yang ada
tiada
tak pernah
ada
tak menyapa
yang ada
tiada
apa-apa
yang terasa
benar-benar, ternyata
tiada
tak pernah
ada
Bekasi, 16 Januari 2010
ketika awan mendung, aku akan berlari keluar, bertelanjang kaki dan menari bersama rinai hujan. Dalam basah akan kutemukan inspirasi, maka pada kata-kata ini kukristalkan dingin kisahnya
Sunday, January 16, 2011
Friday, January 14, 2011
Hujan Menghutan Kabut*
perjalanan perih
kita serupa dua orang buta, meraba-raba
aku mencari kebahagiaan
engkau entah mencari apa
gerimis berderai-derai
hatiku kebas
tak makin mengakar kemana jua
perlahan nanti begitu juga
dengan hatimu
badai makin kencang
kita makin gagu
gigil senang menyerang
sementara aku kehilangan pedang
siapa menjelma panglima
lawankan gelegar petir untukku
hujan begitu deras
tiap pagi, tiap siang, tiap malam
pandanganku mengabut
tersesat pada hujan yang kau kirimkan
Jakarta, 14 Januari 2011
*status siang Cunong S. Suraja
kita serupa dua orang buta, meraba-raba
aku mencari kebahagiaan
engkau entah mencari apa
gerimis berderai-derai
hatiku kebas
tak makin mengakar kemana jua
perlahan nanti begitu juga
dengan hatimu
badai makin kencang
kita makin gagu
gigil senang menyerang
sementara aku kehilangan pedang
siapa menjelma panglima
lawankan gelegar petir untukku
hujan begitu deras
tiap pagi, tiap siang, tiap malam
pandanganku mengabut
tersesat pada hujan yang kau kirimkan
Jakarta, 14 Januari 2011
*status siang Cunong S. Suraja
Thursday, January 13, 2011
Yang Tidak Terbeli
baru saja empat hari ibunya pergi ke negara empat musim itu, ia merasa ketakutan pagi ini. mungkin udara yang begitu muram membuat hatinya merasa berduka. hujan hampir setiap malam turun begitu kencang, membuat ia selalu merapatkan lagi selimut sampai ke dagunya. ia memikirkan ibunya. bagaimana jika ibunya tidak pernah kembali lagi? akan seberapa berat hidupnya nanti? dengan ayahnya yang makin menua dan sakit-sakitan, adik perempuannya yang kebetulan sedang sakit dan terlihat seperti mayat berjalan. lunglai. dan adik lelakinya yang masih harus menyelesaikan kuliahnya.
sebagai anak pertama ia merasa ada beban yang begitu berat yang harus dipikulnya. belum lagi lelaki yang selalu menitipkan harapan setiap malam di bahunya. semacam ada kotak kaca berisi mimpi-mimpi yang tidak pernah letihnya lelaki itu mendesak-desakkan isinya sehingga kotak itu bisa menampung lebih banyak mimpinya. sementara ia ingin mengatakan, "aku tidak sanggup lagi."
kadang, ada sebuah kondisi yang membuat kita tidak mampu melawannya. gadis itu, dengan segala bebat yang selalu dibawanya kemana-mana, merasa lebih baik ia menerima pinangan lelaki itu. lelaki yang tidak dicintainya. meskipun akan mederita berkepanjangan tapi akan membantu keluarganya dalam situasi yang lebih baik. lelaki itu akan menolongnya. setidaknya, ia masih punya tempat untuk bersandar dan ada yang memeluknya ketika ia menangis.
Tuhan maha pembuat rencana. maka ia percaya saja, bahwa masih ada keriaan yang rahasia yang telah Tuhan persiapkan untuknya nanti. ia hanya harus belajar merelakan mimpi-mimpinya sendiri. mimpi-mimpi yang tidak pernah terbeli. tidak pernah terbeli...
Tuhan maha pembuat rencana. maka ia percaya saja, bahwa masih ada keriaan yang rahasia yang telah Tuhan persiapkan untuknya nanti. ia hanya harus belajar merelakan mimpi-mimpinya sendiri. mimpi-mimpi yang tidak pernah terbeli. tidak pernah terbeli...
Wednesday, January 5, 2011
Ia Hanya Bunga
: Jajang Nurjaman
kuntum bunga rekah menebar wangi
harum madu di tamanmu
kau ingin menjelma embun
yang mengecup lembut pipinya
setiap pagi sebelum mentari
lebih dulu membangunkannya dari mimpi
bunga rekah menebar wangi
mengundang lebah-lebah menari, disekelilingnya
sementara ia hanya bunga
yang menggoda setiap mata
mungkin bukan salahnya juga merona
kau burung gereja yang hinggap
di dahan pohon itu
menyanyikan lagu merdu untuknya
(meski bagimu mungkin itu lantunan lirih)
menghiburnya, mungkin juga menggodanya
menemani sepinya
pada taman yang tak berpenghuni
tapi ia hanya bunga
merekah yang menebar wangi
yang senang menggoda
tanpa acuh dengan risaumu
Jakarta, 5 Januari 2010
kuntum bunga rekah menebar wangi
harum madu di tamanmu
kau ingin menjelma embun
yang mengecup lembut pipinya
setiap pagi sebelum mentari
lebih dulu membangunkannya dari mimpi
bunga rekah menebar wangi
mengundang lebah-lebah menari, disekelilingnya
sementara ia hanya bunga
yang menggoda setiap mata
mungkin bukan salahnya juga merona
kau burung gereja yang hinggap
di dahan pohon itu
menyanyikan lagu merdu untuknya
(meski bagimu mungkin itu lantunan lirih)
menghiburnya, mungkin juga menggodanya
menemani sepinya
pada taman yang tak berpenghuni
tapi ia hanya bunga
merekah yang menebar wangi
yang senang menggoda
tanpa acuh dengan risaumu
Jakarta, 5 Januari 2010
Tuesday, January 4, 2011
Ia, Begitu Rahasia Menyimpan Duka
aku pernah melihat tawa
dari bibirmu yang merekah merah
canda yang kau kirimkan
pada percakapan petang kita
rindu yang kau sisipkan pelan-pelan
di bawah bantalku, pada malam-malam hujan
agar kita saling berpeluk dalam mimpi
mendadak, senyummu menjelma kemuraman pagi
yang tak disapa mentari
hatimu memalsu, menggambar raut
yang pura-pura, hanya menempel
sebagai topeng berwajah ceria
aku ingin menjelma kuntum bunga
yang merekahkan senyummu kembali
pelukan gerimis yang menenangkan resah daun-daun
dari angin sore yang nakal
menyanyikan lantunan tik... tik... tik...
namun kau bukan ilalang
yang mudah goyang
kau pokok yang angkuh
yang membisu cerita, diam saja
merahasiai bagaimana bunga-bunga
mekar lagi dari tubuhmu
aku rumput yang tumbuh
di bawah teduhmu
menemanimu saja
sambil bertanya-tanya
kenapa?
Jakarta, 4 Januari 2011
dari bibirmu yang merekah merah
canda yang kau kirimkan
pada percakapan petang kita
rindu yang kau sisipkan pelan-pelan
di bawah bantalku, pada malam-malam hujan
agar kita saling berpeluk dalam mimpi
mendadak, senyummu menjelma kemuraman pagi
yang tak disapa mentari
hatimu memalsu, menggambar raut
yang pura-pura, hanya menempel
sebagai topeng berwajah ceria
aku ingin menjelma kuntum bunga
yang merekahkan senyummu kembali
pelukan gerimis yang menenangkan resah daun-daun
dari angin sore yang nakal
menyanyikan lantunan tik... tik... tik...
namun kau bukan ilalang
yang mudah goyang
kau pokok yang angkuh
yang membisu cerita, diam saja
merahasiai bagaimana bunga-bunga
mekar lagi dari tubuhmu
aku rumput yang tumbuh
di bawah teduhmu
menemanimu saja
sambil bertanya-tanya
kenapa?
Jakarta, 4 Januari 2011
Subscribe to:
Posts (Atom)


