuk dan meletakkan dua piring makan kami. di sana. Sementara itu ia menuangkan anggur merah ke dalam dua buah gelas. Kami menikmati makan malam sambil menonton Love In The Time of Cholera.


Aku bangun keesokan pagi dengan kegerahan di sekujur badan. Matahari sudah tinggi dan ia sudah tidak ada. Aku sendiri tidak ingat kapan ia pulang setelah makan malam kami yang hangat itu.

***

Sudah seminggu setelah malam itu aku tidak bertemu dengannya. Ia hanya beberapa kali mengirimkan pesan pendek di telepon setiap harinya namun selalu berhenti membalas setiap aku tanya ia ada dimana sekarang. "Aku akan menghubungimu setelah aku kembali," katanya. Jadi aku menghabiskan hari-hariku dengan pergi ke perpustakaan, membaca buku sampai sore, minum orange juice sambil memperhatikan orang bermain skateboard di taman kota, dan pergi ke pusat kebudayaan pada malam hari untuk melihat pertunjukan film gratis atau minum kopi sambil mendengarkan para pemuda bermain gitar dan latihan teater.

Aku merasa begitu sunyi belakangan ini. Segala hal yang aku lakukan seperti aku tidak pahami untuk apa. Meskipun pernah rasanya ada yang berbisik, suara angin yang berkata tak ada suatu yang sia-sia. Mungkin saat ini aku tidak memahaminya. Dan entah kapan pula aku mengerti. Tapi memang tak ada yang sia-sia.

***


Dua minggu kemudian dia kembali. Menelponku dan mengatakan ingin bertemu. Jadi siang itu sehabis selesai membaca novel yang sempat tertunda, aku menemuinya di sebuah coffee shop di tengah kota. Waktu aku keluar rumah cuaca masih begitu terik, tapi perlahan awan mendung ketika aku hampir tiba di sana. Ia sudah menunggu di dalam dengan segelas expresso. Aku menepuk bahunya dari belakang lantas duduk di hadapannya. Ia tersenyum. Senyum yang mengingatkanku pada sebuah senja di masa lalu.

Percakapan ringan terjadi antara kami dalam suasana yang dibasuh hujan deras siang itu. Menghabiskan makan siang kami lebih banyak dengan diam. Ia tidak bercerita banyak mengenai perjalanannya kemarin dan terkesan selalu menghindari pertanyaanku setiap aku ingin tahu sebetulnya apa yang ia lakukan dua minggu lalu. "Aku hanya sedang ada urusan sedikit diluar kota, agak memusingkan," katanya. Dengan seorang wanita, kataku dalam hati.
Kami pergi pantai setelah hujan reda hampir sore waktu itu. Berjalan dari coffee shop menuju pantai mungkin sekitar 30 menit. Ia berjalan dalam diam, tidak berbicara jika aku tidak bertanya, jika aku bercerita ia hanya tertawa atau tersenyum sambil sesekali melihat ke arah wajahku. Beberapa kali aku menangkap matanya sedang memandangku. Jika begitu ia segera memalingkan wajahnya dan menatap kebawah. Aku hanya tertawa. "Ai, kita berjalan begini dinikmati saja ya! Anggap seperti jalan-jalan saja. Maksudku ke pantai itu. Tidak perlu sampai di tujuan kan?!" katanya. Aku mengiyakan dan tersenyum kepadanya, meski tidak sepenuhnya memahami maksud perkataannya.

Kami berjalan di atas pasir yang basah oleh hujan tadi. Aku tidak suka pasir saat mereka basah, menempel di sela-sela jemarimu dan lengket. Rasanya tidak enak saat sesuatu yang kau tidak suka terus menempel dan mengikuti sepanjang langkah, kemana pun kau pergi. Aku duduk di tepian sebuah jembatan yang menjorok ke laut. Menggoyang-goyangkan kakiku ke air agar pasir-pasir itu pergi, namun bagaimana pun kerasnya aku mengibaskan kakiku, sebagian dari mereka tetap menempel tak mau lepas. Ia duduk di sebelahku.


"Kenapa kamu terus tertawa sepanjang perjalanan tadi? Mencurigakan."
"Apa yang mencurigakan?" tanyaku sambil tersenyum memandang wajahnya yang memerah.
"Kamu itu, membuatku curiga."
"Bukan apa-apa. Aku hanya merasa begitu bebas saja hari ini. Sudah lama sepertinya perasaan begini tidak pernah mampir lagi."
Ia terdiam, memadangi wajahku. Aku menghelakan napas yang panjang, memejamkan mata. Sesaat aku merasa lega namun kesepian itu merayap lagi.
"Tidak bisakah kita pulang?"
"Sekarang?"
Aku tidak menjawabnya. Aku masih ingin dia ada di sebelahku, duduk dan bercerita. Namun mendadak perasaan itu muncul lagi.
"Kamu akan pergi lagi kah?"
"Iya, sepertinya begitu."
"Aku pasti akan merasa kesepian jika tidak ada kamu." Aku memandang kilau laut yang dikecup senja. Kosong. Dan aku merasa kesedihan tumbuh dari bawah kakiku. "Aku takut," kataku kepadanya.
"Apa yang kau takutkan?"
"Segalanya."

Dengan jemarinya ia mengusap airmataku yang terasa dingin di sudut mata akibat hembusan angin sore itu. Mendekapku. Saat lengannya menyentuh bahuku, seketika aku merasakan kehangatan yang berbeda. Rasa nyaman yang sudah lama menghilang. Ia mendekapku dalam diam. Dan aku menangis. Senja sore itu rasanya hangat sekali dan begitu indah. 

***


Di suatu hari yang bermandikan mentari aku duduk di sebuah taman. Angin sepoi-sepoi dan rumpun bambu di dekat kolam itu bergemerisik. Aku mendengarkan suara angin. Aku tidak tahu apakah ini yang disebut bahagia, tapi perasaanku jauh lebih baik dari beberapa bulan lalu. Aku bisa bernapas dengan lega dan merasa begitu bebas. Dan dari semua itu, aku yakin bahwa segala tiada yang sia-sia, seperti halnya juga mencintai.

Pikiranku melayang pada kejadian di pantai sore itu. Ketika ia mendekapku dalam hangat yang sama seperti sore ini. Sudah hampir delapan bulan berlalu dan aku tidak pernah lagi mendengar kabarnya. Ia pergi beberapa hari setelah sore yang kami habiskan bersama. Aku hanya menemukan sepucuk surat yang diselipkan dibawah pintu apartmentku.

"Ketika aku pergi, semua pun akan baik-baik saja dan apa yang terjadi pada hidupmu tiada yang 'kan sia-sia."

 

* Terinspirasi dari "Dengarlah Nyanyian Angin" by Murakami.












Monday, April 25, 2011

Kafka On The Shore

"Dalam perjalanan, seorang teman, dalam hidup, sayang."

...bahwa perjumpaan yang tidak disengajalah yang membuat kita terus maju.

"Bahkan pertemuan yang tak disangka-sangka adalah karena karma."

Bahwa peristiwa yang terjadi dalam hidup ditentukan oleh kehidupan kita sebelumnya. Bahkan dalam peristiwa kecil sekalipun tidak ada yang terjadi karena kebetulan.

Berapa Lama Lagi Kutunggu Kau

berapa lama lagi kutunggu kau
membiarkan rasaku tetap mengambang
tanpa pernah kau dekap, kau ikat
jadikan tawanan



Bekasi, 23 April 2011


Friday, April 22, 2011

Menunggumu

telah kuikatkan serakit mimpi pada layang-layangmu
angan kemudian terbang, berharap bahwa di tempat yang tinggi bermukim bahagia
sesaat kita hinggap di pelangi,
mewarnai rupa hidup, menjangkau langit lebih tinggi
tapi siapa pernah tahu kemana angin ingin pulang

lalu menunggumu laksana kesia-siaan godot*
mematung waktu tak berdetik
aku sesat dalam bimbang rasa dan nyata yang beda arah
kemana ingin harus berpulang
sementara padamu asa tak kunjung tiba

kulepaskan benang
terbanglah kau, terbang...


Bekasi, 22 April 2011

* Dari puisi Ranang Aji SP - "Membelah"

Thursday, April 21, 2011

Hidup

hidup adalah kebebasan dan buku-buku.
itu saja. cukup


20 April 2011

Wednesday, April 20, 2011

Rintik

seperti rintik hujan yang tak henti pagi ini,
begitu jua cintaku padamu.

Tuesday, April 19, 2011

Rindu Semalam

Selamat pagi. Ada rindu yang dikirimkan semalam. Namun tak berbalas. Anggap saja seperti hujan yang turun dengan suka rela, ya.

Monday, April 18, 2011

A Gift (2)


Buku ini diantar pagi ini ke kantor saya. Ditujukan untuk saya. Tanpa nama pengirim. Kurirnya langsung datang dari sebuah nama tempat penjualan buku. Dia pun gak tahu siapa yang mengirimkan paket ini untuk saya. ???

Sunday, April 17, 2011

Donna Donna

On a waggon bound for market
there`s a calf with a mournful eye.
High above him there`s a swallow,
winging swiftly through the sky


How the winds are laughing, they laugh with all their might
Laugh and laugh the whole day through,
mand half the summer`s night.


Donna, Donna, Donna, Donna Donna, Donna, Donna, Don. Donna, Donna, Donna, Donna
Donna, Donna, Donna,


Don."Stop complaining!“ said the farmer,
Who told you a calf to be ?
Why don`t you have wings to fly with,like the swallow so proud and free?


Calves are easily bound and slaughtered,
never knowing the reason why.
But whoever treasures freedom,
like the swallow has learned to fly

Khianat

Seperti dulu kau mengenalkan
Dengan cara-cara sederhana
Dan juga seperti ia sekarang
Didekatkan dengan cara serupa
Menyakitkan

Kau tahu itu?



Bekasi, 17 April 2011

Saturday, April 16, 2011

Karma*

Bayang bayang bulan dalam kolam
Sentuh malam terus tuk bergumam
Citra mana mempesona
Langit depan mata
Hembus angin air pun bergoyang
Bulan kolam hancur berkeping keping
Atas tetap benderang
Indah dan cemerlang


Karma manusia tak kan hilang jiwa
Meninggalkan raga
Walau bayang terhapus musnah pupus
Ditelan masa
Karma manusia tetap tersirat
Jejak langkahnya
Walau sampai di akhir hayat
Pala selalu kan terbawa


Bayang bayang bulan dalam kolam
Lukiskan lingkaran jiwa karma
Tiada karma terhindarkan
Pala ganjaran Tuhan



----------------------------------------

*Lirik dari Putu Wijaya. Terdapat dalam album "Nyanyian Dharma" - Album Rohani Hindu Dewa Budjana. Dinyanyikan oleh Trie Utami. Tembang ini juga dibawakan Soimah Pancawati dan Sudjiwo Tedjo pada acara Konser Koin Sastra di Bentara Budaya (13/4).

Friday, April 15, 2011

Konser Koin Sastra: Bukti Nyata Para Pecinta dan Peduli Sastra

"Yang membedakan manusia dengan binatang adalah manusia membaca buku, sementara binatang tidak. Manusia yang bermartabat adalah manusia yang membaca buku sastra. Dan manusia yang memusnahkan sastra adalah  yang seperti binatang.



Kurang lebih begitulah kata-kata Hari Rusli yang disampaikan Mayong Suryo Laksono pada Konser Koin Sastra yang sukses digelar semalam di Bentara Budaya Jakarta (13/4). Mayong beserta Faby Febiola menjadi pembawa acara dalam acara Konser Koin Sastra yang diselenggarakan untuk menggalang dana untuk Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Pusat dokumentasi yang memiliki "harta sastra" terlengkap se-Asia Tenggara ini terancam tutup setelah dikeluarkan SK yang ditandatangani oleh Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo  yang menyatakan bahwa Pemprov DKI Jakarta hanya akan memberikan dana bantuan untuk pengelolaan PDS HB Jassin sebesar Rp 50 juta per tahun. Jumlah dana yang diberikan Pemprov DKI makin berkurang setiap tahunnya, tahun ini ialah yang terparah. Hal inilah yang menggerakan hati para pecinta dan peduli sastra untuk menggalang dana untuk PDS HB Jassin atas nama #Koinsastra.

Konser Koin Sastra semalam dimeriahkan oleh lebih dari 20 artis dan seniman tanah air. Para pengisi acara tersebut adalah Dewa Budjana, Dwiki Dharmawan, Piyu Padi, Ari Malibu, Reda Gaudiamo, Djenar Maesa Ayu, Jose Rizal Manua, Sudjiwo Tedjo, Garin Nugroho, Hanna Fransisca, Cok Sawitri,  Ananda Sukarlan, Soimah Pancawati, Inayah Wahid, Gunawan Maryanto, Saras Dewi, Ayu Laksmi, Maya Hasan, Band Kotak, Efek Rumah Kaca, Float, dll. Malam itu pula diluncurkan sebuah buku kumpulan cerpen "Dari Datuk Ke Sakura Emas" yang ditulis oleh 14 penulis dimana seluruh hasil royalti penjualan buku ini akan disumbangkan untuk PDS HB Jassin.

***

Saya akhrinya datang cuma dengan Mbak Novi (plus si Mas-nya). Jajang & Mba Ai, Iboy,dan Gema yang sebelumnya janjian dengan saya gak jadi ikutan datang ke Konser Koin Sastra. Dari kantor saya berangkat sendiri modal nekat dengan supir taxi yang juga ga tau jalan. Saya sudah lama sekali gak ke komplek Gramedia Kompas sana, jadi lupaaa.... 

Saya tepat tiba jam setengah delapan malam dan suasana di sana sudah ramai sekali. Mbak Novi tiba setelah kira-kira 20 menit setelah saya sampai. Kami langsung ambil posisi di depan panggung, lesehan. Acara dibuka oleh Putu Fajar Archana selaku ketua pelaksana dan dilanjutkan oleh sambutan dari Ajip Rosidi dan Pimpinan Redaksi Harian Kompas.

Konser langsung terasa meriah ketika Reda Gaudiamo dan Ari Malibu sebagai pembuka menyanyikan "Gadis Peminta-minta", "Gadis Kecil" dan "Aku Ingin" -- musikalisasi puisi Toto Bachtiar dan Sapardi Djoko Damono.-- Garin Nugroho turut berkolaborasi membacakan pesan-pesannya saat Ari-Reda menyanyikan "Aku Ingin" (lagu ini pernah dipakai sebagai soundtrack film Cinta Sepotong Roti yang disutradarai Garin tahun 1990). Selain itu, penampilan paling seru bagi saya adalah ketika dalang edan, Sudjiwo Tedjo tampil bersama Soimah Pancawati diiringi oleh Dewa Budjana dan Dwiki Dharmawan, juga ketika Cok Sawitri berkolaborasi dengan Ayu Laksmi, Maya Hasan, dan penari asal Bali, I Wayan Sura dalam membawakan beberapa lagu dan sajak.

Rencana awalnya saya dan Mbak Novi tidak ingin pulang terlalu malam. Kami berencana pulang sekitar jam sepuluh, acaranya kan dimulai dari jam setengah delapan, cukuplah saya kira menyaksikan Konser Koin Sastra ini dalam waktu dua jam setengah. Karena besok pun saya masih harus kerja pagi begitu juga Mbak Novi. Tapi niatan itu gagal total. Jam 12 malam kami baru keluar dari Konser yang belum juga selesai itu. Pulang searah dengan Mbak Novi ke Rawamangun, saya tiba di rumah tepat jam satu pagi.

***

Dari Konser Koin Sastra semalam menunjukan dengan begitu jelas bahwa masih begitu banyak orang yang peduli atas keberlangsungan nasib Sastra Indonesia khususnya PDS HB Jassin. Konser dihadiri oleh ratusan orang, begitu ramai, dan begitu penuh cinta saya rasa. Gerakan yang lahir atas kepedulian berbagai pihak, yang awalnya hanya ramai diperbincangkan di jaringan Twitter dan Facebook saja, bisa menjadi sebuah bukti cinta yang ril. Seperti yang disampaikan oleh seorang penyair dari Bandung, Ahda Imran, yang  juga menjadi salah satu pengisi acara dari Konser Koin Sastra semalam, "Saya di sini hanya bisa membacakan puisi, tapi setidaknya ini adalah bukti kepedulian saya yang nyata terhadap PDS HB Jassin. Cinta yang nyata, bukan sekedar janji."

Dana yang terkumpul semalam dari Konser Koin Sastra sebesar Rp 172.732.665, padahal konser hanya terselenggara dalam waktu beberapa jam namun jumlah dana yang didapat lebih besar daripada yang diberikan Pemprov DKI Jakarta untuk jangka waktu setahun. Sementara Gubernur Metropolitan kita yang terhormat, Fauzi Bowo, telah menjanjikan akan memberikan dana Rp 1 milliar setiap tahunnya untuk PDS HB Jassin, kita tunggu saja bukti nyatanya. Namun saya kok sangsi.


Penampilan Sudjiwo Tedjo dan Soimah Pancawati

Dalang Edan diiringi Dewa Budjana dan Dwiki Dharmawan

Djenar Maesa Ayu membacakan cerpennya "Cat Hitam Berjari Enam"

Sambutan dari Ajip Rosidi, Ketua Dewan Pembina Yayasan PDS HB Jassin

Feby Febiola feat. Mayong Suryo Laksono sebagai MC
Garin Nugroho berkolaborasi dengan Reda Gaudiamo & Ari Malibu





Cok Sawitri, Ayu Laksmi & I Wayan Sura

Jose Rizal Manua

Penampilan Saras Dewi dengan suami menyanyikan "Kupu-kupu Barong"


Foto dari sini

Thursday, April 14, 2011

Lembayung Bali

Menatap lembayung di langit Bali
dan kusadari betapa berharga kenanganmu
Di kala jiwaku tak terbatas
bebas berandai memulang waktu

Hingga masih bisa kuraih dirimu
sosok yang mengisi kehampaan kalbuku
Bilakah diriku berucap maaf
masa yang tlah kuingkari dan meninggalkanmu
oh cinta

Teman yang terhanyut arus waktu
mekar mendewasa
masih kusimpan suara tawa kita
kembalilah sahabat lawasku
semarakkan keheningan lubuk

Hingga masih bisa kurangkul kalian
sosok yang mengaliri cawan hidupku
Bilakah kita menangis bersama
tegar melawan tempaan semangatmu itu
oh jingga

Hingga masih bisa kujangkau cahaya
senyum yang menyalakan hasrat diriku
Bilakah kuhentikan pasir waktu
tak terbangun dari khayal keajaiban ini
oh mimpi

Andai ada satu cara
tuk kembali menatap agung surya-Mu
Lembayung Bali

Wednesday, April 13, 2011

Negeri Di Awan

Di bayang wajahmu
Kutemukan kasih dan hidup
Yang lama lelah aku cari
Dimasa lalu

Kau datang padaku
Kau tawarkan hati nan lugu
Selalu mencoba mengerti
Hasrat dalam diri

Kau mainkan untukku
Sebuah lagu tentang negeri di awan
Dimana kedamaian menjadi istananya
Dan kini tengah kaubawa
Aku menuju kesana

Ternyata hatimu
Penuh dengan bahasa kasih
Yang terungkapkan dengan pasti
Dalam suka dan sedih

-------------------------------------------------------------------------------
lagi suka putar lagu ini pagi-pagi....

Tuesday, April 12, 2011

Dua Perempuan Hujan

Kamu pernah bertanya kenapa engkau dikirimi dua Perempuan Hujan dalam hidupmu. Dua Perempuan Hujan yang juga Perempuan Bulan Mei. Aku sendiri tidak tahu jawabannya. Kamu saja hadir begitu rahasia. Kenapa butuh penjelasan? Anggap saja Perempuan Hujan yang pertama datang dengan sebuah isyarat, yang kau baca perlahan-lahan, lalu Perempuan Hujan kedua dikirmkan penuh tanda tanya, tanpa bisa kau baca.

Kamu pernah bilang kata-kataku tajam, langsung ke ulu hati, khas Perempuan Hujan. Aku kan marah waktu itu, jelas begitu. Bertambah geram saat kamu bilang "khas Perempuan Hujan." Perempuan Hujan yang mana? Dia? Aku tidak mau disamakan. Aku kan bilang, aku to the point, straightforward, memang waktu itu aku tidak suka sikapmu dan tidak bersimpati akan itu. Dia begitu juga ya? Nampaknya kurang lebih, kukira. 

Tapi kan case saat itu berbeda. Jangan disamakan kalau begitu. Dua Perempuan Hujan yang  kau kenal, yang sama-sama Perempuan Bulan Mei juga itu jelas beda haluan. Nasib saja yang membawa kisahmu kepadanya. Harusnya tetap berbeda cerita.

Monday, April 11, 2011

Two Days In A Row - Weekend at TIM

Kemarin ibu saya tanya, “sekarang seringnya main di TIM ya, Kak?” Saya asal jawab saja, “iya, nyari seniman.” Hahaha…!


Rasanya sih gak sering-sering banget saya main ke TIM belakangan ini. Cuma kebetulan saja mungkin. Saya yang sedang malas main ke Mall kalau weekend, sekarang memang mencoba mencari aktivitas lain yang gak perlu nemplok di Mall. Saya lagi senang lihat pertunjukan teater, pergi jalan-jalan ke museum dengan teman-teman walaupun cuma untuk foto-foto, nonton film (cari bioskop yang letaknya bukan di Mall), cari-cari buku di tempat jual buku bekas, ke perpustakaan atau ke kampus. Kalau dibilang kegiatan baru itu bersangkutan dengan TIM kayanya gak, kecuali tentang teater dan pencarian buku-buku. Pertanyaan itu terlontar mungkin karena dua hari berturut-turut saya pergi ke TIM, itu saja.


Jumat malam saya ke TIM, gak ada agenda yang pasti mau ngapain sebetulnya. Saya hanya janjian ketemu Mbak Novi. Hari Jumat di PDS HB Jassin, masih di komplek TIM, ada peluncuran buku Rieke Diah Pitaloka, “Sumpah Saripah”. Acara itu mulai jam empat sore, niatnya kalau acara itu berlangsung sampai malam saya mau datang. Kebetulan petang itu saya ada Company Dinner di Warung Daun, persis di depan TIM. Jadi sebetulnya hanya iseng saja cari kegiatan malam itu daripada langsung pulang ke rumah.  Karena akhirnya Mbak Novi juga datang ke TIM, selesai acara kantor saya ketemuan dia di sana. Sempat berpapasan dengan Pak Martin Aleida waktu kami mau masuk ke TIM, beliau bilang acara Rieke-nya sudah selesai, tapi masih ada yang main-main musik di bawah tangga PDS, masih dalam rangka peluncuran bukunya Rieke juga.

Tapi saya, Mbak Novi dan temannya (teman sih katanya, hehehe :D) milih nongkrong di dekat parkiran gerbang masuk TIM. Makan bakso malang di pinggir jalan samping TIM, kemudian duduk-duduk sambil cerita-cerita dan ngopi-ngopi di plataran gapura masuk TIM. Kalau malam banyak yang jualan kopi dan teh sambil gelar tikar. Banyak pengamen, bapak-bapak yang duduk-duduk sambil ngobrol, anak-anak muda (mungkin mahasiswa IKJ) yang main gitar sambil ngerokok, malam itu juga ada pengajian di parkiran (menjelang acara Kenduri Cinta), dll. Saya sering berkunjung malam hari ke TIM hanya untuk liat teater tapi tidak pernah sebelumnya nongkrong-nongkrong begini. Seru juga ternyata memperhatikan tingkah laku orang-orang di sana. (bahkan ada laki-laki gimbal yang sejak saya duduk di sana sampai mau pulang cuma asik merekam anjing kampung yang menggongong di dekat motornya dengan Handycam yang dia bawa).

Suasana malam hari di depan TIM
 
***

Sabtu siang saya janjian dengan beberapa teman di Rawamangun untuk menjenguk teman kuliah dulu yang sedang sakit. Selesai dari rumahnya kami pergi cari makan ke daerah Cikini. Karena tadinya Dabu ngajakin untuk nonton bintang di Planetarium. Kami makan di Es Teler 77 di Hotel Formule 1, persis disamping TIM. Selesai makan, saat kami ke TIM ternyata Planetariumnya tutup, gak jadi nonton bintang akhirnya. Terus mampir sebentar ke PDS HB Jassin, cuma nemenin Acit yang pengen liat wujudnya PDS katanya, karena hari Sabtu PDS tutup jadi cuma numpang melipir aja di sana, karena Acit minta difotoin di depan papan bertuliskan PDS HB Jassin (sigh…). Dari sana terus berlanjut ke Toko Buku Bengkel Deklamasi, masih di dalam komplek TIM juga. 


Toko buku itu letaknya dipojokan, sejajar dengan XXI dan Graha Bakti Budaya. Niat saya awalnya adalah mencari CD musikalisasi puisi “Nyanyian Laut” tapi ternyata gak ada juga. Pandangan saya saat masuk ke toko buku itu langsung tertuju pada seorang bapak tua yang sedang duduk di dalam, dengan tekun mengelem sampul-sampul buku yang terlepas. Saya berfikir terus sambil melihat –lihat buku, “Duh, itu bapak siapa ya namanya? Sepertinya gak asing mukanya.” Beberapa pigura terpasang di dalam toko, menampakkan sosok bapak yang sedang mengelem buku itu dengan beberapa orang. Yakinlah pikiran saya pasti dia seseorang yang punya nama. Tapi namanya tidak juga keluar-keluar dari otak saya. Lalu penjaga tokonya, lelaki berusia sekitar 40-an, mendekati saya dan tiba-tiba bertanya,

“Kamu yang main Ali Topan ya?”

“He? Bukan, Pak.” kata saya sambil ketawa.


“Ooh, bukan ya. Saya kira pemainnya. Mirip, hehe!”

“Iya, bukan. Hehe! Saya cuma lagi iseng aja ke main TIM.”
(setelah dibilang Mirip Ayu Utami sama Mbak Novi kemarin malam, siapa lagi ini yang bilang gw mirip pemain Ali Topan??? Mirip motornya kali ya?!)

“Mahasiswa ya?”

“Dari UI. Tapi udah lulus.”

“Oh, UI, iya, iya.”

“Pak, itu bapak yang di dalam siapa ya? Mukanya kaya pernah saya liat.” tanya saya spontan saja.”

“Oh, itu Bang Yos. Yang punya toko ini. Tuh, ada foto-fotonya. Kemarin teaternya baru menang di Jerman. Dia ngajar teater, dosen.”

“Oh, iya. Di IKJ kan?”

“Iya. Kamu jurusan apa di UI?”

“Sastra.”

“Wah, cocok tuh ngobrol sama Bang Yos. Sastra, kan?!”



Saya sudah tahu sejak lama ada toko buku di sana, tapi saya gak pernah tahu kalau toko buku itu ternyata miliknya Jose Rizal Manua. Geblek! Saya juga kenapa gak kenalin mukanya beliau itu ya?! Dia masih saja serius mengelemi sampul-sampul buku yang sudah copot itu. Waktu saya ngintip ke dalam, bapak yang tadi mengajak saya ngobrol nyeletuk lagi, “masuk aja, gak apa-apa.” Saya cuma nyengir sambil melipir masuk ke rak-rak buku di dalam. Karena saya gak dapat CD Musikalisasi “Nyanyian Laut” itu akhirnya saya cuma beli Murakami, “Dengarlah Nyanyian Angin.” Buku ini pernah direkomendasikan Mas Ia untuk saya baca.  


Selesai dari TIM, saya, Iboy, Dabu dan Acit memutuskan untuk pergi ke Djakarta Teater untuk nonton film terbarunya Hanung Bramantio, “Tanda Tanya”. Selesai dari nonton weekend kali ini diakhiri dengan makan di Burger King, Sarinah.

Foto Bang Yos yang saya ambil diam-diam, hehe...

Friday, April 8, 2011

A Gift

Pintu belakang rumah diketuk seorang tetangga -anak guru ngaji saya waktu SD dulu- ketika saya sedang makan. Saya baru saja sampai di rumah, pikir saya siapa sih malam-malam masih bertamu.


"Siapa ya? Sebentar."
"Ceu Apat, Kak."
"Kenapa ceu?" tanya saya waktu membuka pintu.
"Nih, ada kiriman buat kakak tadi siang."
"Oh, iya, makasih ya."


Bungkusan bersampul coklat itu hanya tertulis dari "Warung Seken Bogor." Ya, kalau tidak salah sih "Seren" tulisannya, tidak terlalu jelas terbaca. Tapi memang pada bungkusnya dituliskan kiriman itu untuk saya. Hmmm, Bogor? Saya sebetulnya bisa mengira itu kiriman datang dari siapa. Tapi saya belum sepenuh hati yakin sampai membukanya. Sebuah buku bersampul seperti bendera Jepang. Norwegian Wood-nya Murakami. Saya tahu pasti ini kiriman dari Gema.



Gema, salah satu kenalan saya yang tinggal di Semarang. Dulu saya pernah menuliskan cerita tentang Mbak Novi dan Mbak Ayu dalam blog ini, sosok Teman Maya, yang kenal awalnya hanya melalui internet (Komunitas Sastra, Milis, atau bahkan Facebook) namun intens berkomunikasi dengan saya. Begitu juga Gema. Saya kenal Gema rasanya kurang lebih setahun belakangan ini. Saya sering membaca tulisan-tulisannya di internet, kemudian rasanya lumayan sering nama saya di tag dalam notes di Facebook-nya, sering saling tukar komentar mengenai puisi-puisi. Saya cuma tahu Gema aktif menulis puisi dan giat dalam Open Mind Community, sebuah komunitas di Semarang yang sering mengadakan diskusi di Taman Budaya Raden Saleh untuk membahas karya sastra.

Saya mulai intens berkomunikasi dengan Gema sejak beberapa bulan lalu. Saya ingat waktu itu dia mengirimi saya sebuah pesan di Facebook, menanyakan apakah saya punya naskah untuk novel yang sudah jadi. Waktu itu jika ada, dia bilang seorang temannya sedang mencari naskah untuk diterbitkan, cerita semacam novel-novel Clara Ng, katanya. Sayangnya, saya tidak menulis cerita untuk novel. 

Inilah yang sering saya bilang serunya memiliki teman-teman di dunia maya. Kadang, kalau teman-teman maya itu memang kebetulan memiliki kesenangan yang sama dengan kalian, nilai plusnya bagi saya adalah kalian bisa punya teman ngobrol tanpa rasa bosan, meski tidak saling kenal sebelumnya. Karena kalian sama-sama menyukai hal-hal yang serupa, resiko bosan pasti menjauh. Atau lebih plus lagi ya yang seperti ini, dapat "kado" gratis.


-----------------------------------------------------------
Pagi ini, saya juga dapat kiriman lagu musikalisasi puisinya 
Wiji Thukul dari Mbak Novi. Kado juga kan tuh?!


Untuk Keabadian

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah... Menulis adalah bekerja untuk keabadian. 

(Pramoedya Ananta Toer dalam Khotbah dari Jalan Hidup).

Thursday, April 7, 2011

Konser Koin Sastra

"We are volunteer to help in saving The PDS HB Jassin in Taman Ismail Marzuki, Jakarta."


Puncak acara dari Koin Sastra yang digelar untuk membantu PDS HB Jassin akan dilaksanakan minggu depan pada hari Rabu, 13 April 2011 pukul 19.30 di Bentara Budaya Jakarta. Sejumlah artis, penyair dan seniman akan turut menyemarakan acara ini. Diantaranya adalah Dewa Budjana, Ayu Laksmi, Soimah Pancawati, Sarasdewi, Ananda Sukarlan, Reda Gaudiamo, Djenar Maesa Ayu, Anji Drive, Gunawan Maryanto, Garin Nugroho, Sujiwo Tedjo dan Jose Rizal Manua.


Koin Sastra telah terselenggara dalam waktu hampir satu bulan belakangan ini dan diharapkan akan terus berjalan guna membantu PDS HB Jassin yang terancam tutup dikarenakan kurangnya anggaran dana yang diberikan Pemprov DKI Jakarta. Sampai saat ini Koin Sastra telah dilaksanakan oleh sejumlah mahasiswa dan kelompok masyarakat pecinta dan peduli seni, sastra dan budaya di Depok, Jakarta, Bali, Surabaya, Kendari, Bogor, Gorontalo, Semarang, Palembang, Malang, Bandung. Dan sejumlah kampus yang turut berperan aktif adalah Universitas Indonesia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Diponegoro Semarang, Universitas Udayana Denpasar.


Khrisna Pabichara, Ketua penggagas gerakan Koin Sastra di Jakarta sangat aktif mengabarkan mengenai Koin Sastra dan PDS HB Jassin melalui blog, Facebook, maupun Twitter-nya. Mengajak teman-teman mahasiswa, penyair, sastrawan dan dari kalangan mana pun untuk ikut peduli terhadap keberlangsungan PDS HB Jassin. Koin Sastra tidak semata-mata mengumpulkan dana untuk membantu menyambung hidup perpustakaan yang memiliki koleksi naskah dan buku terlengkap di Asia tersebut, namun Koin Sastra juga membentuk beberapa program. Tim penggagas Koin Sastra bekerja sama dengan kurang lebih 100 orang relawan untuk menditigalisasikan naskah-naskah di PDS HB Jassin. Berita terakhir yang saya sendiri dapat melalui Facebook-nya, Mas Khrisna mengatakan bahwa sudah terkumpul tujuh unit komputer, empat unit scanner dan dua printer hasil sumbangan dari para relawan. Total donasi dalam bentuk uang dan peralatan yang telah diterima Pengurus PDS HB Jassin jika dirupiahkan Rp 157.763.300. Pagi ini, masih juga pada Facebook-nya Mas Khrisna saya mendapat kabar bahwa penggalangan dana Koin Sastra yang digelar oleh Seniman dan Pengamen Senen di Pasar Senen kemarin siang berhasil terkumpul uang sebesar Rp. 401.000.

Dalam konser Koin Sastra yang akan berlangsung minggu depan, masih sangat diharapkan kontribusi dari berbagai pihak untuk membantu dan mendukung gerakan Koin Sastra ini demi keberlangsungan PDS HB Jassin. Silahkan datang ke Bentara Budaya Jakarta untuk menyaksikan acara ini. Tidak dipungut bayaran bagi setiap orang yang datang, namun dengan takzim Koin Sastra masih menunggu uluran tangan anda untuk memberikan donasi seikhlasnya. Bantuan juga bisa melalui rekening BCA 7770817564 & rekening Mandiri 131-00-0971505 atas nama Zeventina Octaviani. 


Sumbangkan "koin" anda untuk menunjukan kepedulian terhadap sastra dan budaya kita. Tak akan genap nilai jutaan rupiah jika kehilangan sebuah koin dalam bagiannya.


Aksi mahasiswa pada penggalangan dana Koin Sastra di depan Universitas Diponegoro Semarang

Wednesday, April 6, 2011

Kubiarkan Saja Kau Terbang

kubiarkan saja kau terbang
dengan anganmu yang banyak tak kepalang
resahku tak sanggup membuntuti jejakmu
mengambang-ngambang tak berumah

panglima tak kehabisan perang
genderang bertalu-talu
lantang saja berbaris paling depan
tak ada lelah hinggap di bahu

habis waktu menunggui tiap malam
kau yang terlambat pulang
atau tak berkabar
sementara gelisahku bergentayang
kau asik sendiri merajut rasa menang
tiada habisnya



Sepanjang perjalanan Matraman-Rawamangun, 6 April 2011
18:50

Rindu

Pagi, Tuhanku pencipta segala rasa, juga rindu. Semalaman seharian rasa melayang pada sang petualang. Apa kabarnya, wahai Tuhan Yang Maha Tahu? Adakah aku yang pertama di pelupuk matanya pagi ini? Atau ia terlelap masih. Sehingga selamat pagi yang biasa luput.

Manis madu suaranya malam itu. Angin yang sepoi membelai wajahku yang rona merah jambu. Malu juga rindu. Adakah ia tahu?

Duhai.
Apa gerangan dalam hati. Namanya saja yang berkumandang. Tapi belum selesai senyum kurakit, seperti layang-layang, ia sudah terbang. Putus ditangan yang abai menggenggam benang.


Jakarta, 6 April 2011
06:11


Monday, April 4, 2011

Indah Tentangmu

ketuk tak ada di pintu
tiba-tiba kamu
menjadi tamu

perlahan kamu setiap pagi
seperti mentari, mengintip dari jendela membangunkanku
atau sejak semalam menungguiku
rasanya mimpiku dihadiri kamu

jika saja kamu terbaring di sebelahku
sudah pasti kukecup keningmu
dan namamu yang pertama
diucap ketika pagi masih berbau mimpi

dan tersenyum
bibirmu yang merah delima
kucium, ya?



Bekasi, 3 April 2010



Partner In Fun

"Melakukan apa pun dengan seorang teman (atau lebih) selalu menyenangkan, setidaknya begitu bagiku."


Sedang menyadari sesuatu. Belakangan ini saya makin meminati menonton pertunjukan teater/drama musikal (pembacaan puisi dan diskusi buku juga sebetulnya). Melihat pertunjukan di atas panggung, melihat orang menjadi gila saat latihan, melihat foto-foto pertunjukan teater membuncah rasa semacam excited dalam diri saya. Entah bagaimana. Ini timbul sebagai kesenangan baru. Atau mungkin juga bisa dibilang sebagai alasan lain saya sedang mencoba mengganti rutinitas waktu luang kepada sesuatu yang lebih berasa seni, sastra, budaya dan beredukasi sekaligus.

Dulu saat masih di kuliah saya selalu senang jika ada pertunjukan teater di kampus. Kebetulan tidak jarang pula diadakan acara semacam itu. Sekarang karena pekerjaan membuat saya tidak semudah membalik telapak tangan untuk datang ke kampus hanya untuk menikmati hal-hal itu lagi.

Boleh dibilang pertunjukan drama musikal sedang in, naik daun, nge-trend, gaul, eksis, (halaaah...!) di Jakarta. Setelah Onrop dan Laskar Pelangi (yang dua-duanya gak bisa saya tonton) kemudian disusul Jakarta Love Riot dan yang akan datang segera bulan Mei ini, Ali Topan. Saya menyadari satu hal lagi. Kenapa setiap saya datang ke pertunjukan teater/drama musikal teman saya selalu sama ya?!

Seperti lagu The Sisters, Kamu, kamu, kamu lagi.... Yup, there she is, my partner in fun: Shanti Hapsari aka Santrut alias Neng Santo. Kalau pergi sama si eneng yang satu ini, meskipun cuma berdua rasanya seru-seru saja. Beberapa kali ada pementasan teater/drama musikal, saya seperti otomatis menghubungi Shanti untuk menemani nonton. Dan kok rasanya dia gak pernah menolak. Pun, dia senang "colek-colek" saya kalau lagi ada teater/drama musikal yang mau ditonton. Walaupun cuma berduaan tapi kami senang-senang saja.

Sejak akhir bulan February lalu, setiap hari Sabtu saya selalu ada "acara" dengan Shanti. Iya, sudah sebulan ini saya selalu menghabiskan dengan dia setiap Sabtu. Tepatnya, sejak saya putus. Shanti selalu ada menemani saat weekend saya. Mulai dari ke Bali, jalan-jalan ke museum, ke perpustakaan, ke kampus, cari-cari buku di pinggir rel kereta api, ke mall, kecuali weekend kemarin. Hanya dengan dia rasanya saya jadi begitu banyak bercerita.

Kembali pada pertunjukan-pertunjukan teater yang kami tonton berdua, saya jadi ingat waktu ada pertunjukan Petang Kreatif (pertunjukan teater dari setiap jurusan di FIB) di kampus saya beberapa bulan lalu, Shanti gak bisa datang dengan saya dan teman-teman lain ke kampus, meski waktu itu rasanya sudah saya paksa datang dech. Tapi anehnya pertunjukan-pertunjukan di luar kampus dia selalu ada disamping saya, setianya seperti seorang pacar, hahaha!

Dan ini adalah sejumlah pertunjukan teater/drama musikal yang saya dan Shanti telah tonton:

1. Limbuk Njaluk Married
Pementasan di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) yang digelar November 2010 lalu dipentaskan oleh Teater Bejana. Saya datang dengan Shanti ke sana karena teater ini karya seorang dosen kami, Asep Sambodja, yang waktu itu terbaring sakit karena sakit yang dideritanya. Pertunjukan ini sekaligus menggalang dana untuk beliau. Pak Asep berpulang ke rahmatullah tidak lebih dari sebulan setelah teater ini sukses diselenggarakan.

2. Sketsa Robot Ver. 2.0
Dimainkan oleh Teater Sastra UI, di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki pada bulan November 2010. Waktu itu tidak hanya berdua dengan Shanti. Tapi saya datang dengan Ena dan pacar (waktu itu statusnya masih pacar) dan Shanti datang dengan (ehem, batuk dulu aah...) Bang Havis (yang statusnya mantan sejak dulu, haha!). Salah dua pemainnya adalah Yudhi Soenarto dan Fadli Zon.

3. Jakarta Love Riot
Usaha mati-matian untuk dapat tiket pertunjukan ini. Saya menelpon tiket box tepat sehari setelah melihat wawancara beberapa pemain dan produser pertunjukan ini di sebuah statiun televisi swasta dan hasilnya tiket sudah hampir sold out. Dari beberapa hari pertunjukan, saya dan Shanti hanya punya satu tanggal yang sama untuk melihat JLR. Dua tiket di balkon, hanya itu yang tersisa, yang mau gak mau kami beli juga. Sempat tertukar dengan dua tempat duduk di kelas VIP dan duduk di sebelah laki-laki yang mirip Marty L (meski akhirnya di depak kembali ke balkon), saya menikmati sekali drama musikal yang dimainkan Eki Dance Company dan sejumlah artis ibukota di GKJ, Februari lalu.


Saya dan Shanti masih punya rencana untuk menonton beberapa pertunjukan teater/drama musikal ke depan. Beberapa diantaranya:


1. Ali Topan, drama musikal yang akan dimainkan di GBB, TIM bulan April ini. Saya sudah cek harga tiketnya. Mahalnya ruuaaarrrr biasaaaaa.... (Bahkan untuk balkon saja Rp 200.000)

2. MacBeth oleh ROAD Teater akan dipentaskan di GKJ bulan Mei mendatang. Saya sebetulnya sudah pernah melihat pertunjukan karya William Shakspeare ini di GBB tahun lalu, tapi dimainkan oleh Teater Sastra. Kali ini tidak menjadi prioritas.

3. Perempuan Pilihan Dewa, karya anak-anak Teater UI - teater yang sempat dipimpin Pak Asep. Saya sudah pesan tiga tiket untuk pertunjukan tanggal 7 Mei. Jajang juga akan ikutan nonton dengan kami nanti.

4. Drama musikal dari para mantan Abang dan None Jakarta, Sangkala 9/10. Akan main di Teater Besar, TIM di bulan Mei juga. Kinan, teman kuliah dan juga merupakan finalis None Jakarta Utara tahun 2007 akan main dalam pertunjukan ini.


Empat pertunjukan yang kalau semua dituruti lumayan menguras kantong, hehehe! Bagi yang mau ikutan nonton bareng kami, ikut seru-seruan, silahkaaan...

Di Graha Bakti Budaya, TIM, saat pementasan Sketsa Robot Ver. 2.0
-----------------------------------------------------------------
*tulisan iseng-iseng saat gak ada kerjaan di kantor.

Saturday, April 2, 2011

Jadi Bertanya

Di kalangan sastrawan dan penyair, setelah heboh tentang sms Taufiq Ismail yang mengusir, melarang, membungkam beberapa acara diskusi buku mengenai Lekra di PDS HB Jassin belum lama ini, kini muncul berita plagiat puisi yang dilakukan olehnya. Puisi karya Doughlas Malloch yang berjudul "Be The Best of Whatever You Are" dianggap dijiplak oleh Taufiq Ismail dalam puisinya yang berjudul "Kerendahan Hati." Saya kutipkan kedua puisi tersebut di bawah ini.


Be The Best of Whatever You Are
Oleh: Doughlas Malloch


If you can't be a pine on the top of the hill
Be a scrub in the valley--but be
The best little scrub by the side of the rill;
Be a bush if you can't be a tree.

If you can't be a bush be a bit of the grass,
And some highway some happier make;
If you can't be a muskie then just be a bass--
But the liveliest bass in the lake!

We can't all be captains, we've got to be crew,
There's something for all of us here.
There's big work to do and there's lesser to do,
And the task we must do is the near.

If you can't be a highway then just be a trail,
If you can't be the sun be a star;
It isn't by size that you win or you fail--
Be the best of whatever you are!


Kerendahan Hati
oleh: Taufik Ismail


Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten
tentu harus ada awak kapalnya….
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu….
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri


Setelah itu, muncul pernyataan Fadli Zon, keponakan Taufiq Ismail yang juga Ketua Ikatan Alumni (ILUNI) Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia (FIB UI) yang terkesan memberi pembelaan terhadap Taufiq Ismail yang membisu saja dihujat berbagai pertanyaan. Katanya, Itu bukan puisi Taufiq Ismail. Karena dalam puisi tersebut nama penulisnya adalah Taufik Ismail, pakai "k" bukannya "q", jadi itu bukan miliknya. Sementara dalam sebuah berita di internet, saya baca Taufiq mengatakan bahwa ia tidak mau berkomentar apa-apa. "Sedang saya pelajari dulu," katanya.

Saya jadi bertanya. Kalau "Kerendahan Hati" memang bukan miliknya, seperti yang dianggap Fadli Zon begitu setidaknya, kenapa Taufiq Ismail yang pakai "Q" bukannya "K" itu harus repot-repot mempelajari dulu?

Setelah "marah-marah" tentang diskusi Lekra di PDS HB Jassin dengan sms yang jauh dari santun kata-katanya, lalu plagiat puisi, apalagi yang hendak dicari TaufiqIsmail? Sensasi? Oh, sungguh. Gerangan apa dengan dirimu, Simbah?!


Jakarta, 3 April 2011

Suara Hati*

Tak kau dengarkah aku kecewa
Dan ingin melupamu sesekali
Aku menangis lagi malam ini
Tidakkah kau rasa
Hidup ini sangat gontai
Saat aku menyesali kerinduan padamu
Masih saja
Aku berusaha memegangmu
Mengingat rupamu dan sepotong suara
Mungkin ada saatnya
Aku duduk sendiri.... Dan kosong...


Jakarta, 3 April 2011




*Terinspirasi dari puisi Novri Susan - Antologi "Fragmen Hati" (I) VII


...kudengar kamu kecewa....
dan ingin melupakanku sesekali...
benarkah kamu menangis lagi malam ini...
rasanya...
hidup ini sangat gontai...
saat kamu menyesali kerinduanku... namun...
aku telah berusaha memegangmu...
memainkan rambutmu yang wangi dan lembiut...
mungkin ada saatnya...
aku duduk sendiri... dan kosong...


Surabaya, 7 Mei 2009

Tengah Malam

Malam makin larut
Kita makin sesat
Dalam pekat


Bekasi, 2 April 2011

Batu

Dalam diam
Merajut sakit
Tak berkesudahan



Jakarta, 1 April 2011

Friday, April 1, 2011

Cinta Bisu


          Jam di samping tempat tidur Niki menunjukkan pukul tujuh pagi. Ini hari Sabtu. Terlalu pagi biasanya untuk Niki bangun sepagi ini di akhir pekan. Tapi hari ini berbeda. Bahkan boleh dibilang sejak semalam ia tidak bisa tidur nyenyak.
            Sejak semalam pikirannya terpaku pada satu hal. Hari ini. Pernikahan Lisa akan berlangsung siang ini. Niki bahkan belum yakin apakah ia akan datang ke acara pernikahan itu atau tidak  pakaiannya sudah siap dan rapi tergantung di depan pintu lemarinya. Tapi masalahnya adalah apakah hatinya sudah betul-betul siap untuk menghadapi peristiwa siang ini.

            Lisa, sahabatnya sejak di SMP dulu. Semua kawan mereka dulu selalu bilang bahwa Niki dan Lisa adalah soulmate. Sepertinya tidak mungkin terpisah. Mereka sudah limabelas tahun bersahabat. Niki dari dulu selalu setia mendampingi Lisa. Kemanapun mereka selalu bersama. Saat SMA dan kuliah pun mereka menuntut ilmu di tempat yang sama. Tidak bisa dibilang sengaja, mungkin hanya kebetulan.
            Niki tak pernah mengeluh setiap Lisa datang kepadanya untuk bercerita tentang apa pun. Tentang pria-pria yang disukainya, atau hal lainnya. Walaupun sesungguhnya Niki paling tidak suka jika Lisa bercerita tentang semua pria-pria itu. Tapi bagaimana pun Niki selalu menjadi pendengar yang baik. Terkadang memberi nasihat layaknya seorang ibu kepada anaknya atau terkadang hanya diam membisu hanya mendengarkan.
            Hujan mengenal baik pohon, jalan, dan selokan. Begitu juga Niki. Limabelas tahun cukup bagi Niki untuk mengenal Lisa luar dalam. Tapi mungkin tidak bagi Lisa. Lisa tidak pernah benar-benar mengenal Niki. Ia tidak pernah benar-benar tahu apa yang Niki rasakan terhadapnya. Jika sayang Lisa kepada  Niki sebesar rasa sayang seorang sahabat sejati, maka berbeda bagi Niki. Cinta Niki kepada Lisa tidak seperti cinta kebanyakan. Cinta Niki untuk Lisa berbeda. Cinta yang tidak akan pernah ia ungkap. Cinta bisu.
            Hubungan Niki dengan Lisa sudah akrab sejak mereka kelas satu SMP. Mereka teman sebangku. Setiap istirahat mereka selalu pergi ke kantin bersama. Sebenarnya kemana pun mereka juga selalu bersama-sama. Begitu dekatnya mereka sampai-sampai kawan-kawan mereka sering meledeknya. “Kalian berdua itu sudah seperti orang pacaran saja. Kalau berduaan terus bagaimana bisa dapat pacar?” Mereka tidak pernah serius menanggapinya. Paling-paling hanya tertawa saja. Tapi siapa yang pernah tahu bahwa Niki dan Lisa tertawa untuk alasan yang berbeda.
            Saat SMA mereka tidak lagi sekelas. Tapi di saat istirahat dan pulang sekolah mereka tetap bersama-sama. Niki selalu menunggu Lisa pulang sekolah terlebih dahulu. Kalau sopir Lisa belum datang menjemput, Niki tidak pernah mau pulang duluan. Terkadang Lisa mengantar Niki sampai ke rumahnya. Walaupun sebenarnya arah rumah mereka berlawanan.
            Lisa sempat beberapa kali punya pacar di SMA. Niki tidak. Lisa tidak pernah menanyakan mengapa Niki tidak mau cari pacar. Atau mengapa Niki selalu menolak cinta setiap orang yang menyatakan cinta kepadanya. Bagi Niki ia hanya menunggu Lisa. Walau Niki tahu bahwa hal itu mustahil untuk mereka. Cinta Niki tetap terjaga dalam bisu.
Niki tidak pernah benar-benar suka dengan dengan pacar-pacar Lisa. Tentu saja ia tidak pernah mengatakannya. Bagi Niki pacar-pacar Lisa hanya mengurangi waktu mereka berdua. Walaupun sebenarnya mereka masih tetap bersama-sama. Mereka masih sering pergi ke mall hanya sekadar makan atau nonton film. Niki juga dengan rela hati menemani Lisa berbelanja. Lisa tahu Niki paling tidak suka diajak berbelanja tapi ia selalu minta ditemani Niki. Dan Niki tidak pernah menolaknya. Dibandingkan dengan pacar-pacarnya, Niki setidaknya memberikan masukan yang lebih baik tentang fashion. Pacar-pacar Lisa tidak ada yang pernah merasa cemburu.

            Saat kuliah mereka masuk di universitas yang sama. Satu fakultas dan satu jurusan pula. Niki tinggal di kosan saat kuliah dulu, sementara Lisa tetap pulang pergi diantar sopir. Terkadang jika memang ada kegiatan di kampus hingga malam, Niki memperbolehkan Lisa menginap di kamarnya. Walau sebenarnya ibu pemilik kos melarang membawa teman bermalam, tapi selalu ada cara untuk Lisa agar dapat tidur di kamar Niki. Sengaja pulang terlalu malam agar tidak ketahuan ibu kos --walaupun terpaksa harus memanjat pagar lewat bak sampah di samping tembok—atau sengaja bangun pagi-pagi sekali agar saat pulang sang ibu kos belum bangun.

            Masuk tahun ketiga mereka berkuliah, Lisa harus pindah ke Singapura. Ayahnya dipindahtugaskan di sana.

“Saya tidak tahu berapa lama, Nik. Mungkin hanya setahun atau mungkin lebih.”
Niki terdiam sesaat. “Apa kita akan terus bersahabat? Jika kamu tidak di sini lagi terus bagaimana dengan saya? Saya pasti akan sangat kesepian.”
“Kamu pikir memangnya tidak ada teknologi zaman sekarang ini? Kita kan masih chatting, sms-an, atau saling telepon. Saya tidak mungkin melupakan kamu, Nik.”

            Di hari keberangkatan Lisa, Niki mengantar sampai ke bandara. Niki tidak ragu-ragu menangis dan memeluk Lisa seerat mungkin. Ia tahu bahwa ia takkan sering bertemu Lisa lagi. Jadi mungkin ini kesempatannya.

“Kamu harus janji untuk terus menghubungi saya, ya!”
“Pasti. Kamu juga, ya!”
“Saya akan terus ada di sini, Lis. Jika libur pulanglah ke sini! Kamu bisa tinggal di rumah saya nanti jika kamu pulang.”
“Saya tahu, Nik. Terima kasih. Tapi tidak mungkin kan jika setiap saya pulang, saya tinggal terus bersama kamu. Bisa-bisa ibumu marah nanti.”
Niki dan Lisa tertawa. Sekali lagi karena alasan yang berbeda.

            Tidak ada yang bisa memungkiri bahwa akhirnya jarak akan membentangkan segalanya. Yang dekat menjadi jauh. Yang kuat menjadi rapuh. Yang rindu menjadi jenuh. Tapi bagi Niki yang bertahan tetaplah bertahan. Cintanya untuk Lisa.
            Di saat-saat Lisa tidak ada lagi, terkadang Niki menjadi terlalu rapuh untuk bertahan. Saat ia diwisuda Lisa tidak dapat datang. Mimpi awalnya untuk diwisuda bersama dengan Lisa pupus sudah. Ada satu hampa yang terasa karena Lisa tidak ada.

Sudah lima tahun…
            Lisa tinggal selama dua tahun di Singapura. Tahun berikutnya ia pindah ke Malaysia. Tiga tahun pertama Lisa masih sering pulang balik ke Indonesia saat ia libur. Juga masih sering telepon atau kirim email atau sms. Tapi kemudian tidak lagi. Sekarang ia bekerja di salah satu perusahaan di sana. “Sudah terlalu sibuk barangkali,” pikir Niki.

            Setahun yang lalu Lisa kembali ke Indonesia. Bersama ibu dan kedua adiknya. Ayahnya meninggal setahun yang lalu, karena seranggan jantung. Sebab itu ia kembali pulang ke tanah air. Ia berhenti dari pekerjaannya di sana. Dan sekarang sekembalinya ia ke tanah air, ia bekerja di salah satu perusahaan di Jakarta.
            Tidak ada yang menandingi gembiranya Niki saat Lisa mengabarinya bahwa ia akan kembali. Niki menjemput Lisa dan keluarganya di bandara. Mereka sekarang tinggal di apatemen. Rumahnya yang dulu sudah dijual saat mereka pindah ke Singapura.

            Tidak bisa dibohongi, waktu yang lama dan jarak yang jauh turut merenggangkan persahabatan mereka. Hidup mereka sekarang bukan lagi hidup remaja yang hanya senang-senang berbagi cerita. Senyum pun sekarang terlalu pribadi rasanya untuk dibagi. Niki dan Lisa hanya berusaha tetap menjaga limabelas tahun persahabatan mereka. Sekarang tetap ada ruang hampa di antara mereka berdua.
            Itu belum seberapa merentangkan persahabatan mereka. Belum, sampai lima bulan yang lalu. Hari itu Lisa datang ke rumah Niki.

“Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan kepada kamu, Nik. Kabar gembira,” kata Lisa sambil tersenyum. “Sejak saya pulang ke sini saya belum sempat ceritakan hal ini kepada kamu. Maaf, bukannya tidak mau tapi waktunya yang tidak ada. Saya akan menikah, Nik. Lima bulan lagi.”
“Apa? Kamu pasti bercanda, kan? Memangnya kamu punya pacar? Setahu saya kamu sudah lama tidak punya pacar.”
“Ya, saya tahu. Mungkin ini kabar yang terlalu mendadak bagi kamu, tapi sebenarnya saya sudah punya pacar sejak dua tahun yang lalu. Saya kenal dia di Malaysia. Dia juga orang Indonesia yang bekerja disana. Romy namanya.”
“Oh, jadi begitu ya? Selamat kalau begitu. Saya juga turut bahagia mendengarnya. Kamu harus segera mengenalkan pacarmu itu kepada saya.”
“Nanti pasti saya akan kenalkan kamu dengan dia. Secepatnya. Kamu kawan terbaik saya, Nik. Kamu tahu? Kamu orang yang pertama saya beritahu tentang hal ini. Kamu harus datang ke pernikahan kami nanti.”

            Sejak kedatangan Lisa hari itu, hanya enam kali Niki bertemu dengan Lisa lagi. Yang pertama seminggu kemudian, saat Lisa datang bersama Romy. Yang terakhir kali tiga minggu yang lalu saat Lisa datang mengantarkan undangan pernikahannya. Niki sengaja menghindari Lisa. Baginya hal itu mungkin lebih baik untuk menghilangakn sakit hati.
            Lima tahun yang lalu saat Lisa meninggalkannya, Niki masih yakin dapat bertahan. Walaupun hanya dalam bisu. Tapi lima bulan terakhir ini membuat Niki merasa begitu jauh dan tidak mampu bertahan. Merasa begitu jauh dari harap dan penantiannya. Dari Lisa dan juga persahabatannya.
           
            Hari ini sudah tiba. Niki masih belum tahu apakah ia akan datang ke pernikahan itu atau tidak. Dua hari yang lalu Lisa sempat meneleponnya untuk memastikan bahwa Niki akan datang ke pernikahannya. Saat itu Niki tidak menjawab pasti. Tidak juga pasti sampai saat ini. Apakah ia akan mampu bertahan melihat bahwa kawan kecilnya dan juga yang dicintainya selama ini akan menikah? Niki bahkan tidak tahu jawabannya.

            Sekarang sudah pukul setengah sepuluh pagi. Niki masih saja melamun. Tidak bersiap-siap. Tidak juga lagi ingin terlelap.
            “Mbak Nikita… ada telepon dari Mbak Lisa.” Suara Inah, pembantunya membuyarkannya. Inah lalu masuk ke kamar.
            “Mbak, teleponnya mau diterima atau ndak?” Inah bertanya. “Mbak? Mbak Nikita sakit, ya? Kok melamun begitu? Ini teleponnya mau diterima atau ndak?” Sekali lagi Inah bertanya.
            “Biar saya terima di kamar saja,” ujar Niki.
            “Nik, kamu datang, kan?” Terdengar suara Lisa di seberang sana.
            “Ya, saya baru saja mau siap-siap sekarang. Kamu seharusnya tidak perlu menelepon. Hari ini kamu akan menikah, mana mungkin saya tidak datang. Sudahlah, saya mau siap-siap dulu, bisa-bisa terlambat datang.”
            “Oke, saya tunggu kamu, Nik!”
            Niki menutup teleponnya. Kemudian ia beranjak dari kasur ke arah kamar mandi. Tangan kanannya mengambil handuk dan tangan kirinya mengibaskan tangis. 


  • Ditulis untuk mata kuliah Penulisan Populer, 2006.

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails