Thursday, July 22, 2010

Kritis

rasaku di ambang batas.
aku bimbang.
aku ragu terhadap rasa.
aku letih dengan kamu.
menghadapi kamu yang selalu begitu.
aku tak mau.

rasaku hampir mati jika kita terus-terusan begini.
mungkin terbesit aku tak sanggup lagi.
aku keras kepala, engkau juga.
kau ingin selalu memegang erat, sementara aku pemberontak.

"jangan pegang aku, sayang, aku tidak ingin digenggam. lepas saja, biarkan. bimbing aku dari dekat, itu saja. jika aku salah arah, tarik sedikit, tunjkan kembali jalannya."

aku kritis. dadaku sesak. pikiranku mumet hanya memikirkan kamu melulu.
aku bimbang. aku ragu. aku takut.
aku tidak berani ngaku bahwa sepertinya cinta kita di ujung tanduk.

ak ingin berteriak.
aku ingin menangis.
tidak, tidak ingin menagis.
aku hanya sesak.
aku hanya hampa.
menangis, aku sudah letih, bosan.

sayang, mampukah aku bertahan? atau aku harus melepaskan. aku tidak mau taruhan. taruhan dengan masa depan, dengan kehidupan.

cinta ini perjuangan. hubungan kita sudah kau tahu kan sejak dulu, berat sekali perjuangannya. aku bertahan. aku menahan makian dari belakang. aku tahan malu dari hinaan. kau tak perlu tahu, aku memang rahasiakan. sebab aku hanya ingin berjalan dengan kamu saat itu.

tapi sekarang?
aku kritis. kita kritis.
aku tak sanggup lagi. ini bukan yang aku mau.

badanku lunglai tak napsu makan, memikirkan kamu.
nadiku lemah, darah tak mengalir, memikirkan kamu.
otakku letih, penuh debat, memikirkan kamu.
dadaku sesak, jantung tak berdetak, memikirkan kamu.
mataku kosong, hilang harapan, memikirkan kamu.

kenapa aku memikirkan kamu ya? aku ingin aku memikirkan aku. aku ingin aku bahagia, aku ingin lepas, aku ingin tiada lagi rasa sesak dan terus berdebat.

kita memang berbeda, sayang. tapi berbeda namun menghormati itu yang benar.
kita beda paham namun saling mengerti itu yang seharusnya.
kita berdebat beda pandangan tapi saling mengalah, itu lebih baik.
kita egois tapi tak memaksa kehendak, itu menghargai.
kita beda jalan tapi satu tujuan, harusnya bisa membawa kita pada tempat yang sama.

tapi kau terlanjur kritis. aku ragu.
takut padamu.
aku merenung.
aku sadari rasa ini pudar perlahan.
aku kritis.
aku hampa.

Sayang, aku ingin sendiri.



PS: Mampukah kau pupuk kembali rasaku, agar aku tak ragu?


No comments:

Post a Comment