Wednesday, July 13, 2011

Menunggu Waktu


Aku kira, detik masih bergulir. Dan rasanya kita masih akan punya ribuan waktu. Menghabiskan hari-hari denganmu di sebuah sore dengan senja yang jingga atau malam yang dinginnya hangat karena pelukmu. Mungkin juga sebuah pagi yang menyenangkan tanpa digegas rasa buru-buru. Aku akan masih bersamamu, dengan rasa yang sama. Penuh cinta. Keyakinanku tetap teguh, meski detik-detik makin gugur. 

Tapi menurutmu, apakah menunggu sebuah waktu itu terlalu lama? Maafkan kalau dalam perjalanan ini rasanya seperti labirin bagimu, berputar-putar dan aku tidak cukup membantu dalam menentukan arah. Aku memang tidak pandai membaca peta, kerap takut melangkah.

Bekalku hanya keyakinan bahwa aku ingin selalu bersamamu. Aku tidak janjikan bahwa jalanan di depan, ketika musim demi musim telah kita singgahi, tidak akan pernah suram atau meredup cahayanya. Tapi yakinlah juga --sebab ragumu membuahkan sembilu-- dan saling mengeratkan genggaman, maka percaya saja semua yang dilalui bersama akan mengarah satu tujuan: bahagia.

Seperti ada yang berbisik di telingaku. Keyakinan pun butuh waktu ternyata, sayang. Tak apa, kan? Semoga kau tak bosan. Menunggu lebih lama sedikit mungkin membantuku lebih pandai membaca peta. Hingga nanti kita tak risau akan tersesat.

Kita masih akan punya ribuan waktu untuk dihabiskan bersama, semoga. Rekatkanlah keyakinan seraya menguatkan doa-doa, dan kita tinggal menunggu waktu. 

Tak akan lama.

Jika, kau dan aku percaya. :)




2 comments:

  1. nice one Meida :) buat pacarnya apa suami nih? hehehhee

    ReplyDelete
  2. buat calon suami deh, hehe...

    ReplyDelete

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails