Wednesday, May 5, 2010

Ibu


pada surga di kakinya, kau tertuju bersujud

menangis mengadu karena dosa,

yang pada ragamu mengalir telaga darah

karena cinta kasihnya.

lalu kini yang atas surga dunia

kau durhaka

lupa akan tiap tetes peluhnya di atas luka,

yang pasti perih,

namun kebas demi cinta.

adalah ibu laksana hawa

pemberi cinta pada jiwa yang dahaga

Rumah Putih


di Rumah Putih itu


kutemukan bahwa aku ternyata tak sendiri

tau bahwa ada inspirasi

tentang kau dan aku

lalu tentang Ia dan kekasihnya

yang bernasib sama dengan kita.



di Rumah Putih itu

pada ‘Rahim Kemarau’nya

aku tahu bahwa tawa mampu terbit

dari fajar air mata.


kau dan aku

yang berpisah sebelum berjumpa

seandainya kau tahu

sepeninggal dirimu

aku tersiksa

menangisimu setiap malam

hanya karena rindu


di Rumah Putih itu

akhirnya aku sadari

aku harus merelakan kau pergi

tanpa sedih, tanpa sesal



di Rumah Putih-nya

Ia dengan rela dan syukur

lalu dengan lega hati

membiarkan yang dicintai pergi

bersama kemarau

dan Ia yakin

kemarau akan selalu melahirkan hujan

yang akan menghapus jejak

saat kekasihnya pergi.



“Hujan pasti datang kembali, Meida. Meski itu bukan dia.”

Menanti Hujan


seandainya saja hujan yang selalu datang

akan menghapus kan kemarau saat kau pergi.

akan kutunggu tiap tetesnya jatuh

menghapuskan luka.

kau akan pergi entah kini atau nanti.

lalu hujan akan turun kembali.



aku tidak di sana, kasih

kau pun tak berada di sini.

maka kita tak boleh menjadi satu.

seandainya kau berfikir sama

cinta selalu memiliki hasrat untuk memiliki

tanpa terkait ikatan yang pasti.



aku sudah berhenti menangis

hanya menunggu hujan datang kembali

mengingatkanku pada kemarau

ketika kau pergi.



dimana kah cinta ini, kasih?

kita berpisah sebelum berjumpa.

pergilah…

tak apa.


aku di sini hanya menanti hujan datang kembali.

Kamu, Laksana Semua yang Tak Tertakdir Untukku


Hidup ini indah katanya

Tapi mengapa airmataku tak pernah berhenti mengalir

Nafas ini lega katanya

Tapi mengapa hatiku selalu sesak setiap menghembus

Cinta ini bahagia katanya

Tapi mengapa kau tak tercipta untukku

Fikiran ini bebas katanya

Tapi mengapa otakku hanya tertuju padamu

Hati ini ikhlas katanya

Tapi kenapa selalu pedih setiap mengenangmu



Jika indah mengapa ku menangis

Jika lega mengapa kurasa sesak

Jika bahagia mengapa ku bersedih

Jika bebas mengapa ku tak lepas

Jika ikhlas mengapa ku tak rela



Sebab mungkin…

Kamu ialah laksana semua yang indah, semua yang lega, semua yang bahagia, semua yang bebas, semua yang ikhlas.



Yang tak tertakdir untukku…

Duka Doa


Aku harus mencari malam dan sepi agar mampu menulis puisi. Namun di hari yang masih cerah, walaupun mentari terbenam sebentar lagi, kau masih berikan hangat yang nyata.

Tuhan, berikan senyum itu lagi di wajahnya. Yang kini melemah, berpeluh keringat tak berdaya. Dengar, ia sebut namamu dalam rintihan sakitnya. Hangtakan lagi hari-hari nya bersama mentari-mentari di pagi hari dan ketika hari petang.
Biarkan citanya tergapai dahulu. Ia masih ingin menari, masih ingin bernyanyi, agar dunia tahu ia ada.

Tuhan, dari relung-relung hatiku yang kosong, aku sungguh memohon. Kau yang senantiasa terjaga, yang mendengar segala doa. Bangkitkan lagi sang merpati. Biarkan kebas sayapnya melebar, kejar cahaya.

Tuhan, mungkin aku tidak pantas meminta. Di masa-masa aku lupa, tak pernah rindu namamu, maafkan lah. Dari segala yang paling suci aku mengingatmu.

Tuhan, kata-kata ini tidak seindah puisi yang kuukir di sini, namun jauh lebih sungguh-sungguh aku menginginkannya. Memohon dan meminta kepadamu.

Aku menunggu mukzizat itu. Aku tahu bahkan keajaiban pun butuh waktu. Tapi, kabulkan lah