Thursday, October 13, 2011

Bukan Batu

aku memang tak mampu membedakan raut bagaimana menjelma perempuan bodoh atau menahan cinta yang luar biasa. tapi aku tidak akan sesederhana itu menjadi batu. berdiam dalam gelap yang dingin. menahan saja segala rasa dan menjadi bisu. aku angin yang amuknya bisa memporakporandakan ranting-ranting yang tampak kuat itu dan dipercaya burung-burung memeluk sarangnya.

kata-kata yang sampai padaku mungkin saja tiba di ujung gang buntu. hingga aku hilang arah, tak tahu kemana akan menuju. tapi aku bukan batu yang bodoh membiarkan saja goresan-goresan terukir di sekujur tubuhnya, lalu luruh, menjelma debu. aku bukan batu. yang menikmati kematian dalam diam.

here

5 comments:

  1. dan aku pun bukan batu yang mampu tertempa hujan sampai hancur berserak pelan-pelan :)

    ReplyDelete
  2. sudah kodratnya batu menikmati kematian dalam diam. Mungkin ia senang dengan kondisi seperti itu. Kita manusia, mempunyai banyak pilihan untuk menikmati kodratnya... tetapi pada titik ini, bukan pilihan yang tepat untuk seperti batu...

    apakah ini sebuah keluhan pada hamparan batu-batu kering kebencian??

    ReplyDelete
  3. perempuannn... ah, kenapa rasa begitu tak berhati? :)

    ReplyDelete
  4. Ayu: Sama dong kita. aku kan juga bukan batu. :P

    Sam: Bukna keluhan. Jeritan! :)

    Accilong: Ah, lelaki! Selalu...

    ReplyDelete
  5. Bahkan batu pun akan bolong jika terus diterjang air.

    ReplyDelete

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails