Showing posts with label Puisi Hujan. Show all posts
Showing posts with label Puisi Hujan. Show all posts

Monday, December 31, 2018

Hujan Di Luar Meratap

Hujan di luar meratap
Malam pun sepi
Ku tertegun pada kaca jendela
Menghitung rintik demi rintik
Detik demi detik
Melintas waktu begitu bergegas
Kemudian tersadar kita berjarak setengah lingkar dunia

Apa kabar di sana?

Angin musim gugur mengirimkan suara dari jauh kepadamu
Berdesing di telingamu
Tentang airmata yang panas


Salemba, 6 November 2018

Friday, August 12, 2016

Cahaya Pagi

Selalu, yang terkenang darimu
Adalah cahaya pagi
Ketika pijar pertama dan embun
Berkilau karenanya
Bahkan di sudut waktu yang muram
Oleh lembab udara yang kesal
Yang terkenang darimu adalah
Cahaya pagi



25 July 2016

Menenun Ingatan

apa yang tersisa sepeninggal kita adalah rasa yang menjadi usang
dan dinding waktu yang beku. waktu kita sampai di sini.

lalu kau dan aku sama-sama merapihkan buku, menyusun serak-serak lembar kenangan
yang padanya kita titipkan semacam harapan.

hingga sampai suatu waktu, kelak kita diserang rindu dan kita akan mulai memintal dari lembar usang berdebu itu, menenum ingatan, tentang rasa yang t'lah dilupakan

dan kelak pula saat itu kita kembali saling menyalahkan
siapa yang lebih dahulu meninggalkan.


Jakarta, 26 Juni 2014

Tersiksa Sepi

apakah sepi yang membuatmu
menyerukan sunyi berulang-ulang
dan dadamu kosong; nyeri
yang kekal serupa mata belati

malam begitu lindap dan hujan turun di beranda
di dalam kamar kau tersiksa rasa yang ganjil
yang membuatmu kerap bertanya-tanya
apa benar karma itu ada?



Jakarta, 11 July 2014

Simpang Jalan

aku sampai pada suatu titik
berhenti
menggemakan namamu dalam kepala
mendebarkanmu dalam dada

kau simpang jalan itu
arahmu takkan kulalui lagi

hujan terlalu deras
untuk terus berlari
atau mengambil jalan pulang



Jakarta, 15 Juli 2014

Selingkuh

dalam pejam matanya
menciummu
yang dibayang
wajahku



Jakarta, 23 November 2015

Dalam Ingatan

sebab dalam ingatanku
kau tak pernah memilihku
maka jangan salahkan jika aku pergi
lalu kemudian kau merasa kehilangan
dan menyesal


Salemba, 13 Desember 2015
22:56

Untuk: Capung Hijau

aku adalah daun kering yang jatuh
layu, sebelum tiba di tangamu
menjelma bunga rekah mewangi

aku adalah daun kering yang melayang
di pusaran angin yang
gemetar -
jatuh dan dilupakan

kau adalah aroma wangi pagi
di muka jendela
ingin kuhirup erat
lagi dan lagi

di tanganmu aku
adalah bayi yang ringkuk dan ingin
mendekap di dadamu
sepanjang hari



Salemba, 1 Mei 2016

Pulang Ke Kotamu

aku gentayangan
dengan perasaan gamang berkepanjangan
apa yang ingin aku kenang sebetulnya?
sebab di jalanan ini kita tak pernah
melangkah menggores cerita

pulang ke kotamu

hanya kebodohan-kebodohan
yang menghantui diri
lagi dan lagi
apa yang aku cari?

(seakan) ada yang berkata.

"kau pandir
dan terus menerus menggali 
kecewa"



16 Mei 2016

Di Kotamu

di kota ini tak ada lagi kenangan
yang kubawa pulang
aku merasa asing, sepi dan sendiri
bau pagi hanyalah tentang sakit hati
kenangan lama hanyalah tentang kecewa

kau selalu muncul sebagai rasa penasaran
dan aku mencintai kemungkinan-kemungkinan
yang diciptakan kepalaku sendiri



Jakarta, 17 Mei 2016

Senja Yang Cemas

barangkali adalah air laut yang pasang surut cinta kita itu. kau menjadi asin gelombang yang terus menyapu jejak kakiku di gigir pantai itu. lukaku perih dan tak kunjung sembuh, tapi seperti yang kelak kau tahu, aku selalu saja mencari dan menghampirimu.

kehilangan adalah hal yang sederhana, katamu, maka berbahagialah. tapi senja selalu menuntunku pada cemas. menculik satu demi satu kelip bintang yang sering kita eja di beranda malam-malam.

telah sekian lama aku lupa bagaimana menyalakan lentera di kepalaku. untuk tetap ingat bahwa matamu lah kunang-kunang penghias gulita. untuk tidak alpa bahwa aku pernah mengasihimu.

tapi senja selalu menuntunku pada cemas. bagaimana nanti aku mengingatmu saat gelap? sementara kenangan semakin surut pada magrib yang basah.



Jakarta, 17 Mei 2016

Kau Yang Dijemput Hujan

kau yang dijemput hujan, singgah datang ke rumahku
katamu, hujan hanya persoalan dingin dan basah
ada yang berbisik dalam hatiku,
"ada yang ingin menipumu"

bagaimana bisa kau menduga aku tak tahu
bahwa hujan selalu tentang kesedihan
yang turun tanpa boleh berharap
menggapai langit

ketika hujan berhenti
aku tak menemukanmu
dimana-mana



Jakarta, 17 Mei 2016

Sepeninggalmu Adalah Doa Serta Jalan Terjal Yang Berliku

sepeninggalmu adalah doa,
serta jalan terjal yang berliku

sebetulnya aku benci untuk selalu
mengambil arah menuju stasiun,
menjemput kereta, untuk pergi
dan tak tahu kapan kembali
tapi apa yang tersisa dari kota ini,
selain aku yang tersudut

sebab sejak mula aku thahu
kau takut merindukanku


"ada yang cemburu," bisikmu.



Salemba, 23 April 2016

Tuesday, February 2, 2016

Semalam Hujan Jatuh Di Alun-alun Kota

Di kota itu kelak kujumpai kau mengumpulkan gerimis sisa semalam


Semalam hujan jatuh dialun-alun kota
Dan wajahku tengadah pada purnama
Cahaya...
Aku tak punya gambar tentang kau yang berjalan menujuku
Atau tentang kita yang bercengkrama
Atau tentang jemari yang digenggam dan kupandang
kau tersenyum

Aku tak punya gambar tentang kau yang pergi
Tentang kau yang memilih dia di kota ini
Tapi semalam hujan turun di alun-alun kota
Dan rintiknya jatuh di wajahku yang tengadah

Larut menghapus duka



Salemba,1 Februari 2016

Monday, January 18, 2016

Kelak Akan Kupertanyakan

Kelak nanti suatu hari kukunjungi kotamu.Pertama dan terakhir kali akan kupertanyakan tentang cinta yang selama ini hanya diterka-terka. Akan juga kusampaikan beribu-ribu tanya kenapa.

Hingga senja berubah warna
Hingga malam turunkan gerimis
Dan desir angin menjadi gigil di tubuhku

Saat itu kutamatkan kisah tentangmu.



Salemba, 16 Jan 2016

Kukubur Namamu

Aku kubur namamu pada ingatanku yang paling dalam. Kugali makam untuk kenangan-kenangan.
Senja mengubah warna lantas apa tentang kita?
Cintaku tak bisa apa-apa.

Kereta tak datang lagi di stasiun. Hanya keresahan yang lindap menyusup hening di antara rel-rel kereta yang dalam ingatanku pernah mengantarkan dirimu di masa lalu.

Tapi apa arti pulang bagiku?
Di simpang jalan telah kulihat kau memilih jalan lain. Tak menuju rumah.


Salemba, 15 Jan 2016

Saturday, January 9, 2016

Kita Pengkhianat

aku telah tau sejak dulu, bahwa perjumpaan kita hanya akan menuju pada pengkhianatan.
(sketsa daun-daun jatuh - Galih Pandu Adi)


tahun-tahun kita berlalu dalam desir angin
yang sepi dan kering
detik-detik berdetak berkejaran
dan kenangan tumbuh menjadi belati
aku tak pernah bisa menerkamu
dan pula, bagaimana cinta di dadamu
tahun-tahun berlalu dan kita
telah jauh tersesat
kita tumbuh menjadi
pengkhianat
berkilah dengan kenyataan
dan berakhir dengan memaki
diri sendiri


Salemba, 13 Desember 2015

Sunday, November 1, 2015

Orang Asing

Aku mengingatmu sebagai payung di hari ketika hujan turun begitu lebat. Sekelebat kau juga muncul sebagai ingatan akan lengan cahaya yang selalu hangat mendekap.

Tapi waktu membawa kita pada jarak yang jauh.
Dan kenangan-kenangan tersapu angin.
Waktu menjadikanmu orang asing di pintu rumahku.


Salemba, 1 November 2015

Friday, November 7, 2014

Mendengarkan Malam

kita berdua duduk
di tepi senja yang perlahan luruh
dengan kata-kata yang tiada
sampai malam pun tiba

hanya ada senyuman dan purnama
dan desau angin yang semilirnya
menggoyangkan helai-helai rambutmu

kita berdua duduk
mendengarkan malam
menghitung detik-detik yang berlalu
dengan senyuman yang diam
dan kisah yang tak terungkapkan


Jakarta, 7 November, 2014

pic from here

Friday, June 13, 2014

Aku Batu

aku dipaksa menjadi batu
batu yang keras dan mati rasa
sehingga ketika kalian melemparku dari ujung jurang
aku hanya akan hancur tanpa rasa

aku adalah batu
batu yang tak punya rasa
sehingga ketika kalian menginjak-injakku
aku takkan merasa apa-apa

aku dipaksa menjadi batu
dan menyaksikan kalian tertawa-tawa



Jakarta, 13 Juni 2014
-ketika hati dirundung mendung sementara matahari terik di luar sana-