Tuesday, February 22, 2011

Enjoy Jakarta, Enjoy Museum!*

Saya dan Shanti udah mendadak seperti turis dari luar kota hari minggu lalu. Jam 11 siang kami ngejogrok di depan pintu masuk Museum Gajah di Jl. Merdeka Barat 12 Sambil menunggu teman-teman yang lain datang. Berdua duduk selonjor saja di tangga dekat tempat penjualan tiket masuk, cerita-cerita sambil ngeliatin abang-abang yang jualan souvenir di sana.


Hari minggu lalu, saya dan beberapa teman iseng jalan-jalan dan foto-foto, kelilingan museum di Jakarta. Awalnya rencana kami mau mengunjungi Museum Prasasti di daerah Tanah Abang. Daboe, Iboy, Shanti, Kiki, Adis dan saya janjian jam 10 pagi di halte TransJakarta di Dukuh Atas. Tapi saya dan Shanti dianter langsung ke Museum Gajah, sementara yang lain tetap janjian di tempat semula. Jam karet sepertinya udah jadi langganan setiap ada acara kumpul-kumpul. Sekitar jam 11an kami semua baru ketemu.

Awalnya saya kira kami akan langsung ke tempat tujuan utama, yaitu Museum Prasasti. Tapi karena ketemuan di Museum Gajah, akhirnya kami masuk dulu. Tiket masuk masih murah meriah, cuma Rp 5.000. Terakhir kali saya ke sini rasanya waktu semester awal kuliah, dengan keluarga, saat itu harga tiket masuk masih Rp 2.000. Museum Gajah yang sekarang sudah memiliki gedung baru yang lebih modern. Ini pertama kali saya datang untuk melihat gedung baru itu.



Jalan-jalan kami cuma kebanyakan foto-foto sama cekikikannya. Ini adalah potret dari perempuan-perempuan kurang kerjaan yang cuma mau have fun. Hahahaha...! Ada dua orang turis Belanda  yang kami lihat betul-betul membaca setiap keterangan yang ada di artefak-artefak di dalam museum itu. Sementara kami cuma cari objek yang asik dijadiin tempat foto-foto. Hehehe... Puas kelilingin semua ruangan di Museum Gajah perut mulai keroncongan, jam juga sudah menunjukan untuk waktu makan siang. Jadi kami memutuskan cari makan sambil tunggu Oneng yang mau nyusul habis selesai liputan dari Epicentrum. 

Akhirnya kami memutuskan untuk mampir dulu di Gajah Mada Plaza, yang ga terlalu jauh dari sana. Dengan dua taxi yang argonya gak sampe Rp 10.000 per taxi akhirnya sampai juga di Plaza yang seumur-umur belum pernah saya singgahi. Acara makan berlangsung dengan khidmat karena semua sudah mengalami lapar akut. Selesai makan kami berencana melanjutkan ke Museum Prasasti. Saya sempat sms Jajang mengajak dia untuk nyusul sehabis mengajar di kampus. Tapi sms Jajang menghancurkan segalanya, haha...*lebay ya?!* Selain dia bilang ga bisa nyusul ternyata dia bilang Museum Prasasti jam setengah 3 sore juga sudah tutup. Saat saya melihat jam, angkanya menunjukan jam 14:20. Tinggal sepuluh menit lagi sebelum museumnya tutup.

Tak ada rotan, akar pun jadi. Tak ada Museum Prasasti, Kota Tua pun jadi. Hehehe... Akhirnya tujuan pun dialihkan ke Kota Tua. Walaupun kata Jajang semua museum tutup di jam yang sama, tapi tetap pantang menyerah dalam urusan foto-foto dan jalan-jalan. Lagian ke Kota Tua gak perlu masuk museum, masih banyak gedung-gedung yang bisa dijadiin objek foto. Karena gak tau mau naik apa kami dengan PD-nya nanya tukang angkot yang kebetulan mangkal di depan Gajah Mada Plaza, kami cuma bilang mau ke Kota Tua dan pak supirnya bilang angkot dia lewat sana. Ya sudah kami segerombolan naik ke dalam angkot yang jalannnya kaya Odong-odong. Sepanjang jalan ada saja hal gak penting yang diomongin dan dikomentari. Nama-nama jalan yang kebetulan kami lewati pun bisa jadi bahan untuk cekikikan. Inilah senangnya saya pergi dengan teman-teman yang gila-gila ini, BEBAS STRES!

Sampai di Kota Tua suasananya ramai sekali. Ini sih mirip pasar malam (walaupun masih siang). Saya juga sudah lama gak ke sini, suasananya beda total! Saya terakhir kali ke sini di bulan Desember 2007. Waktu itu pelataran di depan Museum Fatahilah juga masih sepi. Ya, memang ada saja orang yang duduk-duduk di sana, melukis, foto-foto, orang-orang yang berjualan, tapi sumpah, sekarang beda banget! 


Sepanjang jalan penuh sama gerobak orang jualan makanan dan minuman. Ada juga yang menggelar dagangannya, persis kaya Blok M deh ini namanya. Mulai dari Tatoo temporary, penjual sendal, kalung, sepatu, sampai peramal yang cuma duduk mojok dekat tembok gedung-gedung tua pun ada. Buat saya pribadi, jadi ga terasa suasana kota tuanya. Di depan Museum Fatahilah sekarang banyak disewakan sepeda ontel warna-warni lengkap dengan topi kompeni dan noni belanda. Seru sih, tapi  keramean. Ah, hilang suasana kunonya!



Kami ga mampir ke museum apa pun di kawasan Kota Tua ini. Kami terus saja jalan sampai ke belakang Cafe Batavia. Tujuan kami berikutnya adalah Jembatan Kota Intan atau orang-orang biasanya bilang Jembatan Merah. Cuaca siang itu lumayan menguras keringat, padahal sudah mau menjelang sore. Saya pribadi selalu punya ketertarikan dengan gedung-gedung tua, makam-makan kuno, candi-candi, artefak dan peninggalan-peninggalan jaman dulu. Jadi meski panas-panasan tetap saja saya senang melihat gedung-gedung tua sepanjang jalan itu. Hal yang selalu disayangkan adalah tidak terpeliharanya peninggalan-peninggalan tersebut yang tertinggal hanya sebagai rongsok. Dan satu hal yang selalu saya benci dari tempat yang seharusnya bisa dijadikan objek wisata yang baik adalah masalah kebersihan. Sepanjang kali besar menuju Jembatan Merah aroma busuk air kali saja yang menemani kami. Airnya kental dengan sampah.



Di Jembatan Merah yang kami lakukan lagi-lagi cuma foto-foto dan duduk-duduk, hehe... Mungkin sekitar satu jam lebih kami ada di sana. Setelah itu kami balik ke pelataran Museum Fatahilah, di sini cuma duduk sambil makan dan minum menghilangkan capek kaki yang seharian jalan. Saat sudah hampir gelap kami baru balik menuju halte TransJakarta di Kota. 

Jalan-jalan menghilangkan jenuh dan stres seperti ini dengan teman-teman buat saya selalu menjadi kegiatan yang menyenangkan meski selalu ditutup dengan rasa letih. So, kita tunggu rencana berikutnya untuk mengunjungi museum yang gagal hari ini, Museum Prasasti.


*Status BBM-nya Daboe hari itu. :D


No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails