Monday, July 26, 2010

Dialog 1

July 24, 2010

"jangan memaksa lagi kita nyata. nanti ada yang terluka. biarkan kita maya. jangan tanya mengapa."

"kau terlalu cemas."

"aku memang cemas."

"singkirkan lah!"

"dadaku nyeri memikirkan kamu. dalam dimensiku yang nyata, yang tak ada kamu, bahkan aku mengingatmu. bagaimana aku tak cemas?"

"aku suka kamu. aku tak tahu mengapa sekarang sering kangen kamu."

"sudahlah! jangan lanjutkan lagi. aku takut."

"jika aku memang pisau, tapi berjarak. bagaimana melukaimu?"

"bagaimana kau tahu aku tidak terluka? aku takut. takut mengaku kalau aku juga kangen kamu."

"mengapa?"

"aku tidak ingin dada ini nyeri saat bersamamu. tidak ingin getaran ini menjelma rasa takut."

"bernafaslah dengan lega, seperti biasa. jika kau cemas, aku juga cemas."

"tenanglah! akan kusingkirkan."

"Alhamdulillah."

"kau bersyukur?"

"ya, jika kau tidak cemas lagi."

"tetaplah seperti biasa, ya! tempat nyaman aku bercerita. jika aku berlari kepadamu, tangkap aku dengan pelukmu yang biasa, yang memberi rasa lega."

No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails