Friday, December 31, 2010

Aku Dan Ketakutan

Perasaan gamang, kosong atau hampa dalam kehidupan kiranya adalah wajar. Disorientasi dalam hidup, mungkin pernah dirasakan semua orang. Ketakutan dan kebimbangan akan apa yang sebaiknya kamu lakukan. Atau semacam ketidakyakinan. Itulah anomali. Namun buatlah mimpi-mimpi agar kamu tetap merasa hidup. Dan jangan biarkan perasaan seperti itu terlalu lama merajalela.

Jika tahun baru adalah harapan untuk segala hal yang lebih baik, maka meninggalkan sesuatu atau mungkin beberapa hal lama -yang tidak cukup baik pastinya- adalah seperti keharusan. Dan ialah ketakutan itu.


Ada kalanya kita seperti mencoba bersahabat dengan musuh. Padahal kita tahu sesungguhnya ia mampu menikam kita kapan saja. Aku sudah terlalu baik rasanya selama ini. Bersahabat, memesrainya seperti kawan lama. Sehingga rasanya aku perlahan menjelma musuh itu sendiri. Membenci diriku dan segala hal. Memusuhi keberanian. Menjauhi rintangan. Karena akulah menjelma ketakutan itu.


"Carilah apa yang membuatmu hidup dan hadapi resikonya. Itu petualanganmu, tantangan hidupmu. Auramu biru, kamu akan lebih nyaman bekerja dalam situasi lapangan. Buatlah petualanganmu, kamu pasti akan selalu hidup. Petualangan pasti penuh dengan rintangan. Itu seninya. Jadi ketika kita sampai pada tujuan, hasilnya pasti akan nikmat sekali." Seseorang mengatakan itu padaku pada suatu malam yang kehilangan cahaya bulan. Membaca auraku melalui tanggal kelahiran dengan metode numerolgi phytagoria. Aku tidak pernah memintanya, jadi anggap percaya tidak percaya. Walaupun rasanya benar semua.


Tahun akan berlalu lagi. Yang baru akan merajut lagi cerita-cerita yang tak akan kita duga seperti apa rupanya. Dan pada akhir ia selalu menyisihkan kenangan untuk kita simpan. Tapi ketakutan di tahun baru tak ingin lagi aku sertakan dalam perjalanan. Akhir ialah kehilangan dan kini saatnya mengucapkan salam perpisahan.
"Selamat Tinggal."


Mungkin tahun baru akan dimulai sebagai perjalan berat, semacam tanjakan tajam dan berliku-liku. Tahun baru mungkin mengawali perpisahan. Tapi keputusan harus dibulatkan. Dan keyakinan harus dikuatkan. Bumi masih akan berputar, matahari esok masih yang itu juga, angin resah dan hujan masih akan tetap mengelilingimu. Tapi itulah perjalanan. Kau tak selamanya kekeringan, kau tak selamanya kebasahan. Sebab setelah gurun berpasir mungkin saja kau temui lautan luas. Dan sesungguhnya jika kau tak mampu menghindar dari ketakutan, maka hadapi saja!


Life is a journey, not destination. So, enjoy the ride!*



Satu malam sebelum tahun menutup kalender.



*dari Twitter-nya Cia, @thranduilion, percakapannya dengan seorang sahabat lama di Live Journal.

Thursday, December 30, 2010

Catatan Sebelum Sebuah Tahun Menghilang


masih terlalu pagi sebetulnya untuk menangis hari ini. tapi ketika kita memikirkan segala memori yang telah diukir dalam sebuah kumparan tahun, dan kemudian banyak hal yang menerbitkan airmata, tidak perlu menyalahkan siapa-siapa. tahunmu sendiri yang merajut segala kenangan.

tahun ini adalah kekosongan, kehilangan, kesepian, ketakutan. aku hanya seperti melewati lorong gelap. melalui segalanya tanpa menyerap banyak makna. seperti kehilangan pegangan, kau tahu kan rasanya? seperti piano tua yang membisu saja di ruang bawah tanah rumahmu. tertutup debu tanpa lagi mendenting suara merdu. tak dapat kita dengar melodi indahnya.

dalam duabelas bulan ini kabut hitam seperti setia mengerudungi jalan-jalanku. mendadak aku membenci banyak hal, termasuk hidupku sendiri. semangat, gairah seperti jenuh singgah berlama-lama. datangnya lebih sering kadang-kadang. sepi dan ragu dan takut dan tak ada motivasi. itu saja. aku tak menikmati.

tahun ini ialah kesedihan panjang. ialah ranting-ranting pohon yang meranggas, yang kehilangan hijau daun yang gugur dalam rintihan. yang berduka tak lagi berteman cahaya. segala keinginan menjauh meski aku tetap membangun mimi-mimpi kecil setiap pagi. aku seperti senang membodoh-bodohi diri. meringkuk nyaman dalam kehangatan yang fatamorgana. sebab aku terlalu takut keluar dari pelukan itu.

namun dalam segala kegelisahan, dalam rasa yang begitu nelangsa, Tuhan masih begitu berbaik hati. masih Ia sisipkan keceriaan, mewujudkan doa-doa yang sudah sekian lama terlupa, bahkan. betapa Tuhan Maha Baik Hati, bahwa ia tak pernah lupa aku pernah meminta. saat aku sudah begitu putus asa, pasrah saja, Ia --entah dengan cara yang bagaimana-- mengabulkannya. seharusnya aku begitu bersyukur, begitu malu bahkan, ketika aku sering-seringnya tak lagi mempersembahkan sujud-sujud panjang, Tuhan masih saja tetap terjaga mendengar segala doa.

Tuhan, sebuah tahun akan menghilang, tapi kenangan tetap tertinggal. Matahari esok masih matahari yang itu juga. maka aku masih ingin berharap, jika aku masih pantas meminta. segala hal yang jauh lebih baik lagi, itu seperti permohonan seragam, maka aku hanya ingin kebahagiaan. dan jauhkanlah segala takut dan ragu. aku butuh lebih dari sekadar keberanian dan lebih dari sekadar keyakinan. karena pun engkau Tuhan Yang Maha Bijaksana, maka berikanlah semua sesuai porsinya. Jika sakit adalah pembelajaran yang membuatku menjadi jauh lebih dewasa dan berani, maka timpakanlah ia kepadaku, namun kuatkanlah juga aku bersamanya.




Rendevous - Cintamu di Jogjakarta

Barangkali aku bayi yang baru lahir dari rahim dunia
Masih buta, masih meraba
Jadi, jangan kau tanya tentang cinta

Cintamu yang abadi di Jogjakarta,
Telah tiada
Ini Jakarta!
Jangan kau harap bayang-bayangnya menjelma padaku
Besok pagi ketika mataku menatap cahaya,
lalu kau bilang cinta selamanya

Pertemuan kita sederhana, tiba-tiba
Aku masih mengais mencari susu di payudara ibuku
Bukan kupu-kupu yang rekah dari kepompongnya
Lalu terbang sendiri, tergesa

Mataku baru hendak menatap dunia
Masih hendak berkelana
Jangan kau tawarkan cinta
Membelenggu kakiku yang bahkan baru hendak merangkak

Mengapa kau tak kembali saja
Ke makamnya, mencari jasadnya
Mungkin esok senja mampu kau temukan jiwanya
Yang mencintaimu segenap raga

Pertemuan kita biasa saja
Tidak ada gejala yang mampu menimbulkan cinta
Pulanglah...
Malam sudah tiba
Ini Jakarta
Aku masih ingin terlelap dalam hangat
dekapan dada ibuku



15 Maret 2009

Ketika Tahun Melipat Kalender

Desember sudah hampir menutup pintu. Dan aku masih seperti ingin menengok ke belakang, memastikan tak ada kenangan yang nanti terlupa. Katamu, bukan Desember saja yang menyimpan cerita, meski ia selalu menjadi bagian penutup dalam jejakmu.

Kita masih akan punya cerita baru. Di depan banyak yang menunggu. Ketika nanti kau akan pelan-pelan memungutinya satu demi satu, memasukannya ke dalam kotak paling indah dalam hatimu. Tahun yang silam selalu membekali kenangan dalam perjalanan panjang kita di awal tahun. Kenangan yang melukiskan keriaan dan airmata.

Perjalanan akan masih penuh misteri. Kita seperti menelusur jalan setapak dalam hutan yang berkabut, tanpa sinar matahari, semua tampak samar. Mungkin saat kabut menghilang kau jumpai langit biru yang diam-diam mengamatimu melalui celah daun-daun hijau yang membisu menatapmu. Hanya hening saja. Atau juga danau yang menyambutmu. Dengan air yang berkilau ditimpa mentari. Hangat yang memelukmu. Bunga-bunga yang bersemi.

Ketika tahun melipat kalender, apa yang tersisa dari kita hanyalah kenangan; yang membekali tiap perjalanan ke depan. Pada penutup selalu ingin kita titipkan salam, pada yang tertinggal dan bagi yang telah pergi. Perjalanan kita masih panjang. Aku hanya butuh berani. Desember akan menanti, setia lagi sebagai penutup dan menyiapkan kenangan. Sampai jumpa tahun depan, katanya.



Jakarta, 29 desember 2010



Wednesday, December 29, 2010

Pudar

sebab dalam hatiku menggema suara
yang begitu rahasia;
yang tak pantas
didengar cinta
dan matamu tak lagi merupa
jendela yang bercahaya



Bekasi, 29 Desember 2010

Friday, December 24, 2010

Jangan Khawatirkan

suatu ketika
nanti
jika tak lagi ku kau ketemui
di tempat kita biasa bertemu

jangan khawatirkan
aku pergi
dan baik-baik saja
(sudah kurasa cukup kau menemani)





Bekasi, 24 Desember 2010

Thursday, December 23, 2010

Kita Sesungguhnya

Begitu takut
Begitu ragu

Sesungguhnya hampa
Sesungguhnya kosong

Dalam nyata
Kita sesungguhnya
Begitu tiada




Manggarai, 23 Desember 2010

Saturday, December 18, 2010

Betapa Ia Ada Setelah Tiada

Sebuah catatan setelah menghadiri acara Mengenang Asep Sambodja di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, 17 December 2010.


Sudah seminggu lebih sosok itu meninggalkan kita semua. Asep Sambodja, meninggal pada Kamis, 9 December 2010 di Bandung karena kanker usus yang di deritanya. Asep seorang mantan wartawan, penyair, penggiat teater, sutradara dan dosen di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI), meninggalkan begitu banyak cerita dan kenangan bagi semua yang pernah mengenalnya. Acara Mengenang Asep Sambodja semalam diadakan untuk saling bertukar cerita, berbagi kisah, menyebarkan percik-percik kenangan yang pernah dirasakan oleh semua yang hadir di sana. Sehingga kita mengingat beliau dengan penuh cinta.

Saya tidak akan tahu tentang adanya acara ini kalau tidak melihat status seorang kenalan di Facebook, Mba Novi, teman sekelas S2-nya Pak Asep, tiga hari sebelumnya. Kemarin sore sepulang kerja saya sempatkan hadir di sana. Menurut kabar acara akan dimulai pukul 18:00, saya tiba pas sekali, tapi masih sepi. Saya cukup sering menghadiri acara di TIM tapi tidak pernah ke PDS HB Jassin, jadi begitu tiba saya agak kebingungan menemukan tempatnya. Setelah menanyai beberapa tukang parkir dan security baru saya sampai ke tujuan.

Bagi yang belum pernah ke sana, jangan kira ini seperti Graha Bakti Budaya, Galeri Cipta, atau bahkan Teater Besar di TIM. Tempat ini nyempil, letaknya di belakang Planetarium. Tempat yang begitu sederhana sekali, mungkin terlihat tidak terurus, tepatnya semacam perpustakaan. Dari info yang saya baca di internet tempat ini selalu rela digunakan secara gratis bagi siapa saja yang mau memakainya untuk acara-acara sastra dan budaya.

Saat saya datang hanya ada dua orang bapak yang sedang mengobrol di depan pintu sambil merokok. Penampilannya seperti kebanyakan orang yang sering -kalau kalian pernah ke TIM, IKJ atau FIB UI- dijumpai di tempat-tempat nyastra. Saya tanya apa betul acara untuk Asep Sambodja di sini, mereka mengiyakan. Saat mereka bertanya saya datang dari mana kemudian saya jawab, "Dari UI." Bapak itu langsung menebak, "muridnya Asep ya?!" Saya menganguk. "Tunggu aja di dalam, acaranya abis maghrib, tapi kalau mau ngerokok dulu, di luar sini," kata bapak itu sambil ketawa.

Saya memilih menunggu di dalam. Belum ada orang. Hanya dua orang penjaga, yang satu menunggu di tempat penitipan tas, yang satu lagi sedang sibuk membereskan kursi-kursi. Di sana ada meja panjang yang sudah ditata kursi disekelilingnya dan ada meja kecil yg diisi penuh cangkir-cangkir, air mineral, kopi bubuk dan gula. Saya tau pasti ini disediakan untuk acara tersebut, hanya banyak yang belum datang saja. Saya melihat sekeliling, ke rak-rak buku. Duh, insting maling saya muncul deh saat melihat rak buku di sebelah kiri pintu penuh sama buku-buku Sapardi Djoko Damono, sebagian saya sudah punya tapi ada beberapa yang belum saya miliki bahkan belum pernah saya baca. Pengen nyolong jadinya, haha!

Tidak lama setelah itu sudah mulai banyak yang berdatangan.Jelas banyak yang tidak seangkatan dengan saya. Bapak-bapak yang sudah beruban, ibu-ibu, dan beberapa orang muda. Saya merasa familiar dengan sebagian wajah yang muncul, tapi tidak kenal nama. Dari sebagian yang hadir saya mengenali Mba Medy Loekito, mantan ketua Yayasan Multimedia Sastra (YMS), sosok yang sering sekali saya lihat di Facebook (FB)-nya Pak Asep, saya juga memiliki FB-nya, tapi tidak pernah bertemu muka. Saya melihat seorang teman waktu di FIB dulu, saya juga lupa namanya, hanya ingat dia dulu mahasiswa Sastra Jerman (teman sekelas Ena dulu ternyata saat kuliah umum PDPT, namanya Bertho). Dengan para yang hadir di sana, saya hanya saling bertukar senyum saja. Sementara yang saling kenal, saling menyapa, seperti bertemu teman lama.

Iboy akhirnya muncul juga. Tadinya Shanti juga mau datang, tapi tidak nongol sampai kami pulang. Tak lama saya bertemu Mba Novi, berkenalan secara resmi, karena dengannya saya juga tidak pernah bertemu, kami pernah beberapa kali saling bersapa saja melalui FB. Mengenalnya lewat status-status atau catatan-catatan Pak Asep yang sama-sama kami komentari. Setelah kepergian Pak Asep saya dan Mba Novi beberapa kali justru jadi saling bercerita dan bertukar info tentang Pak Asep. Mba Novi sepertinya lebih mengenal banyak orang-orang di sana. Setelah dia menyapa sebagian besar orang yang hadir, dia juga yang memperkenalkan saya dan Iboy sebagai murid Pak Asep dengan Mba Medy Loekito, Ibu Diah Hadaning(penyair), Ibu Nonny dan Ibu Kartini, yang juga salah seorang pendiri YMS, mereka teman-teman Pak Asep saat di Mediasastra dan Cyber Sastra dulu.

Acara dimulai tepat pukul setengah tujuh malam. Tak lebih dari 40 orang yang hadir di sana. Acara itu menyebar hanya lewat sms-sms saja, katanya. Saya sendiri baru melihat acara ini diposting dalam Milis Apresiasi Sastra oleh Tulus Wijanarko di hari yang sama, sudah sekitar siang hari. Pak Martin Aleida menjadi moderator dalam acara itu. Acara itu begitu sederhana, semacam orang-orang yang berkumpul untuk berdiskusi, saling bertukar cerita saja. Pak Endo, sosok yang dianggap begitu dekat dan mengenal Pak Asep memulai ceritanya. Asep yang ia kenal dulu sejak pertama kali saat Fakultas Sastra (FS) UI masih di Rawamangun, katanya merupakan generasi pertama yang merasakan pindahnya FS ke UI Depok. Asep yang merupakan anak daerah (beliau lulus dari SMA 1 Ungaran, Semarang), membawa "sesuatu" ke dalam lingkungan kampus UI. Ia dan beberapa orang temannya ternyata juga yang mendirikan Komunitas Bambu.

Asep Sambodja masuk sebagai angkatan 1987 di Jurusan Sastra Indonesia, UI. Menjadi ketua himpunan mahasiswa jurusan sastra indonesia periode 1990-1991. Istrinya, Mba Yuni juga masuk di jurusan yang sama, namun di tahun 1992. Pak Martin bilang, ia selalu melihat Mba Yuni setia mendampingi Pak Asep kemana pun, saat Pak Asep melakukan riset, atau dalam kegiatan-kegiatan lainnya. Saya juga berpendapat begitu, dari foto-foto di FB-nya saja terlihat mereka mesra, selalu bersama. Ada sebuah foto yang saya paling ingat, Mba Yuni dan Pak Asep berpose di atas genting rumah, tulisan di foto tersebut, "ini bukan simulasi banjir, tapi iseng saja." Betapa hal gila pun mereka lakukan bersama. Dan saya senang, ketika Pak Asep telah pergi namun account FB-nya tetap dilanjutkan oleh Mba Yuni.

Asep Sambodja, menurut sebagian dari mereka merupakan sosok yang pendiam, santun, sopan. Menurut Pak Tikno yang hanya beberapa kali bertemu muka dengannya, Asep merupakan sosok yang begitu peka membaca apa yang terjadi di sekitarnya. Hal itu terbukti dari puisinya yang berjudul "Kepada Kakao,Semangka, Jagung dan Kapuk Randu." Yang bercerita, jika kita masih ingat, tentang seorang nenek yang harus dipenjara hanya karena mencuri dua buah biji kakao. Mungkin tak banyak yang akan menulis tentang hal itu, katanya.

Asep Sambodja dianggap begitu serius oleh sebagian mereka. "Serius tapi terlihat main-main dalam puisinya," kata Medy Loekito. Mengutip tulisannya, "Puisi-puisi Asep S. Sambodja yang termuat dalam kumpulan sajak "Menjelma Rahwana", membawa saya pada kesimpulan bahwa Asep memiliki "kekuatan" lebih dalam mencipta puisi-puisi bernuansa humor." Misalnya contoh dari penggalan puisi "Sajak Malam Pertama":

ini seandainya kita jadi duduk berdua
di pelaminan semalaman
barangkali aku bisa tersenyum tanpa henti
barangkali kau menahan tangis tak habis-habis
-- kutahu karena kau ingin cepat-cepat ke ranjang

Atau dalam penggalan puisi "Hidup Tak Main-main":

Chairil bilang
Aku mau hidup seribu tahun lagi

lalu kutengok kuburnya, di Karet
kasihan, penyair tak bisa
mewujudkan impiannya


dan penyampaian canda dalam puisi "Tuhan, Sudahkah Kau Baca Koran Hari Ini?"

Sudah, kusarankan padaMu
Berlangganan koran mulai hari ini
Barangkali ada yang lucu


Medy Loekito dalam tulisannya pada catatan pengantar kemarin malam menuliskan, Asep berhasil memberikan nilai komunikatif yang tinggi melalui ungkapan humornya, meskipun memiliki kelemahan imagery yang memang umum terdapat pada puisi-puisi prosaic.


Seorang bapak, Arumdono, kalau tidak salah namanya bercerita bahwa Asep Sambodja ialah sosok yang ia kenal begitu teguh memegang pendiriannya. Begitu kukuh sampai titik darah penghabisan jika ia mempertahankan pendapatnya. Lalu, Pak Asep yang saya kira begitu memahami Sastra Lekra (tema yang ia pakai untuk penulisan tesisnya) ternyata menurut Pak Endo justru tidak begitu. Sastra Lekra menjadi sesuatu yang disembunyikan, dirahasiakan keberadaannya. Asep, menurut Endo, seorang yang mempunyai keingintahuan tinggi terhadap hal itu. Namun, orang seangkatannya yang tidak betul-betul hidup saat Lekra hadir dalam dunia sastra, tidak akan bisa betul-betul memahaminya. Karena banyak buku-buku yang sudah dimusnahkan, ditiadakan, dan tidak pernah bisa ditemui lagi.

Ibu Kartini yang tadi di awal saya katakan merupakan salah satu pendiri YMS juga bercerita tentang Pak Asep. Ia bercerita lebih mengenai kondisi Pak Asep setelah sakit. Ia seperti menahan tangis, matanya berkaca-kaca. Ia bilang, selama Pak Asep sakit ia dan beberapa teman selalu memanjatkan doa setiap jam 9 malam. Ia yakin Tuhan mengabulkan doa-doa mereka, setidaknya Tuhan tahu apa yang terbaik untuk Pak Asep, katanya. Sementara ia bercerita Ibu Nonny yang duduk dibelakang saya terisak terus menerus. Saya melihatnya, ia menunduk saja, mengepalkan tangannya diantara dahi dan matanya. Bersyukurnya, bahwa dalam kesehatan yang begitu kritis, keluarganya masih dilimpahi rezeki yang besar oleh Tuhan sehingga Mba Yuni masih bisa bilang, katanya, untuk biaya rumah sakit dan penyembuhan kami masih mampu.

Saya sungguh begitu menahan tangis saat Mbak Novi membaca puisi Pak Asep yang berjudul "Doa".

Ya allah
Apalagi yang harus kuminta
Sebab semuanya telah kau berikan
Semuanya
Semuanya
Bahkan yang tak kuminta
Bahkan yang tak kuminta...

Tanjung Priuk, 27 Juni 2010


Betul sekali apa yang Mba Novi katakan saat itu, menurut saya. Setidaknya pikiran dia dan saya sama tentang puisi itu. Mba Novi bilang, bagi yang tidak mengetahui kondisi Pak Asep mungkin hanya berfikir ini puisi yang bagus. Tapi bagi yang mengetahuinya, ini puisi tentang sakit yang di deritanya. Dari tanggal ditulisnya puisi itu pun, saya bisa menerka mungkin itu saat-saat pertama waktu Pak Asep mengetahui kondisi kesehatannya. Ya Tuhan, bahkan yang tak ia minta... Bahkan yang tak ia minta...

Ada kesedihan, haru dan sesak yang tiba-tiba meruak kembali. Bagi saya mirip rasanya seperti ketika pertama kali mendapat kabar tentang kepergian beliau. Yang membuat saya hanya bisa diam saja. Meresapi saja yang saya dengar. Namun, siapa yang tidak tertawa ketika Iboy bercerita bahwa kami, sebagian murid-muridnya yang berasal dari Sastra Belanda memanggilnya "Mas Adam" karena kumisnya yang mirip Adam Suseno, suami Inul Daratista.

Fay, salah satu teman seangkatan Pak Asep dulu yang hadir di sana semalam mengatakan, ia begitu heran sebetulnya, Pak Asep dalam kondisinya yang begitu kritis masih saja bisa online di FB. Ya, begitu memang, saya juga merasakannya. Pak Asep begitu eksis rasanya di FB dalam sakitnya. Ada saja status yang ditulis hampir setiap hari, puisi-puisi yang iya tulis, masih sibuk saja berkomentar di sana sini. Saya pribadi bahkan memantau perkembangan kondisi beliau sebagian besar karena infonya saya dapatkan dari FB-nya dan FB para sahabatnya. Kata Mba Novi, Pak Asep menganggap itu hiburannya. Karena beliau tidak terlalu suka menonton televisi dan melalui FB ia bisa tetap berkomunikasi dengan teman-temannya, bertemu murid-muridnya, orang-orang yang ia kenal.

Bagi saya, ada dua perkataan Pak Asep yang tidak akan pernah saya lupa. Ketika ia berkata kepada saya, "Mentari, jangan pernah kapok belajar, ya!" Saya masih ingat betul ini beliau katakan saat Saut Situmorang seperti tidak senang dengan salah satu komentar saya di sebuah catatan Pak Asep. Jika kalian mengenal Saut Situmorang tentu kalian tahu bagaimana kira-kira cara ia mengomentarinya. Tapi Pak Asep menyemangati saya. Kedua beliau pernah bilang, "Teruslah menulis! Menulis jelek masih jauh lebih bagus dibandingkan tidak menulis sama sekali." Ya, saya akan terus menulis, Pak!

Saya lebih dahulu izin pulang sebelum acara selesai. Sekitar setengah sembilan saya dan Iboy sudah undur diri, sementara mereka di sana masih terus bercerita. Pasti saya ketinggalan cerita-cerita lain yang mungkin belum pernah saya dengar tentang Pak Asep. Pada tulisan ini saya tidak menuliskan detail satu per satu apa yang dikatakan orang-orang yang hadir semalam tentang Pak Asep. Saya merangkum secara keseluruhan saja. Dan, Ibu Diah, yang tadi datang bersama Mba Novi, ketika saya izin pulang, ia menjabat, memegang tangan saya dan berkata, "Ibu lihat kamu lho waktu baca puisi di kampus waktu itu." Saya tersenyum dan bilang, "Terima kasih ya, Bu."

Meski semua cerita yang saya dengar semalam menerbitkan airmata, mengenang Pak Asep dengan cara begini bukan berarti bersedih-sedih ria terus menerus. Saya yakin ia pasti sudah bahagia. Semalam pun kami bisa tertawa lagi dalam ketiadaannya. Semua yang hadir di sana, pasti memiliki kesan atau kenangan yang berbeda-beda terhadap Pak Asep. Namun, apa yang mereka semua ceritakan, begitu menunjukan betapa beliau begitu dicintai, dihormati dan disayangi semua yang pernah mengenalnya. Bahkan Martin Aleida berkata, "Kita semua pasti akan meninggal, jika saya meninggal nanti, saya ingin mencontoh Asep Sambodja, salah satunya."



Bekasi, 18 Desember 2010


PS:
- Setelah meninggalnya Pak Asep banyak sekali kawan, kerabat, murid, dan siapa pun yang mengenal beliau menulis puisi, obituari, atau sajak-sajak mengenai beliau. Sebagiannya bisa diliat di Oase, Kompas.com (puisi duka untuk Asep Sambodja)


- Mohon maaf ya kalau ada kesalahan penulisan nama atau data, silahkan dikoreksi.

Tuesday, December 14, 2010

Bencana

puncak yang murka
laut yang marah

tidakkah kalian membaca isyarat
bumi yang menua



Jakarta, 16 November 2010

Monday, December 13, 2010

Kebahagiaan Yang Pernah Singgah

kebersamaan pada kita menjelma semacam luka
makin dalam dan menganga
kita seperti bersiap
melakukan perjalanan panjang
perlahan memudarkan rasa

cerita kita serupa daun yang menua
di ujung dahan itu
gugur perlahan, terbakar
hilang di bumi

kebersamaan seperti sia-sia
topeng yang kita pakai dalam pertunjukan
di atas panggung
hanya mempupuri duka yang tergambarkan
oleh raut
namun di belakang panggung
kita menjadi lakon nyata
yang sudah mati rasa

kamu adalah kebahagian yang pernah singgah
tapi aku tak ingin memupuk semacam luka
kubiarkan engkau pergi


Jakarta, 11 December 2010

Sunday, December 12, 2010

Pusara Cinta

cinta
kita

menggali makam sendiri
mencari liang untuk kita tiduri nanti
pada masa yang paling abadi

pada tanah merah
yang kadang basah atau kerontang
kita tentu mencari selimut yang paling nyaman untuk menemani
sehingga nanti kita bisa indah bermimpi

rasa masih begini anomali
nama kita tak akan mengukir lagi
di nisan yang sama

kita sudah sampai di sini
aku akan mengenang, menziarahi
sekadar mempusarai
kita pernah sehati




-Dalam perjalanan ke Depok, 11 Desember 2010-

Tangis

dalam tangis
pergilah
bebaslah
berbahagialah!

Saturday, December 11, 2010

Seandainya Kita di Gunung Kidul, 10 Desember 2010*

: Shanti Hapsari, Erlinda, Dian Rosanah, Friska Asta Desintia, Nurul Handayani, Dahlia Isnaini, Pratiwi Dayang Buana, Annisa Rufaida.


mungkin kita akan taburkan
bunga melati, mawar dan kenanga
agar ia mewangi
pada panggung yang sebenarnya

mungkin kita kirimkan doa-doa
membunyi segala surat-surat suci
pada tanah yang masih basah

mungkin kita juga menangis
menatap nanar makamnya
atau dalam hati saja kita berkata-kata
mengucap perpisahan

seandainya kita di Gunung Kidul
10 Desember 2010
kita memeluknya...


Jakarta, 11 December 2010

* Untuk Asep Sambodja

Friday, December 10, 2010

Asep Sambodja Dalam Kenangan

--kenapa selalu ada yang pergi
sebelum tahun berganti
sebelum pagi
sebelum kucium tanganmu sekali lagi


biasanya kutunggu berita pagi
tapi bukan ini
bukan lagi kau pergi
untuk tak kembali

(Desember Mengantarmu Pergi - Asep Sambodja)


Saya mengenal beliau lebih dari empat tahun yang lalu, saat itu memasuki semester enam di kampus UI, ketika saya mengambil kelas Penulisan Populer (Penpop) yang diajar olehnya. Beliau adalah dosen dari jurusan Sastra Indonesia sementara saya mahasiswa jurusan Sastra Belanda yang memang senang "belanja" mata kuliah dari jurusan tersebut. Saya masih ingat saat itu ketika saya bercerita mengambil mata kuliah itu, Ena bilang, "Eh, dosen kuliah Penpop lo itu kan penyair!" Langsung saja saya bangga. Sebelum itu saya seperti hanya beberapa kali mendengar namanya, Asep Sambodja.*

Ketika kelas dimulai semester itu, saya seperti mendadak jatuh cinta dengannya, dengan mata pelajarannya, dengan kumisnya. Kelas Penpop itu hanya diisi tak lebih dari 15 mahasiswa dan seingat saya semuanya adalah mahasiswa Sastra Belanda dari angkatan 2004 -angkatan saya-. Kami sering memanggilnya "Mas Adam" (tentu saja panggilan rahasia antara para mahasiswa saja, karena kumis beliau yang mirip Adam Suseno, suami Inul Daratista), kami senang cekikikan sendiri dan lirak lirik saat Pak Asep duduk, terlihat berfikir, tidak mengatakan apa-apa, kemudian beliau menyisir rambutnya kebelakang dengan jari-jarinya. Khas dia sekali, seperti selalu begitu jika sedang mengajar.

Pak Asep dalam kenangan saya adalah sosok dosen yang begitu baik. Dia seperti pendiam, tidak banyak bicara, tapi sering bercerita. Mukanya selalu pasang tampang serius, membuat segan. Tapi saya tidak pernah melihat beliau marah di dalam kelas karena murid-muridnya datang terlambat (seringnya karena masih mencetak tugas yang harus dikumpulkan hari itu namun baru selesai di menit-menit terakhir sebelum kelas dimulai) atau telat mengumpulkan tugas tulisan. Saya masih ingat, pertama kali ia meminta saya berdiri ditengah-tengah kelas dan membacakan cerpen yang saya tulis (tema saat itu adalah anak kembar dan karena saya kembar makanya beliau minta saya yang membaca). Saat itu diluar hujan deras sekali dan jika mau tahu, sama derasnya dengan keringat yang membanjiri tubuh saya saat itu. Malu rasanya kalau ingat hari itu. Saya seperti menyesal kenapa membuat tulisan yang begitu panjang, rasanya tak habis-habis dibaca. Saya tidak pernah suka disuruh membaca tulisan saya sendiri, sampai sekarang, saya tidak pintar membaca. Tapi, dari situ saya belajar. Pak Asep hanya mengajar saya satu semester. Tapi kesannya melekat sampai sekarang.

Di tahun akhir kuliah, saya kemudian menjadi lebih intens berhubungan dengan beliau di Friendster (saat itu masih gaul-gaulnya main Friendster), dari situ saya mulai banyak membaca puisi dan tulisan beliau. Saya membaca hampir semua tulisan di Blog-nya. Memang tidak bisa dibilang sering, tapi dalam keterkadang-kadangan beliau sering mengajari saya dan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya mengenai sastra. Karena beliau jugalah saya jadi menggemari menonton teater.

Setelah lulus dari kampus, saya masih berhubungan dengannya dan masih saja ia mengajari saya meski hanya lewat email dan Facebook. Sejak April tahun ini rasanya, karena permintaan saya pula Pak Asep sering meng-tagged nama saya pada tulisan-tulisannya. Ia juga merekomendasikan kepada saya beberapa milis penyair yang sebaiknya saya ikuti. Walaupun tidak aktif setidaknya dua hal itu membuat saya terus membaca puisi setiap hari. Beliau pernah pula mengatakan, "lebih baik menulis jelek daripada tidak berani menulis sama sekali," itu seperti terus mengiang di telingaku.


Sejak mengetahui beliau sakit, sudah hampir lebih tiga bulan terakhir, setiap hari saya selalu mengunjungi Facebook-nya. Membaca puisinya atau sekadar melihat statusnya untuk mengetahui keadaannya. Dalam keadaan sakit sekalipun beliau tetap aktif menulis. Saya salut! Beberapa kali saya mengirimi beliau pesan, yang dibalas hanya dengan jawaban-jawaban singkat. Saya kira beliau mestilah terlalu sakit dan mungkin yang bertanya dan mengiriminya pesan tidak hanya saya saja. Saya pernah baca tulisan seorang sahabatnya yang kecewa sepertinya ketika Pak Asep tidak mau menjawab teleponnya, ketika istrinya, Mbak Yuni, bilang bahwa Pak Asep sedang tidak bisa ngomong, katanya. Seharusnya itu dimengerti. Siapa yang akan dengan senang hati terus-terusan menjawab pertanyaan yang sama tentang penyakitnya?

Oktober lalu, akan menjadi kenangan tak terlupakan untuk saya. Ketika Pak Asep meminta saya membacakan puisinya, yang khusus dibuat sebagai kado perayaan ulang tahun untuk Sapardi Djoko Damono di FIB, UI. Permintaan yang tiba-tiba, permintaan terakhirnya. Permintaan yang membuat saya kalang kabut sendirian. Excited sekaligus nervous. Saya pribadi begitu mengagumi sosok Sapardi sejak di bangku kuliah dulu. Saya hanya pernah bertemu dua kali sebelumnya di kampus, dulu sekali. Saya sering kegirangan sendiri kalau bertemu beliau atau membicarakannya. Entah Pak Asep mengetahui hal ini atau tidak, tapi permintaannya kepada saya untuk membaca puisinya di atas panggung untuk perayaan itu rasanya seperti mendapat durian runtuh. Katanya, "gak perlu takut, Mentari, ini bukan festival baca puisi." Setelah selesai menjalankan amanat hari itu, sekarang dapat saya katakan saya begitu bangga mewujudkannya.

Setelah lulus dari kampus saya tidak pernah lagi bertemu Pak Asep. Pada pertunjukan teater "Limbuk Njaluk Married" karyanya yang dipentaskan november 2010 lalu, sebetulnya saya berharap sekali bertemu dirinya, karena saya tahu sebelumnya Pak Asep akan datang, tapi harapan itu hilang ketika justru digantikan berita sedih, di hari itu beliau mengalami pecah usus yang membuat kondisinya tidak memungkinkan untuk hadir.

Pagi ini berita itu datang dari seorang teman. "Mei, Pak Asep meninggal." Saya hanya diam saja. Tidak menangis. Tapi pikiran dan hati saya berkecamuk seperti tidak mau percaya. Dag dig dug yang tak berhenti, merinding sekujur tubuh saya. Setelah mengkonfirmasi dan mencari tahu dari beberapa orang lain, saya baru yakin. Pada Blackberry saya terus menampilkan halaman Facebook Pak Asep, ucapan duka cita terus datang bertambah dan bertambah banyak. Saya melihatinya saja, seperti tidak mau percaya. Di YM, di BBM dan sms beberapa teman menghubungi saya. Isinya sama semua. "Mei, Pak Asep meninggal." Lalu Erlin menelpon saya, saya tau dia habis menangis, atau mungkin masih menangis waktu itu. Saya tidak mau menangis. Jadi percakapan itu singkat saja.

Sorenya percakapan dengan beberapa orang sahabat yang dulu pernah juga mengikuti kelas Penpop beliau, membuat saya sedih sekali. Tapi kami mengenangnya, mengingatnya, menceritakan kembali hal-hal di kampus dulu tentangnya.

Malam ini hujan turun deras. Saya mengingatmu, Pak. Tak akan ada lagi yang mengomentari puisi-puisi saya lagi nanti, tak ada yang mengajari saya lagi nanti. Janji waktu itu, Pak, buku yang hendak bapak berikan kepada saya jika saya sempat datang ke kampus lagi di bulan September bahkan tak pernah terwujud.

"Jika dalam doa-doa malamku hari ini aku menangis sama derasnya dengan hujan yang turun, aku bukannya tak ikhlas melepasmu. Selamat jalan, Pak Asep. Doaku selalu untukmu."



*Asep Sambodja, seorang mantan jurnalis, penyair, penggiat teater, dosen di FIB UI meninggal pagi ini, 9 Desember 2010 di Bandung. Beliau diketahui menderita kanker usus sejak pertengahan tahun ini. Semangatnya untuk sembuh, ketabahannya serta kesetiaanya pada sastra menjadikan contoh bagi kita semua yang mencintainya. Selamat jalan, guruku, Asep Sambodja (1967 - 2010)


Bekasi, 9 december 2010

Thursday, December 9, 2010

Selamat Jalan, Asep Sambodja

desember adalah kehilangan
ketika sebuah berita mengabarkan kepergianmu
aku tidak menangis
tapi dadaku sesak sekali
merinding dan mendadak bisu

pak, sudah hilangkah sakit itu?
sakit yang dulu pernah kau bilang
sakit sekali
tenanglah sekarang!
lukamu hilang, deritamu terbang

yang tersisa kini adalah kenangan
aku akan mempusarai segala yang tertinggal
semangat dan ketabahanmu
semua ilmu yang kau ajarkan
keberanian untuk menulis

kehilangan adalah perjalanan panjang
menyusun remah-remah kenangan yang tersisa
duka yang melarut dalam detik-detik yang
setia bergulir tak henti-henti
terserah juga kita, bagaimana memaknai

ketika pagi ini gerimis
maka turunlah semua tangis
tapi doa-doa kami yang berkumandang
menjelma sayap-sayap doa
mengantarkan kepergianmu

selamat jalan, Asep Sambodja.
rebahlah semua derita...

Jakarta, 9 desember 2010

Wednesday, December 8, 2010

Don't Worry About Her. She is Fine!*

She can deal with stress and carry heavy burdens. She smiles when she feels like screaming and she sings when she feels like crying. She cries when she’s happy and laughs when she’s afraid. Her love is unconditional. There’s only one thing wrong with her, she forgets what she’s worth.


*Dari tulisan Alfi Yusrina

Friday, December 3, 2010

Sakit

waktu akan menyembuhkan luka
mengering dan menghilang
begitukah?

ada luka yang tidak akan pernah sembuh
di hatiku!

"Jangan menjadi perempuan bodoh!" ada yang berbisik.

Jakarta, 3 desember 2010

Kita Adalah Nol

kau tidak akan kehilangan
sebab kita tidak pernah punya apa-apa
tak ada yang (sungguh-sungguh) datang
dan pergi

kita tak kan pernah kehilangan
semua milikNya
milikNya

kita adalah nol


Jakarta, 3 desember 2010

Thursday, December 2, 2010

Aku Menulis Namamu Di Gerimis

aku menulis namamu di gerimis*
pada hujan yang turun malam-malam
atau datang kepagian
supaya kau jatuh, membaur
bersama genangan

aku menulis namamu di gerimis
biar kau mengalir
pergi jauh ke muara

pulang saja ke asalmu!




Jakarta, 2 Desember 2010

*diambil dari novel "Tea For Two"

Wednesday, December 1, 2010

Desember Lagi

masihkah membawa cerita lama?
kisah kita, kepedihan abadi itu
memutar ulang kenangan di dalam kepalaku

hujan yang selalu datang malam-malam
persimpangan jalan
yang menyimpan luka-luka

desember, membawakah kisah baru?
atau mengakhiri segala
yang lalu?


Jakarta, 1 desember 2010


Tuesday, November 30, 2010

Wong Londo, Pakde!

Suatu ketika di kota Solo;

Pacar : Pakde, kenalin ini...
Pakde : sopo? calonmu?
Perempuan : Meida, Pakde
Pakde : Kamu gak bisa ngomong jawa?
Perempuan : (sambil tertawa) Gak bisa, Pakde!
Pakde : (diam, melongo saja, sambil memandang ke perempuan itu)
Lelaki yang duduk di sebelah Pakde, usia sekitar 30 tahun : Wong Londo, Pakde!

----------------------------------------------------------------

 wong londo??? bagaimana perasaan kalian jika ada di posisi perempuan itu? saya selalu benci berada dalam kondisi begitu. sepertinya saja saya ingin berteriak, "Hei, saya ini orang Indonesia." Apa karena saya tidak bisa berbahasa jawa kemudian saya boleh disebut begitu? apa mereka tidak pernah dengar bunyi Sumpah Pemuda ya? apa mereka kira Indonesia ini hanya terdiri dari pulau jawa saja?


saya awalnya tidak mau tersinggung atau sakit hati disebut begitu, tapi entah kenapa peristiwa yang tidak lebih dari lima menit itu seperti piringan hitam, yang terus memutar suara di dalam kepala saya. dan seperti membuat saya bertanya-tanya ada apa sebetulnya dengan "wong londo" itu? apa ada maksud lain yang bukan sekadar dua patah kata? lalu, jika tidak ada maksud lain, kenapa tatapan Pakde itu begitu? seperti melihat suatu keburukan pada diri saya? seperti saya ini sebuah kesalahan atau apa?

saya membuka internet malam itu, mencari pengertian "wong londo" yang mungkin saja memiliki arti lainnya. tapi sumber yang saya baca tidak terlalu akurat sepertinya. lalu, kenapa sudah lewat dua hari saya masih mengingatnya terus menerus, seperti perkataan itu membuat kenangan yang tidak mengenakan di hati. adakah maksud negatifnya?

wong londo bisa jadi diucapkan untuk maksud menyindir, bisa jadi bermakna negatif. mungkin semacam sindiran untuk orang yang dianggap lupa dengan identitas bangsa, orang yang melupakan akar sejarah. tapi tidak selalu begitu. mungkin semacam sekadar melekatkan dengan keilmuan, semcam begitulah, kata seorang teman saya. 

oke, jika seperti itu. saya hanya tidak suka saja disebut begitu!!!

Jika Aku Ucapkan Selamat Tinggal

mungkin aku akan merindukanmu, suatu hari
ketika langit cerah. menanyai hati sendiri
bagaimana kabarmu hari ini?

mungkin aku akan merindukan kotamu
suasananya, petang yang kita gemari
atau pagi-pagi yang kita sambut dengan senyuman

aku pasti merindukan Ibu, yang selalu mendoakan
kebahagiaan kita. yang selalu mengusap ubun-ubunku
pelan-pelan setelah ia membuat Salib
antara dahi, dada, dan bahunya

mengucapkan doa-doa kristiani
yang entah bagaimana pun caranya
ia hanya mendoakan kita

jika aku mengucapkan selamat tinggal
mungkinkah kau menjadi lebih bahagia?
mungkinkah aku menyesal?
mungkinkah?
mungkin.

Jakarta, 30 November 2010

Friday, November 26, 2010

(Semacam) Sajak dan Doa : Cinta Kami Untuk Asep Sambodja

UNTUK GURUKU
Oleh : Mentari Meida


: Asep Sambodja

Bapak...
teruslah berdoa, jangan berhenti
karena aku di sini tak usai-usainya mendoakan kesembuhanmu berjuanglah! sembuhlah!
lawan sakit itu semampumu

cinta teman-teman, keluarga,
murid-muridmu tak kan habis-habisnya
ikhlas dan tulus untukmu
maka tetaplah pupuk semangatmu

doa-doa masih terus mengalir
menderas setiap harinya
dari yang paling dekat di sisimu
sampai yang hanya memandangmu dalam jarak
percayalah!

jangan pernah berhenti berdoa
jangan putus berusaha
jika ini pun adalah derita
semoga Allah memuliakanmu di akhirnya
atas segala kesabaran dan ketabahan

Doaku untukmu, guruku.


Bekasi, 23 November 2010




KEPADA ASEP SAMBODJA
Oleh : Mentari Meida


hanya kata-kata ini yang bisa kuberikan
anggaplah ini doa
semoga menguatkan fisikmu
yang sedang diuji
yang sedang digerogoti

kau sendiri kan pernah bilang:
beginilah rasanya memasuki usia senja
sebentar-sebentar melihat jam
seperti ada yang dinanti
seperti ada yang menjemput*

taukah, Pak?
jalan setapak memang sepi
di tepinya hanya ada semak
dan lampu jalan
biasanya pun redup

aku tahu engkau ingin
ingin sekali
saat kau sakit, ada Ibu
yang bisa memelukmu erat-erat
yang mengusap kepalamu perlahan
sambil membisikan doa-doa
-yang ia hafal dengan baik-
untuk kesembuhanmu

di sini,
kami masih menemani
kawan-kawan masih ada
istrimu juga
jadi, tetaplah ceria
seperti pesan malaikat yang baik hati itu kan

semoga dzat yang maha besar
mengirimkan segala kebaikan
kepada raga dan jiwamu
semoga dzat yang maha kuasa
mendatangkan kesembuhan
mengangkat segala yang buruk
yang dibebankan sekarang
dari fisikmu

Cepat sembuh, Pak Asep!
Kami mendoakan.


Jakarta, 6 Agustus 2010

* dari puisi Asep Sambodja "Senja di Hati"





SAJAK BUAT KAWAN
Oleh : Heri Latief


 : Asep Sambodja

di kaki gunung merapi
dingin malam di awal musim hujan ini
kawan, kenangan itu memanggilnya
rembulan mempesona batinnya
terbacalah sebaris syair sajaknya
refleksi diri dalam hidup sederhana

kita ada kerna kita mencatat kejadian
jatuh bangun perjuangan anak bangsa
melukiskan pengalaman di kanvas kehidupan

: tetap semangat membela keadilan!

Amsterdam, 22/11/2010





ASEP
Oleh : Heri Latief


jauh di sana, di dekat jogja, kawanku asep sambodja sedang terbaring sakit berat. asep adalah penyair yg kukenal sejak akhir tahun 2000 di milis penyair (nanang suryadi).

beberapa kali aku jumpa asep d jakarta, kita pernah nongkrong bersama istrinya yuni di pinggir jalan di depan tim (cikini), ngobrol sembari ngopi dalam suasana yang akrab.

asep itu kawan yang asik diajak bicara soal sastra dan politik. asep pernah menulis esai tentang kumpulan puisiku "ilusiminimalis" (2003).

asep itu penyair yang punya ijasah sarjana sastra (ui), tulisannya yang terakhir banyak mengulas soal "lekra".

asep kawanku, smoga kau kuat menghadapi cobaan hidup ini, tetaplah semangat!


Amsterdam, 23112010





UNTUK TEMAN KAMI, ASEP SAMBODJA
Oleh : Aulia Akbari


Bila Allah mengabulkan doamu, maka sungguh DIA menyayangimu...
Bila Allah lambat mengabulkan doamu, maka sungguh DIA pun menyayangimu tapi DIA hanya ingin mengujimu...
Bila Allah tidak mengabulkan doamu, maka sungguh DIA pun tetap menyayangimu tapi DIA merancang sesuatu yg lebih baik untukmu...
Maka dari itu, kang asep harus tetap semangat, terus berdoa dan berprasangka baik yaa...



MENDENGAR TENGARAMU
Oleh : Tulus Wijanarko


:untuk Asep Samboja

"Mari tuliskan, saudara."

Suaramu seperti datang dari masa-masa pancaroba. Sebuah abad ketika ujung pena terbiasa gentar menjumput tinta—sedang peristiwa bersilapan dari halaman-halaman surat-kabar. Tak ada tanda seru. Juga rahang berbilur biru.

Kata-katamu bahkan serupa dua kerabat tak sengaja berpapasan di perjalanan. Tetapi, oh, “mari tuliskan”, adalah medan pertempuran tanpa tapal-batas. Arena yang tak terlunaskan anak panah para satria. Selaksa cakrawala yang mustahil digariskan Kurusetra lama.

Engkau mengangsurkan tangan ketika cuaca betapa rentan—meski bukankah memang demikian laku setiap pertengahan musim? Engkau sediakan lembar-lembar terbuka agar riwayat selalu dicatat dan dicernakan. Engkau seperti hendak memastikan segala berhak mendapat tempat. Semua layak diperiksa seksama. “Tuliskan, saudara, tuliskanlah!”

Hari ini telah jauh kita mengeja perang demi perang. Dan serupa tengara fajar pertama, masih erat kau genggam pena yang sama. Jejakmu ditandai di padang-padang luas. Tanpa nafas tersengal. Apalagi rasa sesal.
Seperti waktu itu, kembali kusahuti seruanmu.

"Tentu, saudara, mari selalu kita tuliskan!"

11/2010




SURAT SEORANG PEREMPUAN KECIL (UNTUK ASEP SAMBODJA)
Oleh : Hanna Fransisca


(Catatan Puisi yang Tak Serius)*
Zhu Yong Xia

ini puisi soal negara
puisi ini tidak terlalu serius
sama seperti negara yang tidak serius memberantas korupsi


Kang Asep Sambodja yang baik, suratmu telah aku terima dengan baik. 85 puisi yang berisi nyanyian hati seorang pecinta. Pecinta yang tulus berbakti kepada negeri, dengan cara yang paling ngeri. 85 nyanyian, 85 rintihan, 85 makian, 85 cinta bakti terhadap negeri, yang akan membuat pembaca paling dengki sakit hati.

Jika ada dokter yang gugup membaca puisi, maka ia adalah dokter yang penuh dengki. Jika ada presiden yang gelap hati lantaran namanya disebut dengan lantang lewat puisi, maka ia adalah presiden yang layak untuk bunuh diri. Jika ada anggota parlemen yang garang lantaran menentang puisi, maka ia adalah gerombolan orang yang tak layak dihormati. Jika ada segerombolan kaum tengik yang engkau sebut berkali-kali, sehingga mengguncang tubuhmu ribuan kali, maka itulah hakikat puisi ini.

Tapi jika ia adalah rakyat yang seumur hidupnya tak pernah mencuri, sehingga namanya layak diabadikan dalam puisi, maka itulah yang sesungguhnya engkau impikan setiap hari.

Membaca puisi yang engkau tulis, seperti mengingat seseorang yang lekat dalam ingatan. Seseorang itu adalah Han Fei Zi, yang jasadnya telah ribuan tahun terkubur, akan tetapi kata-katanya senantiasa mengancam orang-orang yang gugup membaca puisi. Izinkan aku, dalam kesedihan ini, membawamu pada pada jasad lapuk yang masih sangat berharga itu. Han Fei Zi, seorang filsuf besar dari bangsa Han (seorang Pangeran dari negara Han), yang aku yakin engkau pasti mengenalnya dengan baik. Ia hidup pada 475 SM, dan wafat pada 221 SM. Izinkan aku, dalam kegetiran membaca puisi-puisimu, menceriterakan kembali jasad lapuk yang sengaja ingin kubangkitkan kembali lantaran sabdanya yang tetap hidup hingga kini.

Pada usia 20, Han Fei berangkat ke negeri Chu untuk belajar pada Xun Qing, seorang filsuf dan pemikir China yang dianggap sebagai Aristoteles China. Xun Qing adalah pencetus pandangan bahwa: manusia sejak awalnya jahat dan mementingkan diri sendiri, maka pengawasan dengan cara pendidikan moral dibutuhkan untuk membimbingnya dalam jalan yang benar. Dari aliran pemikiran inilah Han Fei menarik kesimpulan bahwa: “Manusia pada dasarnya jahat, tapi bisa menerima peraturan hukum.”

Bayangkanlah, jika Han Fei Zi kembali bangkit dari kubur, lalu membaca puisi yang “tidak terlalu serius” yang engkau tujukan kepada presiden: ini puisi soal negara/ puisi ini tidak terlalu serius/ sama seperti negara yang tidak serius memberantas korupsi... Han Fei Zi, sama seperti aku sekarang, dipastikan tengah tertawa dengan luka menganga.

Baiklah, supaya sama-sama tidak terlalu serius, dan untuk mengimbangi Puisi yang Tidak Terlalu Serius ini, aku ingin melanjutkan cerita filsafat Han Fei Zi yang juga dituturkan dengan cara tidak terlalu serius. Adalah seekor macan, begitu tutur Han Fei Zi dalam kelakarnya, tiba-tiba muncul di tengah perkampungan. Semula penduduk kampung dan binatang lain lari ketakutan. Tapi, saat macan itu mengaum garang, seorang bocah berteriak keras: “Macan itu ompong! Macan itu ompong, dan tidak memiliki cakar!” Adakah yang lebih tidak serius, dari kelakar macan ompong yang tak memiliki taring? Lapindo, Century, Pertamina, adalah gusi-gusi lunak yang membikin Han Fei Zi tertawa terbahak-bahak seraya menuding presiden yang ditulis dalam puisi. Belum lagi membaca 84 puisi lain yang bicara tentang parlemen, polisi, jaksa, tentara, dan setumpuk gusi-gusi lunak lain yang selalu terlihat dalam mulut lebar terbuka. Lalu apakah ini yang disebut negara?

Jika negara telah terlanjur berbuat jahat, maka orang yang paling wajib bertindak mulia pun akan tergerak hatinya untuk berbuat serupa. Penyair adalah mahluk yang paling peka untuk mencatat. Mencatat apa yang terjadi di sekelilingnya, serta mencatat apa yang telah menimpa dirinya. Jika anggota parlemen menjadi bahan bidikan, pemimpin negara menjadi pusat pertaruhan, dan para koruptor menjadi sarang hujatan; maka bagaimanakah jika puisi juga mencatat kejahatan orang yang semestinya menerima predikat paling mulia? “Bahkan seorang dokter, di negara yang telah mencabut hukum dan moral dalam dirinya, telah ikut membuang kemuliaannya,” begitu engkau berpikir dalam surat puisimu yang ke tiga, dengan judul Dokter Lukman yang Kukenal. “Saya beritahukan bahwa untuk mengetahui penyakit di pinggang bapak/ ada tiga tahapan yang harus diambil/ setiap tahapnya 80 juta/ jadi semuanya 240 juta…”

Sahabatku, Asep Sambodja yang baik, perbandinganmu antara kebusukan anggota parlemen dan birokrasi negara, dengan Dokter Lukman yang Kukenal di dalam satu puisimu (dari 85 puisi yang dihimpun dalam buku ini), adalah sungguh-sungguh sebuah paradoks yang keterlaluan. Engkau terlihat begitu frustrasi dan kehilangan akal. Bahkan dari segi teknik, engkau telah dengan sengaja membuang semua metafor yang halus dan indah dalam puisi, menjadi sesuatu yang verbal dan gampang dibaca. Ada apakah dengan dirimu? Beruntunglah engkau menyebut puisimu adalah puisi yang tak serius, sehingga aku bisa bisa dengan enteng menanggapinya, menjadi sesuatu yang tak kalah “tidak seriusnya”. Tahukah engkau, bahwa dalam perbincangan yang tidak serius, Han Fei Zi juga memiliki referensi tentang hal ini? Ia mengatakan, setelah moral tidak lagi menjadi pegangan, maka: “Seorang tabib tidak menghisap darah atau nanah dari tubuh pasien karena kebaikannya, melainkan karena keuntungan yang akan diperolehnya.”

Demikianlah, puisi yang “tak serius”, di tengah negara yang sama tak seriusnya dengan puisi ini, akan menjadi hal yang sangat serius di tangan pembaca yang serius mencintai negerinya. Tentu ada beberapa puisi yang engkau anggap sebagai puisi sunyi yang berisi doa dan renungan terhadap diri. Tentang catatan kepada sahabat, tentang renungan kematian, dan tentang kefanaan hidup, yang ditulis dengan metafor yang sangat indah, --sebagai bukti bahwa engkau adalah penyair. Semua catatan ini, dari yang disebut “tak serius” hingga yang serius “melekat pada diri puisi”, telah ikut melengkapi sekian catatan perih yang engkau rasakan saat ini: sebagai seorang pribadi, sekaligus sebagai penyair yang tak pernah habis mencintai negerinya dengan sepenuh hati.

Jakarta, Oktober 2010


*Catatan pembuka pada buku puisi terbaru Asep Sambodja “Berhala Obama dan Sepatu Buat Bush.”






TETAPLAH SEMANGAT KAWAN, BUAT SAHABATKU ASEP SAMBODJA
Oleh : Donny Anggoro


Ketika saya masih merintis dan berjuang bersama kawan-kawan YMS saya mengenal Asep yang kala itu bekerja sebagai wartawan di media dot com Satunet. Sebagai sesama penulis diam-diam Asep memperhatikan karya-karya saya entah itu cerpen, puisi dan esei. Ya, kami sama-sama berjuang sebagai penulis sastra cyber generasi pertama yang pada awal kehadirannya dicibiri banyak orang, terutama sastrawan senior yang khawatir posisinya bakal tergerus.
Selanjutnya pertemuan-pertemuan kami terjadi kebetulan dan juga janjian. Kami sering ketemu di TIM tepatnya di PDS HB Jassin tempat para penulis berkumpul. Di PDS saya juga pernah duduk sebangku dengan Asep ketika didapuk menjadi moderator diskusi buku puisi untuk Munir "Nubuat Labirin Luka" dimana Asep bertindak sebagai pembicaranya.

Pertemuan saya terakhir dengan Asep ketika di Galeri Cipta TIM sekitar bulan Mei 2010 (barangkali) saat acara temu pengarang Remy Silado. Asep yang saya temui masih sehat dan gemuk tidak seperti dalam foto yang baru saya lihat di FB sekarang ini. Kami berbagi cerita tentang film THE READER yang ditulis dalam blog Asep. Saya memberinya sebuah majalah indie tentang teater sebagai kenang-kenangan karena saya tahu Asep juga seorang penggiat teater di samping sebagai sastrawan. Meski hadiah kecil barangkali majalah tersebut bisa memberi inspirasi buatnya dalam berkarya.

Sampai saya menerima kabar dari Ratna Djumala, sahabat yang kini bekerja sebagai asisten Riris Sarumpaet bahwa Asep menderita penyakit dan sedang dirawat di Jogja. Esoknya saya meluangkan waktu menelepon Asep dari kantor. Yang menerima Yuni, istri Asep. Sayangnya Asep tidak menerima telepon saya. Katanya Asep lagi nggak bisa ngomong. Tak banyak yang bisa saya lakukan selain hanya doa dan pijaran semangat yang bisa saya berikan dari jauh.

Mas Asep tetaplah semangat.
Saya selalu mengenangmu sebagai sahabat dan penulis yang baik.
Semoga Tuhan memberimu kekuatan dalam menghadapi cobaan ini.




UNTITLED (1)
Oleh : Widi Dwinanda


Kusampirkan doaku di jemuran,
seperti judul puisimu
Dan itu kuhadapkan langsung ke langit
Agar langsung dibawa angin menuju Tuhan
tanpa perantara..

Jika tubuh sudah lelah terkulai,
Tidur tanpa lelap menahan nyeri
Tapi, yakinlah
Tuhan tidak pernah tidur
di duniamu, dunia kita, bahkan di dunia khayal manusia itulah harapan

Sampiran doa itu bukan hanya dariku
Semua menitipkan doa dan harapan di setiap hembusan nafas untukmu.  Seribu cinta pun sudah terbang pada satu arah, yaitu : semangatmu karena jiwamu, telah jadi jiwa kami..

-- Bandung, 23 November 2010 ---

Kang, hidup adalah harapan…  Sejak kita lahir sampai akhir...
Jangan berhenti dengan menyerah, ya, kang…

Kami semua sayang akang…
Mba Yuni terutama, kami semua rindu, menjejakkan kaki di lantai Teater Daun, merkeringat bersama…
dan satu hal… akang sudah jadi motivasi saya untuk berani belajar dan salah…
begitupun saya, ingin akang terus memotivasi diri…




UNTITLED (2)
Oleh :  Mas Triadnyani*


Asep… taman rumahmu penuh warna-warni. Ada yang putih dan ada yang merah. Kupu-kupu, lebah, dan berbagai serangga berkenan singgah di tamanmu. Sebuah taman indah disirami oleh kasihNya.


*Nama account Facebook –nya.




“Para penulis, izinkan saya menyalin karya-karya kalian. Ini sekadar iseng-iseng saya mengumpulkan beberapa tulisan di Facebook dari para kenalan (mungkin sahabat, saudara, murid atau kerabat dari Pak Asep) yang ditujukan dan dibuat khusus untuk Asep Sambodja. Tulisan dan doa-doa yang mengalir untuknya setiap hari semoga menguatkan beliau dalam sakitnya. Semuanya menunjukan betapa besar cinta kami untukmu, bapak… Jadi tetaplah bersemangat. Doa kami selalu untukmu.

Silahkan membaca dan kirimkanlah doa-doa terbaik kalian untuk kesembuhan Pak Asep Sambodja.”


Cinta

Cinta seharusnya beraroma asmara
bukan amarah



Thursday, November 25, 2010

Kesedihan

terlalu banyak kesalahan yang membuat cinta tak lagi beraroma asmara. seperti pengembara yang tak lagi menemukan ujung jalan yang sama. menapaki gigir gunung yang tajam, bergelombang dan penuh terjal. kita rasanya kehilangan arah. mencari musim masing-masing, mungkin?

angin masih berbisik, hujan menderai, namun pesan tak lagi sampai ke tujuan. seperti menemukan kopi yang terlanjur mendingin pada pagimu. kehilangan pegangan. pertengkaran lagi dan lagi. dan hanya maaf. komposisi klasik yang tak lagi mengantarkan harapan.

kau tak lagi mensyukuri pagi. mengutuki hujan yang datang merintik mengetuk jendelamu. disambut tak lagi dengan senyuman, mungkin makian yang kau lantunkan pelan-pelan. bosan.






Wednesday, November 24, 2010

Peluncuran Buku Puisi Terbaru Asep Sambodja : Berhala Obama dan Sepatu Buat Bush


Peluncuran dan Diskusi Buku
BERHALA OBAMA DAN SEPATU BUAT BUSH
karya Asep Sambodja

Hari: Kamis, 25 November 2010
Jam: 13.00-17.00 WIB
Tempat: Auditorium Gedung IV FIB UI (Ruang 4101)

Pembicara:  Bimo Gelora
                   Hendra Kaprisma (kritik sastra mazhab Depok)

Moderator: Novi Diah Haryanti

Acara ini dimeriahkan dengan pembacaan puisi oleh Hanna Fransisca, mahasiswa IKSI, dan musikalisasi puisi Sasina.
Acara ini terbuka untuk umum dan gratis.
Ada stand buku sastra.

Untuk Guruku

: Asep Sambodja

Bapak...
teruslah berdoa, jangan berhenti
karena aku di sini tak usai-usainya mendoakan kesembuhanmu
berjuanglah! sembuhlah!
lawan sakit itu semampumu

cinta teman-teman, keluarga,
murid-muridmu tak kan habis-habisnya
ikhlas dan tulus untukmu
maka tetaplah pupuk semangatmu

doa-doa masih terus mengalir
menderas setiap harinya
dari yang paling dekat di sisimu
sampai yang hanya memandangmu dalam jarak
percayalah!

jangan pernah berhenti berdoa
jangan putus berusaha
jika ini pun adalah derita
semoga Allah memuliakanmu
di akhirnya
atas segala kesabaran dan ketabahan

Doaku untukmu, guruku.


Bekasi, 23 November 2010


"Pak Asep dan istrinya, Mba Yuni - Semoga Allah memberikan kesembuhan untuknya dan ketabahan tak terbatas bagi istri tercintanya."

Friday, November 19, 2010

Liefde Is De Weg

In vogelvlucht bekeken, jouw leven
Vind jij het mooi die reis... of niet
Wat geeft jou een blij gevoel
of gevoelens van verdriet
En nu...waar ga je heen
Met iemand samen... of alleen

Er is een weg, een weg naar geluk 
Niemand heeft gezegd dat het makkelijk zal zijn 
Ervaringen van vreugde maar ook die van de pijn 
Op de weg van Liefde zal je zijn wie jij mag zijn 

De een schenkt je liefde in overvloed 
De ander is een dief 
Kies dan voor wat blijvend is en goed 
Is de rest niet enkel relatief
Dat gaat voorbij 
Wat geeft je vleugels
Wat maakt je vogelvrij

Er is een weg, een weg naar geluk 
Niemand heeft gezegd dat het makkelijk zal zijn 
Ervaringen van vreugde maar ook die van de pijn 
Op de weg van Liefde zal je zijn wie jij mag zijn 

Zoveel stappen zijn er al gezet op die liefdesweg 
Zoek de grootste liefdesbron 
Zij brengt verlichting als de zon 
Vult je beker tot de rand 
Geef dan elkaar de hand 

Er is een weg, een weg naar geluk 
Niemand heeft gezegd dat het makkelijk zal zijn 
Ervaringen van vreugde maar ook die van de pijn 
Op de weg van Liefde zal je zijn wie jij mag zijn 
 
 

Thursday, November 18, 2010

Masih Saja

sudah cukup lama, tapi masih saja
saya tidak mampu menulis apa-apa

Wednesday, November 10, 2010

Meja

Meja makan itu sudah hampir tiga tahun kosong. Yang tersisa di sana hanyalah kenangan yang sudah lama mengendap. Dingin. Selama hari-hari kosong, yang tersaji di sana hanya duka.

-----------------------------



Kini doa menjelma. Perlahan-lahan, kembali bahagia. 
Terima kasih, Tuhan!

Saturday, November 6, 2010

Luka Putih Merapi


jejak itu tertinggal
panas, debu, luka
putih yang mengiris wajah-wajah mereka
tanda puncak yang murka.

wajah-wajah yang bahkan kita
tak tahu lagi harus menyebutnya apa
tidakkah kau rasa ngeri
nyeri...

mungkin kau lihat dukanya,
hanya dalam sebuah jarak
pada kaca yang cembung
diam, miris yang membuat merinding
menangis

putih Merapi yang meninggalkan kerontang
membakar mereka, meleleh
luka-luka dan duka-duka
menyapu wajah-wajah yang tak berdosa

pilu yang luar biasa
betapa amarahnya
gemuruh tengah malam, siang-siang
amuknya yang tak kenal waktu
belum juga jemu

manusia-manusia yang luka
lihat matanya!
luka ataukah harap yang masih mungkin nyata?
manusia-manusia berselimut putih Merapi
pedih dan ngilu

maka, usaplah semampumu
dengan sejuk yang menghangatkan
biarkan mereka serasa dipeluk
dalam duka


"Jika airmatamu mengering, bahkan sebelum ia mengalir, biarkan agar luka-luka ini yang memuliakanmu nanti."


Jakarta, 5 November 2010

Thursday, November 4, 2010

Ketika Tak Ada Yang Berubah

Saat itu aku tahu,
kita terjebak.
Dalam mimpi yang tanpa usaha.
menjadi nyata.

Wednesday, November 3, 2010

Agenda Minggu Ini

Saya sedang tidak punya inspirasi untuk menulis saat ini, menulis puisi atau prosa, atau cerita. Kadang apa yang saya tulis membutuhkan perenungan yang lebih lama dibanding proses menulisnya sendiri. Banyak yang sedang saya pikirkan. Tapi sekaligus juga tak tahu apa yang sebenarnya saya pikirkan. Karena begitu absurdnya, saya jadi tidak memproduksi apa-apa rasanya. Dan saya rasa  saya merenung terlalu dalam dan lebih lama belakangan ini, sehingga begitu bingung sendiri apa yang saya rasa dan yang ingin saya tulis.

Setiap hari kerja, saya selalu seperti orang yang kehabisan waktu. Waktu saya terbuang di kantor dan di jalan. Kalau pun disempatkan, saya menulis dalam perjalanan. Tak jarang saya menulis puisi atau cerita di dalam busway saat berangkat kerja. Tapi saat ini rasanya saya sedang malas untuk menulis. Saya merenung dan berpikir, tapi saya malas menulis. Jadi saya putuskan untuk lebih banyak membaca saja saat ini. Mungkin blog ini akan sepi untuk beberapa waktu ke depan.

Menanti akhir pekan bagi saya seperti arwah menantikan surga. Maka akhir pekan ini saya akan menghabiskan waktu untuk menyelesaikan buku-buku yang belum habis dibaca. Akhir pekan masih dua hari lagi, so, ini yang saya rencanakan...

Jumat Malam : 
- sepulang kerja saya akan menuntaskan buku puisi SDD yang belum habis saya baca, atau mungkin Centhini : Kekasih Yang Tersembunyi karya Elizabeth D. Inandiak yang juga masih separuh jalan.

- Mungkin setelah itu saya akan bengang bengong ga jelas memikirkan sesuatu sampai larut malam. Jumat malam bagi saya sah-sah saja untuk tidur larut.

- Atau chatting dengan teman-teman yang online di BBM atau YM. Biasanya saya senang iseng-iseng menyapa siapa saja yang online, kemudian memulai pembicaraan yang ga tau akan seperti apa ceritanya.


Sabtu :
- Sebetulnya saya harus pergi Medical Check Up di daerah Matraman untuk keperluan kantor. Duh, tapi masa hari sabtu pagi sih? Ga bisa ya datang telat saja ke kantornya hari Senin nanti?

- (Kalau saya menunda Medical Check Up) Paginya saya akan di depan laptop, meng-upload foto-foto saat akhir pekan lalu ketika kumpul arisan dengan teman-teman kuliah.  Facebook-an atau membuat Twitter (teman saya Acit, memaksa untuk segera bikin Twitter, katanya saya bisa kalah eksis kalau ga punya Twitter. Padahal saya ga ngerti, Twitter itu ngapain sih?!)

- Kemudian, saya akan menulis essai tentang buku yang sudah selesai saya baca beberapa minggu lalu. Bukunya Happy Salma feat. Pidi Baiq - Hanya Salju dan Pisau Batu, saya temukan banyak sekali salah ketik dan kesalahan tanda baca di buku itu. Semoga malasnya tidak kumat, jadi bisa selesai cepat. Essai ini akan saya gunakan untuk..., hmm, ada deh. Hehe!

- Just in case, jika malas menulis essai tentang buku Happy Salma itu, mungkin saya akan membaca Bilangan Fu-nya Ayu Utami saja. Saya (masih) tergila-gila sama Parang Jati setelah membaca Manjali dan Cakrabirawa waktu itu.

- Sorenya, (mungkin) akan datang ke kantor pacar saya, kemudian pergi ke Senen untuk ambil pesanan jok mobil.

- Malamnya, saya akan ke Pusat Kebudayaan Belanda, Erasmus Huis, untuk nonton konser Re-Play. Sudah berencana akan ketemu beberapa teman juga di sana. Kalau tiba-tiba hujan deras, mungkin saya batal datang, dan menghabiskan waktu di rumah saja, baca buku lagi atau leyeh-leyeh saja. Karena konsernya outdoor, ga mood kalau harus hujan-hujanan nanti.

Minggu :
- Saya akan dirumah saja rasanya. Mungkin ya melanjutkan baca buku sisa dari hari kemarin. Atau akan merenung-merenung lagi di kasur seharian, siapa tahu ada inspirasi buat menulis.

-Membaca tulisan-tulisan di blog orang-orang lain juga salah satu hobby jika ga ada kerjaan di rumah. Ini salah satu blog favorite saya, Life, Love and Bad Hair Days. Cerita-ceritanya sering menginspirasi dan beberapa ada yang mirip sekali dengan kisah-kisah saya.

-Hmm, kalau suntuk karena sendirian di rumah, how about SHOPPING? Iya, kayanya ide bagus juga. Shopping sendirian, tapi masih belum tau kemana.


Well, saya rasa itu saja rencana untuk akhir minggu ini. Lajulah wahai waktu, biar bisa segera bertemu Sabtu Minggu.


Tuesday, November 2, 2010

Menunggu Waktu

kita seperti menunggu waktu
menunggu, menunggu, tanpa tuju
sementara detik detik setia, seperti tak ada habisnya
mengukir kenangan kita
yang mungkin nanti tersisa

sementara kita hanya menunggu
seperti sebuah kebodohan
tapi seseorang berkata, "kau hanya ketakutan."
ketakutan yang memenjarakan
membuang-buang waktu pada yang (mungkin) menunggu di luar sana.

sayang, kita hanya menunggu karena ketakutan
yang begitu tak terkira. sementara kau kira laju?

padahal kita berjalan di tempat, dalam kabut lindap
dalam gelap tak berpelita, tanpa arah tujuan

Jakarta, 2 November 2010


Saturday, October 30, 2010

Mati Rasa

jika hujan adalah kesedihan, maka rintiknya
bukanlah tangisku lagi.
karena hatiku batu yang tak mengalir airmata

jika matahari adalah terik, maka panasnya
bukanlah amarahku lagi
karena hatiku batu, mati rasa.


Thursday, October 28, 2010

Hujan Yang Menyambutmu

pada masa ini mendung selalu berarti hujan, bukan?
kucium wangimu di kotaku
menghapus debu-debu ibukota
supaya panas tak ada
supaya kau bukan fatamorgana

hujan turun pagi ini
meski hanya gerimis
dan awan mendung malu-malu
menyambutmu
biar teduh, biar rindang
bahagia hati kita


LinkWithin

Related Posts with Thumbnails