Wednesday, April 28, 2010

Kala Sepi


Andainya kumampu mengerti kecewa, memahami sakit hati, lalu memaklumi semua rasa. Takkan tiap-tiap malam ku menangis. Kala sepi menjadi setia padaku, kau pudar, kasihku. Merindumu dalam diam yang tak berkata, mengenangmu dalam sakit hati yang selalu tiba-tiba hadirnya. Hati yang tiba-tiba sesak oleh semua rasa itu; rindu, kecewa, luka, terabaikan, dilupakan, dipermainkan.



Malam itu, al…

Tidakkah kau ingat pesan yang kau kirim padaku. Dimana kau kata ingin membagi segala dan membuatku tersenyum. Sadarkah kau aku hanya selalu menangis di sini. Bahkan saat kau ada yang dalam bayang-bayang fana pun, aku menangis terkadang tanpa tau sebab mengapa. Sebab mungkin kau tak nyata. Sebab mungkin sesungguhnya sepi itu tetap ada, atau mungkin sebab rasa yang kau cipta.



Kau kira kita bisa senang dan bahagia hanya dalam kata-kata yang senantiasa menghubungkan kita. Tapi aku ingin nyata, al… Itu mungkin sebab aku menangis di kala kau ada namun sepi tetap terasa.



Maafkan aku bila tak memahami. Maafkan aku hanya ingin menang sendiri. Tapi aku berharap padamu, al… Harap yang ku tahu sia-sia. Karma kah ini? Ia berkata padaku, bahwa sebagai perawan, aku selalu punya dosa. Ia bilang: “Salahmu adalah membuatku selalu ingin menyapamu. Mungkin itu salah yang tidak kamu sadari. Membuat lelaki berharap.”



Salahku kah? Bukan kah itu juga salahmu? Membuatku selalu ingin menyapamu dan berharap padamu. Kenapa perempuan yang harus tanggung derita? Kau di sana, al… Berharap wanita itu kembali padamu dengan rasa yang sama seperti dulu, ya kan?! Tapi kau sendiri ragu. Dalam rasa cinta yang masih teramat besar untuknya, namun kau juga kecewa didua. Ya kan, al? Kau kira aku tak tau apa-apa? Aku tau lebih dari yang kau fikir. Kau tak pernah terbuka tentang ini. Dan kau kira aku perempuan bodoh yang mau diam saja dalam rasa yang ingin tahu segala tentang kau dan dia.



Di kala wanita itu tak di sisi, di hari kau ucap inginkah ku jadi milikmu, ketika aku ragu luar biasa sebab takut segala, lalu kurelakan semua rasa dan berharap yang terjadi, terjadi lah… Lalu kau hempas aku dalam kecewa dan luka. Mengatakan kita tak bisa bersama. Kau ucap segala alasan agar inginmu itu terasa nyata.

Siapa yang gila kini, al? Aku yang terlalu bodoh. Kau bahkan tak ucap sayang atau cinta. Berdasar apa kau ingin aku jadi milikmu? Rasa tiba-tiba yang kau kata tak mampu kau jelaskan. Kau bahkan tak mampu beri alasan mengapa berbuat itu dan kemudian menolakkan sendiri.



Subuh ini, kala sepi setia merasuki tubuhku, aku merindumu. Hangat airmata yang tau pedihnya hatiku menantimu. Pada kecewa dan sia-sia aku mencintaimu.



Al, akankah kau cari aku kala sepi menghampirimu?



Aku di sini, al…

Setia menantimu seperti sepi setia untukku.

No comments:

Post a Comment