Thursday, February 7, 2019

Pembuatan Visa Australia Secara Online, 3 Jam Saja!



Perjalanan saya ke Australia di bulan Desember 2018 lalu sebetulnya bukanlah sesuatu yang direncanakan. Kalau bukan karena my lifetime-favorite singer, Shania Twain, menyelenggarakan world tour yang mampir ke Australia, mungkin saya tidak pernah menginjakan kaki di benua ini.

Karena sebagai warga negara Indonesia kita wajib memiliki visa untuk mengunjungi negeri kangguru ini, maka sejak tiket konser sudah dikantongi, hal pertama yang saya cari tau adalah tentang persyaratan pembuatan visa Australia. Dari hasil browsing sana-sini, akhirnya saya ketemu lagi dengan blog Java Milk (dulu saat mau apply visa UK blog ini juga yang jadi panduan saya). Nah, dari sini saya tau bahwa sejak tahun 2017 kita sudah bisa mengajukan visa Australia secara online.

Keuntungannya apa mengajukan visa secara online? Dalam hal ini tentu kamu hemat waktu dan biaya, karena semua bisa dilakukan dari mana saja, tanpa perlu datang ke VFS di Kuningan City (tempat mengajukan visa Australia secara offline di Jakarta). Pembayaran bisa dilakukan dengan credit card, dan berhemat sekitar IDR 165,000 (biaya admin yang harus dibayar jika kamu mengajukan secara offline). Setelah submit semua dokumen persyaratan secara online, kamu tidak perlu datang lagi untuk interview, foto, atau pun pengambilan sidik jari. Hasil visa kamu akan dikirimkan via email.

Dari berbagai sumber yang saya baca, pembuatan visa Australia ini memakan waktu sekitar 30 hari kerja. Jadi sebaiknya kamu apply visa sekitar 1-2 bulan sebelum tanggal keberangkatan. Karena saya pergi di pertengahan Desember, maka sejak awal Oktober saya sudah mempersiapkan semua dokumen persyaratannya. Apa saja yang dibutuhkan?


Required Documents:

- Print dan isi formulir aplikasi visa (Form 1419 - untuk turis). Form bisa kamu download melalui website resmi VFS

- Passport halaman depan dan belakang yang masih berlaku minimal 6 bulan sebelum tanggal keberangkatan

- Semua halaman passport yang sudah ada cap imigrasi negara lain / Evidence of previous travel

- Foto ukuran 3,5 x 4,5 cm, background putih

- Akte lahir

- Kartu keluarga

- Print out rekening tabungan atau slip gaji selama 3 bulan terakhir

- Tiket pesawat pulang-pergi

- Bukti pemesanan hotel 

- Itinerary

* (Opsional) Jika aplikasi diajukan oleh orang lain maka harus mengisi Form 956a dan Form 1229 untuk anak di bawah usia 17 tahun.

Semua dokumen di atas harus kamu scan dengan baik (tidak buram, tidak blur, tidak kotor) dan disimpan dalam format PDF atau JPG. Untuk formulirnya tentu saja harus kamu isi terlebih dahulu sebelum di-scan ya. Biaya yang harus dibayarkan sebesar AUD 142 per orang.

Nah, karena saya ini bekerja sebagai freelancer, saya menyertakan beberapa dokumen penunjang juga. Karena apa? Pertama, saya pernah punya riwayat mendapat penolakan pengajuan visa (baca ceritanya di sini). Kedua, ya karena pekerjaan freelancer ini yang sering dianggap bisa "kabur" sewaktu-waktu, jadi daripada dianggap mau jadi imigran gelap, lebih baik disiapin aja dari awal bukti penunjangnya. Apa saja?


Additional Documents:

- Surat referensi dari semua perusahaan tempat saya bekerja sebagai freelancer
- Surat Nikah
- KTP
- Print out tagihan kartu kredit selama 3 bulan terakhir
- Print out rekening tabungan suami selama 3 bulan terakhir
- Slip gaji suami selama 3 bulan terakhir


Sama dengan dokumen di atas tadi, semua harus di-scan dengan baik (tidak buram, tidak blur, tidak kotor) dan disimpan dalam format PDF atau JPG.

Catatan: setelah di-scan, masing-masing dokumen diberi nama yang jelas. Misalnya, "Copy Passport Front and Back Side".

Setelah semua dokumen tersebut telah siap, langkah berikutnya adalah membuat Immi Account. Akun ini diperlukan jika kamu ingin mengajukan visa Australia secara online. Setelah membuat akun, akan ada email verifikasi yang perlu kamu klik sebelum lanjut ke proses berikutnya. 

Selanjutnya tinggal login ke Immi Account kamu, kemudian pilih New Application, lalu Visitor Visa (600). Lanjutkan dengan isian seperti lokasi kamu, alasan pengisian visa, data diri, sampai ke tahap upload.

Nah, ditahap upload ini kamu harus perhatikan, ada bagian "Required" dan "Recommended". Maka semua dokumen wajib persyaratan visa (passport, foto, itinerary, evidence of previous travel, bukti keuangan, family)  harus kamu upload ke bagian "Required". Jika ada dokumen penunjang bisa kamu upload ke bagian "Recommended". Setelah selesai tinggal klik "Submit Application".

Kamu akan menerima email "ÏMMI Acknowledgement of Application Received" dan tinggal tunggu deh email pemberitahuan berikutnya (IMMI Grant Notification) untuk hasil visa kamu. Jika dapat visanya maka bisa kamu print dan di-attach di passport kamu. Walaupun katanya tidak diperlukan, tapi saya tetap melakukan itu untuk jaga-jaga di imigrasi.

Dan tau apa? untuk pengajuan visa Australia saya yang pertama kali ini saya mendapatkan hasilnya hanya dalam waktu 3 jam saja. Dan multiple untuk 3 tahun. Wow, it was a big shocking for me, to be honest!


Disclaimer: lama proses pengajuan visa setiap orang bisa berbeda-beda, cerita di atas hanyalah pengalaman saya pribadi. Tapi katanya, katanya lho yaa, memang pengajuan visa Australia adalah salah satu yang paling mudah dan cepat.


Kiri: email setelah submit aplikasi, 12 Okt 2018, pukul 10:09
Kanan: email hasil visa, 12 Okt 208, pukul 13:05


Monday, February 4, 2019

Live My Life On My Own Terms

• Love myself first, then others. Self-love is not selfish, it's important.

• Menerima diri ini apa adanya. Belajar memaafkan masa lalu

• Be kind and be honest to myself first, then others.

• My happiness is my responsibility. And I don't responsible for other people's happiness.

• Sehat badan, sehat pikiran, dan sehat jiwa.

• I'm in control of my own life. Kehidupanku adalah pilihanku. Aku bertanggungjawab atas semua pilihan yang aku ambil.

• Hidup: 99% berusaha, 1% pasrah (atas ketetapan -Nya).

• I have a freedom to express myself and do what I want to do, as long as I know I don't bring harm to others.

• What others thinking about me is not my business.

• Don't compare my timeline with other people's timeline. Setiap orang memiliki waktunya masing-masing.

• I am enough and fullfilled.

• Work hard and be productive.

• Mandiri secara finansial dan mandiri secara pikiran.

• Bisa berbagi dan membantu lebih banyak secara materi dan non materi.

• Be grateful, always

• Bebas hutang dan harus punya investasi.

• Travel when possible

• Keep learning new things to improve myself.

• I would not consciously showing off my material things. I have my own class you can't compare with it.

• Everything take time, be patient! Apa yang kulakukan hari ini hasilnya mungkin tidak terlihat sekarang tapi pasti Tuhan dan semesta sedang bekerja untuk kehidupanku.




PS: This is my terms to living my own life. Dibuat setelah hari Sabtu lalu mengikuti workshop dengan Claudia Kaunang. Empat jam menghabiskan waktu untuk belajar banyak hal baru, pengetahuan baru, dan mendapat ide-ide baru. Tahun 2019 ini saya ingin lebih peduli dan fokus kepada diri sendiri. Melakukan improvement untuk diri sendiri dengan mengikuti workshop/kursus/seminar untuk memperkaya ilmu serta kemampuan saya. Ini hidup saya, kalau bukan saya sendiri yang peduli, siapa lagi? Terms yang saya buat di atas mungkin saja akan berubah lagi ke depannya. 

You also can make it your own version.

Sunday, February 3, 2019

One Day Tour: Stratford upon-Avon, Stow On the Wold, Oxford

September, 2017


Perjalanan dari London ke Oxford diiringi hujan sepanjang jalan. Hening mendominasi suasana di dalam mobil yang membawa kami ke sana. Sesekali saja sang tour guide berbicara tanpa ada yang menanggapi. Saya sibuk memandang ke luar jendela menikmati hamparan padang datar yang luas khas countryside Inggris dan juga hutan penuh pohon birkin yang daunnya mulai memberi warna khas musim gugur.

Pemberhentian pertama kami di Stratford upon-Avond, sebuah kota kecil yang cantik tempat kelahiran penyair terkenal William Shakespeare. Kami mengunjungi The Shakespeare Center, semacam museum tempat menyimpan banyak koleksi dari kehidupan Shakespeare di masa dulu. Kemudian kami memasuki rumah yang dipercayai sebagai rumah tempat kelahiran Shakespeare. Kalian bisa melihat berbagai  barang di dalam rumah tersebut masih terawat dengan baik, tempat tidur dimana Shakespeare dilahirkan pun masih berada di sana. Penampakan rumah ini khas sekali bangunan Inggris di masa lalu, dengan taman yang cantik di sekelilingnya. Di bagian belakang terdapat toko suvenir, menjual berbagai barang yang berhubungan dengan Shakespeare. Perjalanan dilanjutkan menuju Anne Hathaway's Cottage, yang merupakan rumah masa kecil dari istri William Shakespeare. Sayangnya kami hanya diberi waktu 5 menit untuk turun dan mengambil foto. Saya kira kami akan mampir juga di Trinity Church, gereja yang terdapat makam Shakespeare, namun ternyata tidak. Dan gerimis mulai turun kembali saat kami melanjutkan perjalanan menuju Costwold.

Rumah tempat kelahiran William Shakespeare.

Hujan semakin deras ketika kami berhenti di Stow-on-the-Wold, Costwold, untuk makan siang. Costwold sendiri merupakan salah satu daerah di dekat Oxford yang memiliki banyak sekali desa kecil yang cantik. Bahkan karena keindahannya, oleh pemerintah Inggris wilayah ini dijuluki  sebagai "Area of Outstanding Natural Beauty". Kami hanya diberikan waktu satu jam oleh sang tour guide untuk berada di sini, jadi saya langsung menuju sebuah cafe kecil di sana untuk makan siang sekaligus berteduh. Setangkup chicken sandwich dan segelas minuman hangat cukup untuk mengganjal perut. Hujan mulai reda ketika saya selesai makan. Masih ada waktu sekitar 30 menit sebelum perjalanan menuju Oxford dilanjutkan, jadi saya putuskan mengelilingi wilayah sekitar. Rumah-rumah dari batu berwarna kekuningan mendominasi bangunan-bangunan di sini. Rasanya seperti berjalan di dalam buku dongeng. Indah sekali. 

Kalau suatu saat nanti ada kesempatan lagi untuk datang ke Inggris saya pasti akan mengambil tour khusus di daerah Costwold untuk mengunjungi berbagai desa tercantik di Inggris Raya ini.

Deretan toko suvenir di Stow-on-the-Wold

Perjalanan menuju Oxford berlanjut dan hujan turun kembali. Kami tiba di Oxford sekitar pukul dua siang, masih gerimis, namun tak menghentikan walking tour kami ke Christ Church College, Bridge of Sighs, Boudlain Library, dan Divinity School. Sayangnya, kami tidak masuk ke dalam Christ Church College yang terkenal sebagai lokasi syuting film Harry Potter. Jadi keinginan saya melihat Great Hall Hogwarts dan tangga dimana Harry pertama kali bertemu dengan Prof. McGonagall tidak bisa tercapai. Sebagai Potterhead tentu saja saya kecewa. Namun kekecewaan itu lumayan terbayar ketika kami memasuki Divinity School. Tempat ini juga merupakan salah satu lokasi syuting film Harry Potter yang digunakan sebagai kelas dansa bersama Prof. McGonagall dan juga ruangan rumah sakit di Hogwarts, tempat Harry dirawat setelah bertarung pertama kalinya dengan Voldermort.

Meski hanya beberapa jam menghabiskan waktu di Oxford tapi kota ini jelas membuat saya jatuh cinta terutama dengan suasana dan bangunan-bangunan tuanya. Universitas Oxford di sini juga merupakan universitas tertua di Inggris dan menjadi almamater bagi banyak tokoh ternama dunia. Tanggal berdiri universitas ini tidak pernah diketahui secara pasti namun diperkirakan kegiatan belajar-mengajar di Oxford telah dimulai sejak tahun 1096. Tidak cukup sehari mengelilingi kota ini, mungkin menghabiskan dua malam di sini akan terasa lebih sempurna. Sayangnya waktu kunjungan saya kali ini tidak banyak. But it means there's a "I'll see you again" for Oxford.


Kenal ruangan ini? Yup! Tempat Ron Weasley belajar dansa dengan Prof. McGonagall.

Untuk tour yang saya ikuti ini adalah dari www.internationalfriends.co.uk. Kalau dinilai skala 1-10, nilai saya untuk tour ini hanya 5. Karena apa? Harganya cukup mahal untuk one day tour, saya membayar GBP 278 untuk dua orang. Kami tidak mendapat makan siang, sang tour guide juga tidak cukup attractive menurut saya pribadi, dan di beberapa tempat kami sangat diburu-buru. Kemudian kami juga tidak berhenti di Bourton on the Water (saya kira ini dikarenakan hujan saat itu), dan banyak tempat di Universitas Oxford yang hanya kami lewati dari luarnya saja.

Keputusan saat itu untuk mengambil tour ini adalah dikarenakan layanan mereka yang mempunyai meeting point di depan British Museum, yang mana lokasinya tidak jauh dari penginapan kami dan akan mengantar kami kembali ke London. Jadi kami tidak perlu repot lagi mencari transport ke- dan dari Oxford. Padahal salah satu tujuan utama kami ingin ke Oxford adalah untuk mengunjungi lokasi-lokasi syuting film Harry Potter dan tour ini rasanya memang tidak tepat.

Kalau kamu Potterhead dan punya tujuan yang serupa dengan kami, banyak sekali tour di Oxford yang menyediakan walking tour khusus Harry Potter. Salah satu yang jadi pertimbangan saat itu adalah www.experienceoxfordshire.org. Kalian bisa mengambil ""Harry Potter and Alice In Wonderland Official Oxford Tour" di sana, dengan harga yang jauh lebih murah, hanya GBP 25 per orang. Hanya saja tour ini tidak berlangsung setiap hari, dan hanya berdurasi 2 jam, meeting point pun berada di Oxford langsung, yang artinya jika kamu datang dari London, kamu harus cari sendiri transportasi untuk ke sana.


Friday, January 11, 2019

Berkaca Dari Perjalanan


Apa yang paling mengesankan dari setiap perjalanan? Banyak tentunya. Apalagi kalau kamu berkunjung ke negara lain yang lebih maju daripada negara tempat kamu tinggal. Banyak hal yang bikin kagum, banyak hal yang bikin takjub.

Dari perjalanan ke London, Melbourne, dan Sydney, banyak hal yang bikin saya merasa malu jadi orang Indonesia karena ngerasa, duh, ini negara ketinggalan banget deh. Kapan majunya? Kaya saat passport gak bisa di-scan di bandara Sydney, berdiri stuck hampir 20 menit di line imigrasi, diliatin orang-orang cuma gara-gara kertas passport yang udah tahun 2018 masih aja harus di-input manual karena gak bisa kebaca di mesin scanner. Tapi gak sedikit pula alasan yang membuat saya bersyukur jadi orang Indonesia. Saat menggigil kedinginan di London, rasanya udah mau mati, saya kangen banget ada di Jakarta yang mataharinya tiap hari muncul. Untuk makanan Indonesia yang enak-enak dan murah meriah, sementara makanan di sana udah hambar, mahal pula. Ya begitulah hubungan sama negeri sendiri, benci, benci, benci, tapi rindu.

Dari perjalanan di tiga kota besar ini yang membuat saya paling terkesan adalah soal sistem transportasinya yang canggih, serba teratur, bersih, dan tepat waktu. Selain itu apalagi? Banyak! Udaranya yang bersih, minim polusi, trotoar lebar untuk pejalan kaki yang gak perlu rebutan sama motor atau tukang jualan, banyak taman kota yang luas, museum yang bagus-bagus, infrastruktur yang baik, gak ada macet, gak ada motor yang seliweran sembarangan dengan klakson yang berisik. Yang paling utama soal kesadaran masyarakatnya yang tinggi untuk tertib dan disiplin.

Salah satu taman kota di Melbourne yang luas, bersih, gak ada pedangang kaki lima 😛


Menjadi negara maju itu bukan sekedar menyediakan fasilitas canggih luar biasa dan yang paling terdepan. Bukan cuma soal pemerintahan yang baik dan gak korup. Menjadi negara maju juga perlu mentalitas kuat serta kesadaran tinggi dari masyarakatnya untuk mau tertib, disiplin, mandiri. Sebaik apa pun pemerintahan, sehebat apa pun fasilitas yang diberikan, semua akan sia-sia kalau masyarakat yang hidup di dalamnya minim kepedulian dan kesadaran untuk menjaganya bersama-sama.

Tapi perjalanan ke luar negeri, mengunjungi negara-negara yang lebih maju juga tak sepatutnya dijadikan ajang sibuk mencaci-maki negeri sendiri hanya karena terpukau atas kehebatan negara lain. Karena kadang kita hanya terlalu sibuk menertawakan kekurangan tanpa tahu bagaimana menjadikannya lebih baik. Sibuk mengkritisi tapi tak mengambil peran nyata dalam memperbaikinya.

Perjalanan kerap kali membuat saya berkaca diri, apa yang perlu saya lakukan setidaknya yang dapat dimulai dari diri sendiri. Hal terkecil yang bisa kita lakukan untuk menjadikan tempat kita tinggal terasa lebih baik. Sederhananya saja, gak buang sampah sembarangan, tertib antri, gak merusak fasilitas umum, dll.

Perjalanan itu selayaknya memang membuka mata dan pikiran kita untuk lebih luas lagi memandang dan mampu berpikir lebih bijaksana.


Oxford Street, London, trotoar luas hanya untuk para pejalan kaki. 😊





Thursday, January 3, 2019

Cerita Dari Para Homeless

London, September 2017

Sore itu saya baru saja keluar dari stasiun Tottenham Court Road, hendak balik ke hotel kami di Dean Street. Di tengah keramaian orang di sekitar Oxford Street seorang perempuan paruh baya, berkerudung hitam, dari wajahnya saya tebak sepertinya dari Timur Tengah, menghampiri saya. "Assalamualaikum, Sister... Can you buy me a food, please?", katanya. Saya menggeleng dan berkata, "No, sorry." sambil terus berjalan. Tidak sampai semenit saya jalan rasa bersalah menghinggapi diri. Saya ingat saat itu saya bilang ke Ena, "Yaaah, itu ibu-ibu tadi padahal cuma minta dibeliin makanan." Rasa bersalah itu tak kunjung hilang hingga saya tiba di hotel.

Malamnya Ena nonton Harry Potter and the Cursed Child, saya karena gak kedapetan tiket jadi kelilingan sendiri di Oxford Street, kemudian malah berakhir dengan belanja di Primark. Keluar dari Primark saya masih celingukan di sekitar Oxford Street karena mikir mungkin ibu-ibu tadi masih ada di sekitar sini. Tapi gak ketemu lagi. Semalaman itu gak tau kenapa saya ingat ibu-ibu itu terus.

Sampai di Jakarta cerita tadi saya kisahkan ke suami. Dia suruh saya sedekah di Jakarta aja sebagai pengganti rasa bersalah tadi. Jadi waktu itu saya niatkan masak sendiri, bikin nasi kotakan untuk dibagiin ke pengemis di sekitar wilayah dekat rumah. Apa rasa bersalahnya hilang? Ternyata tetap enggak. Bayangan atas kesombongan saya saat di London itu masih terus ada.



Cerita tadi memang kesannya biasa saja. Menolak memberikan uang ke pengemis kan di Jakarta juga sering, tapi entah kenapa peristiwa di London itu begitu membekas. Saya seperti ditampar entah oleh apa. Wajah ibu itu, apa yang ia ucapkan, lalu bagaimana cara saya menolaknya, semua detailnya masih jelas sekali saya ingat. Seperti ada hantu yang terus gentayangan di dalam pikiran dan membisikan betapa sombongnya diri ini.

Bagaimana tidak sombong, Allah kasih saya rejeki yang berlimpah sekali di tahun 2017 itu. Keinginan saya yang sudah bertahun-tahun untuk menginjakkan kaki di London dikabulkan, Visa UK yang sudah sempat ditolak ternyata diberikan kemudahan lagi untuk mendapatkannya. Tapi ketika ada orang lain minta sedikit saja rejeki dari saya, mudah banget saya tolak mentah-mentah.

Sudah setahun lewat sejak perjalanan di London saat itu, tapi peristiwa tersebut masih lekat dalam ingatan.

No one has ever become poor by giving

Sydney, Desember 2018

Sore itu juga sama. Saya dalam perjalanan balik menuju hotel. Sydney hujan badai, angin kencang sekali, sampai payung saya berubah jadi mangkok berkali-kali. Jarak dari stasiun King Cross menuju hotel tempat saya tinggal berjarak kurang lebih 1 km, dan saya harus jalan kaki ke sana. Jalanan gak ramai, semua orang berjalan cepat-cepat menghindari hujan angin yang kencang. Dari kejauhan saya lihat seorang perempuan duduk di depan toko. Mendekap dirinya, kehujanan, tanpa payung, bahkan tanpa mengenakan jaket. Seketika saya bertanya sendiri dalam hati, "itu pengemis bukan sih?" karena pakaiannya bersih dan cukup bagus, dan tak ada barang-barang di sekitarnya seperti kebanyakan pengemis lain yang saya temui di jalanan. Namun saat itu juga bayangan perempuan pengemis di London tahun lalu tiba-tiba muncul lagi di kepala saya. Saya yang juga kebasahan saat itu cuma mikir satu hal, jangan sampai kejadian seperti di London terjadi lagi.

Ketika jarak semakin dekat, perempuan ini sudah menatap ke arah saya. "Give me just ten cents, please!" katanya.

Alhamdulillah, penyesalan yang sama tidak lagi hinggap hingga saya menulis cerita ini.

Melbourne, The Most Liveable City in the World.

Apa yang mau saya sampaikan sebetulnya dari cerita ini adalah kita manusia kerap merasa ketakutan kekurangan rejeki, hingga mau berbagi pun rasanya berat sekali. Padahal rejeki sudah dijamin oleh Allah. Kenapa begitu sombong saat memiliki sesuatu? Padahal apa sih yang kita punya sebetulnya?

Kisah dalam perjalanan saya di atas tadi betul-betul menjadi ingatan yang lekat sekaligus pelajaran yang membuat saya belajar untuk terus bersyukur atas apa yang saya punya, sedikit apa pun itu dan kesadaran untuk selalu mau berbagi rejeki dengan orang lain.

Ada dua hadist yang sampai sekarang akan selalu saya ingat. Dikatakan... "Bersedekahlah, supaya engkau diselamatkan dari api neraka, walaupun hanya dengan sebutir kurma." Dan, "tidak akan pernah berkurang harta yang disedekahkan kecuali ia bertambah, bertambah, bertambah."

Kadang kita memang perlu melihat ke bawah untuk terus bisa merasa bersyukur. 

Banyak cerita dari London dan Australia yang belum saya sempat tuliskan di sini, sebagiannya mungkin bahkan saya sudah lupa. Tapi cerita ini adalah kisah pertama dari dua perjalanan saya terakhir yang ingin saya bagikan di sini, sebagai pengingat bagi diri saya sendiri, semoga juga bagi orang lain yang membacanya.

Berbuat baiklah. Niscaya kebaikan itu akan berbalik kepada kita.


PS: Ini sedikit kesan saya melihat para homeless di London, Melbourne dan Sydney. Meskipun  di negara maju, jumlah homeless di sana ternyata juga lumayan banyak. Tapi satu hal yang bikin saya kagum, banyak banget homeless yang saya temui selama diperjalanan, meski tidur di jalanan, meski ga punya rumah, mereka tetap baca buku. Buku dan anjing, dua hal itu yang  banyak saya lihat tetap mereka punyai meski berada di jalanan.


Jakarta, 3 Januari 2019
"Selamat Tahun Baru"

















Monday, December 31, 2018

Hujan Di Luar Meratap

Hujan di luar meratap
Malam pun sepi
Ku tertegun pada kaca jendela
Menghitung rintik demi rintik
Detik demi detik
Melintas waktu begitu bergegas
Kemudian tersadar kita berjarak setengah lingkar dunia

Apa kabar di sana?

Angin musim gugur mengirimkan suara dari jauh kepadamu
Berdesing di telingamu
Tentang airmata yang panas


Salemba, 6 November 2018

Friday, March 16, 2018

Trip To London: Visa UK Ditolak

Hellaaaawwww....

Iyaa, ini emang udah kelewat lama sejak trip ke London akhir September 2017 lalu. Tapi better late than never, kan ya? Setelah blog ini dianggurin sampe jamuran, kali ini aku mau sharing tentang pengalaman visa UK yang sempat ditolak.

Jadi, setelah dapat tiket murah meriah untuk ke London dari Garuda Travel Fair, aku sama Ena udah excited banget karena mimpi kami menjejakkan kaki di Inggris rasanya gak lama lagi terwujud. Akomodasi, itinerary dan segala printilan lain untuk ke sana udah disiapin dari bulan-bulan sebelumnya. Tinggal nabung yang masih kudu jor-joran dan proses bikin visanya. 

Ena apply visa UK sekitar 3 minggu lebih dulu daripada aku yang saat itu masih riweh karena suami diopname karena DBD. Setelah isi aplikasi online untuk visa UK (syarat dan cara pengisian form Visa UK bisa dibaca di sini), tanggal 17 July 2017 pagi sesuai appointment aku datang ke VFS di Kuningan City untuk melakukan interview dan pengambilan sidik jari. Kebetulan di hari yang sama, sore harinya Ena juga mau ngambil hasil visa UK dia yang ternyata udah keluar.

Jam 4 sore, ada Whatsapp masuk dari Ena. Bunyinya, "Visa gue ditolak, Da." 😭

Drama dan huru-hara tentu saja terjadi tapi gak perlu lah ya ditulisin di sini. Kepanjangaaaan...! Intinya adalah, visa UK Ena ditolak karena rekening tabungan yang dikasih gak bisa menunjukan bukti pemasukan dari gaji dia dan ada lonjakan saldo yang tinggi dan dicurigain itu bukan uang dia yang sebenarnya. (Ribet yeee, duit dikit salah duit kebanyakan juga salah 😛)

Baiklah... jadi ya emang ada salahnya juga sih karena ternyata si Ena gak ngasihin print rekening tabungan payroll dia yang mana bisa nunjukin kalau tiap bulan dia terima uang gaji. Dia cuma kasih print rekening tabungannya yang khusus dipake nabungin uang untuk jalan-jalan. Dan soal lonjakan saldo sebetulnya adalah uang THR dia pas lebaran yang begitu masuk di rekening payroll dia transfer langsung semuanya ke tabungan jalan-jalannya.

Saat itu gue ikut deg-degan juga. Mikirnya, kalau nanti gue dapet visa ya masa gue jalan-jalan sendiri. Nanya sana-sini soal aplikasi visa UK yang ditolak, browsing di internet juga minim banget informasinya. Untungnya yaa, ada Kakak Kenny - Kartu Pos (IG: @kartuposinsta) yang baik banget ditanyain soal info ini itu. Dari dia lah akhirnya kami tau kalau visa UK ditolak maka applicant boleh meng-apply visa lagi tanpa perlu menunggu jeda waktu tertentu. 

Jadi diputuskan lah bawa Ena akan apply ulang visa UK (dan tentunya bayar ulang pulaaak...). Semua dokumen disiapin lagi selengkap-lengkapnya. Dia sampe bikin surat keterangan untuk dilampirin yang memberikan keterangan soal apa itu THR. 😁

Seminggu kemudian...

Aku dapat notifikasi lewat email dari VFS bahwa visa UK-nya udah bisa diambil. Dua hari kemudian aku datang. Sepanjang nunggu nomor antrian dipanggil dada ini dag dig dug melulu. Karena sudah tau bahwa visa yang ditolak pasti di dalam plastik pembungkus passport kita bakalan ada surat pemberitahuannya, maka hal yang aku lakukan pertama kali saat menerima amplop tersebut adalah menggesek plastik dokumennya untuk merasai ada kertas gak di dalamnya. Dan apa coba???

Iyaaak... Ada dong kertasnya. Gue rasanya saat itu kok ya nelangsa tapi pasrah. Haha...! Gak kaget lagi sih karena udah dengar kabar visa UK Ena yang ditolak juga. Jadi gue berpikir sama, yaudah gue bakal apply aja lagi.

Setelah terima amplopnya, walaupun udah tau ada kertas di dalamnya, untuk memastikan lagi, aku masuk ke toilet dan duduk di dalamnya cuma untuk buka itu amplop. (Kan malu yak masa buka amplopnya di dalem VFS terus ntar orang-orang liat dong kalo visa gue ditolak). Abis baca surat penolakan visanya aku kirim Whatsapp ke Ena, "Visa gue juga ditolak dong." 😭😭😭

(Anak kembar nasibnya gini amat yaa, serupa.)

Alasan penolakannya kali ini beda, lebih beragam. Mungkin karena aku nulis pekerjaan di form aplikasi sebagai freelancer. Mulai dari yang bilang pemasukan yang gak jelas tiap bulannya, gak ada bukti bahwa sudah pernah melakukan perjalanan ke luar negeri sebelumnya (ini salah gue sih lupa kasih fotokopi isi passport lama), gak mencantumkan bukti pendapatan suami (padahal laki gue kan gak ikut perginya), sampe di state katanya biaya trip ini semacem lebih besar pasak daripada tiang, so deze gak satisfied. (Elaaaah... aku kudu piye supaya kamu satisfied, Maz?)

Dari penolakan ini aku belajar sih kalo soal apply visa itu emang bukan cuma perkara banyaknya duit di rekening. Tapi juga soal kelengkapan dokumen yang meyakinkan mereka. Karena kalo mau ngomongin soal jumlah uang, di rekening aku saat itu jumlahnya jauh banget dari kata cukup (sombooong 😝). Tapi untunglah aku anaknya gigih dan gak mudah menyerah, visa ditolak <strike>dukun bertindak</strike> ya apply lagi lah!

Emang sih apply visa baru means harus bayar lagi, double pengeluaran. Tapi yawis rapopo demi mengejar mimpi. Jadi dalam waktu sekitar 2 minggu berikutnya yang aku lakukan adalah mempersiapkan semua dokumen yang dianggap perlu untuk dilampirkan demi membuat mereka yakin dan percaya. 

Dokumen tambahannya sbb: 

- fotokopi semua halaman passport lama yang ada stamp dari negara-negara yang pernah dikunjungi (ini karena emang kelupaan sebelumnya)
- surat keterangan dari beberapa perusahaan yang selama ini bekerja sama dengan aku, yang menyatakan bahwa betul aku bekerja freelance di tempat mereka dan masih akan menggunakan jasaku untuk ke depannya. (Minta di-print di atas kop surat perusahaan, ditandatangani dan dicap basah)
- print tabungan payroll suami selama 6 bulan terakhir
- tagihan kartu kredit suami selama 6 bulan terakhir
- surat keterangan dari Ena sebagai orang yang pergi bareng untuk trip ini, bahwa dia bekerja dan memiliki gaji tetap dari perusahaannya dan dia menjamin sebagian pengeluaran aku di sana.
- print rekening payroll dan tabungan jalan-jalan Ena selama 6 bulan terakhir
- print tagihan kartu kredit Ena selama 6 bulan terakhir
- foto aku bersama anak-anak dan suami (biar yakin gue punya keluarga di sini dan pasti bakalan pulang). Ini perlu gak perlu sebetulnya, tapi dari hasil baca-baca beberapa blog orang, it works.
- surat keterangan yang berisi pernyataan mengenai beberapa point: menyatakan bahwa walaupun bekerja sebagai freelancer tapi saat itu aku juga bekerja sebagai karyawan tetap di satu perusahaan riset, which means aku punya dua pemasukan sebetulnya. Lalu aku pergi dengan saudara kandungku yang punya pekerjaan tetap di Jakarta, aku punya suami dan anak yang pasti membuatku akan pulang lagi ke Indonesia.
- dan pada print rekening koran selama 6 bulan terakhir, semua pemasukan dari perusahaan-perusahaan tempat aku bekerja sebagai freelancer juga aku stabilo-in biar mereka bisa liat secara jelas jumlah uang yang masuk tiap bulan.


Ribet yak? Mayaan. Tapi untuk mewujudkan mimpi emang perlu usaha, kadang ekstra.

Well, setelah aku masukin aplikasi lagi ke VFS untuk kedua kalinya, tinggal nunggu kabar dari mereka. Kalau aplikasi visa pertama less than a week aku udah bisa terima hasilnya (yhaa, walopun ditolak), yang kedua ini aku sampe senewen nungguinnya kok gak dapat-dapat kabar juga. Sementara tanggal keberangkatan semakin mepet. Dan Ena tentu saja sudah berhasil dapat visa UK nya. 

3 minggu kemudian...

Akhirnya masuk juga email notifikasi dari VFS, mengabarkan bahwa hasil visa UK aku udah bisa diambil. Dan tentu saja kalian udah bisa nebak kan hasilnya? 😎😎



London, I'm comiiiing....!!!






Thursday, March 30, 2017

Mudahnya Mengurus Perpanjangan Passport Sendiri

Pic from Pinterest


Because sharing is caring. Tulisan ini dibuat dengan niat semoga dapat membantu siapa pun yang butuh info untuk melakukan perpanjangan passport. Karena gue sendiri pun selalu dan sangat mengandalkan informasi dari internet dalam banyak hal. Dan pada akhirnya gue berharap semoga artikel ini bisa jadi amal jariyah buat gue (lah, pamrih).

Ok, let's start!

Passport gue sudah habis masa berlakunya sejak bulan Juni 2016. Dan karena sejak melahirkan anak pertama di tahun 2013 gue gak pernah melanglang buana lagi, jadi passport lama yang udah expired itu gue biarkan teronggok di dalam lemari. Kemudian tahun ini karena ada rencana untuk kembali berpetualang ke negeri orang, maka mau gak mau perpanjangan passport pun harus dilakukan. Passport pertama gue dulu dibuat dengan bantuan calo, dengan tarif 500.000. Seinget gue saat itu gue cuma dateng untuk foto dan wawancara, terus terima jadi.

Tapi sekarang gue niat banget ngurus perpanjangan passport sendiri, selain harga lebih murah, pelayanan online dari imigrasi pun sudah tersedia. Sisanya tinggal rajin browsing sana sini untuk cari tau soal dokumen yang diperlukan dan bagaimana tahapannya.

Langkah pertama, siapkan semua dokumen yang diperlukan. Yaitu sebagai berikut:
1. Passport Lama
2. KTP
3. Kartu Keluarga
4. Akte Lahir.

That's all! Simple kan?!

Semua dokumen tadi difotokopi di atas kertas ukuran A4.

Perhatian!
- Untuk passport lama cukup difotokopi halaman depan dan terakhir saja.
- Fotokopi KTP di atas kertas A4, tidak boleh dipotong. Jadi fotokopi saja ukuran normal, tapi jangan dipotong kertasnya.
- Jika kalian tidak punya akte lahir, dokumen ini bisa diganti dengan ijazah atau Surat Nikah. Ijazah yang berlaku adalah ijazah yang tercantum nama orangtua kalian, dalam hal ini ijazah kuliah berarti gak berlaku karena gak ada nama orangtua. Kalau ijazah juga gak punya, entah emang gak pernah sekolah atau hanyut kebawa banjir, bisa pakai Surat Nikah. Tentu saja ini bagi yang sudah menikah. Kalau belum nikah ya pasrah aja, gak usah maksa minjem surat nikah orang lain hanya karena udah kebelet kawin. Ingat, jodoh di tangan Tuhan!
- Jika memakai Surat Nikah, cara fotokopinya pun sama dengan KTP. Jangan dipotong, tetap dalam ukuran kertas A4.

Setelah semua dokumen siap kalian tinggal pilih mau melakukan proses secara online melalui website www.imigrasi.go.id atau secara manual dengan walk-in ke kantor imigrasi.

Saya melakukan proses secara manual. Karena beberapa hari sebelum saya mau melakukan proses online muncul pengumuman dari pihak imigrasi yang menyatakan bahwa layanan online pembuatan passport untuk sementara tidak bisa dilakukan. Alasannya? Hal ini biar hanya Tuhan dan pihak imigrasi yang tau.

(Jika melakukan secara online, maka semua dokumen asli harus di scan. Karena saat melakukan proses tersebut kalian akan diminta untuk melampirkan dokumen tadi. Setelah selesai, tinggal menentukan jadwal interview dan foto. Kalian tetap harus datang ke kantor imigrasi dengan membawa semua dokumen asli dan fotokopinya. Antrian pemohon online dan walk-in dibedakan.)

Karena saya sudah sering dengar kabar bahwa layanan bikin passport di imigrasi itu antriannya bisa ngalahin antrian sembako di tahun 1998, maka berdasarkan beberapa blog yang saya baca, saya berangkat subuh dari rumah. Rumah saya di Salemba, dan memutuskan untuk datang ke kantor Imigrasi Jakarta Selatan yang berada di Mampang. Berangkat jam 5 subuh dengan Gojek, saya tiba di sana pukul 05.25, dan setibanya di sana hal yang pertama kali saya lakukan adalah melongo liat antrian. Langit masih gelap, angin masih dingin, dan maling pun baru mau pulang, tapi yang antri sudah ada sekitar 100 orang. Tapi karena saya orangnya ikhlas, pasrah dan hanya mampu bertawakal kepada Tuhan, maka dengan legowo saya ikut ngantri di sana.

Sekitar jam setengah 7 ada petugas yang mulai mengecek apakah ada di antara pemohon passport dalam antrian ini yang usianya sudah di atas 50 tahun atau membawa anak di bawah usia 2 tahun. Jika ada maka orang-orang tersebut akan dipersilahkan masuk lebih dulu, menunggu di dalam dan bisa dapat nomor antrian awal. Sementara yang lain ya terima nasib nunggu sampai jam 07.30.

Pukul 07.10 perlahan-lahan para pemohon ini dipersilahkan masuk naik ke lantai dua untuk mengambil nomor antrian, saat itu kalian harus siapkan semua dokumen asli di tangan kalian, terutama KTP. Akan ada petugas juga yang bakal teriak-teriak, berulang-ulang, "siapkan dokumen aslinya, pak, bu! KTP nya yang asli disiapkan!" (Nada teriakannya agak songong dan nyolot sih, jd mendingan lo kekepin tuh dokumen di tangan daripada pagi-pagi udah kena diomelin). Saat ambil nomor mereka akan tanya apakah mau e-passport atau passport biasa, karena nanti map yang diberikan akan berbeda. Yang e-passport ada stempel di depan map nya. Fyi, saya dapat nomor antrian 85. Huufftt...!

Setelah itu kalian harus mengisi data secara lengkap pada form yang ada di dalam map tersebut. Isinya HARUS MENGGUNAKAN PULPEN TINTA HITAM. Setelah selesai tinggal tunggu nomor kalian dipanggil. Jumlah loket di sini ada 10, jadi proses menunggunya gak terlalu lama menurut saya. (Saya sih nunggu sambil baca novel, mungkin karena itu jadi gak terlalu berasa lama).

Setelah nomor kalian dipanggil, silakan masuk untuk proses interview, diambil sidik jari, kemudian foto. Interviewnya hanya ditanya bikin passport mau pergi kemana? Mau ngapain? Sama palingan ditanya kalian kerja di mana. Begitu selesai kemudian kalian akan diberikan kertas untuk melakukan pembayaran di bank. Karena saya meminta passport biasa saja, maka harga yang harus saya bayar adalah RP 355.000 (untuk e-passport biayanya sekitar 600.000). Kalau sudah bayar kalian boleh pulang, dan kembali lagi untuk ambil passport di hari dan waktu yang telah ditentukan dengan membawa tanda bukti bayar dari bank tersebut.

Selesai! Mudah kan?


INFO & CATATAN PENTING!

1. Pembuatan passport sekarang bisa dilakukan dari kantor imigrasi mana pun, tidak perlu lagi mengikuti wilayah sesuai alamat KTP.

2. Jika kalian datang pagi-pagi, di Imigrasi Jakarta Selatan akan ada bapak petugas yang memandu kalian untuk mengisi form di dalam map tersebut. Jadi gak usah takut bingung. Saat saya di sana ada Pak Wagino (dugaan saya dia pimpinan di Imigrasi Jaksel) yang memandu pengisian form itu. Orangnya ramah sekali bahkan terkadang dia memandu sambil guyon. Dia menjelaskan sangaaaat detail. Dan ga perlu ragu kalau mau bertanya, beliau dengan senang hati menghampiri dan memberikan jawaban.

3. Di Imigrasi Jaksel tersedia tempat untuk fotokopi, jadi kalau kalian ada dokumen yang lupa atau salah bisa fotokopi ulang di sana. Tempat fotokopinya pun jual materai dan blanko surat-surat yang dibutuhkan sebagai tambahan dokumen, misalnya surat izin pembuatan passport untuk anak di bawah umur, surat keterangan kehilangan passport, dll.

4. Sekarang ada web (http://infoantrianpaspor.imigrasi.go.id) di mana kita bisa melihat secara real time nomor antrian yang sedang berlangsung di semua imigrasi di Jakarta. Ini berguna banget buat kalian yang dapat nomor antrian besar kemudian gak dapat tempat duduk di dalam, mendingan sih turun aja dulu nyari sarapan. Kalian bisa cek melalui web tersebut sudah nomor berapa yang dipanggil, jadi gak perlu takut terlewat.

Di web itu kita juga bisa melihat ada berapa banyak jumlah orang yang datang di tiap-tiap imigrasi. Imigrasi Jaksel selalu paling banyak dan Jakut paling sedikit. Saat saya di sana, pukul 08.00 sudah ada 460 pemohon passport yang datang, saat saya cek di Imigrasi Jakut pada waktu yang sama cuma ada 9 orang. Jomplang BGTZ.

5. Pembayaran biaya pembuatan/perpanjangan passport sekarang bisa dilakukan dari bank mana pun, tidak harus di BNI. Pembayaran bisa secara tunai melalui bank, lewat ATM, dan kabarnya di beberapa kantor imigrasi sudah menerima untuk pembayaran secara debit. Di lantai pertama Kantor Imigrasi Jakarta Selatan ada bank BRI dan tiga mesin ATM (Mandiri, BNI dan satu lagi saya lupa). Jadi selesai interview dan foto bisa langsung turun dan bayar di sana.

6. Proses pembuatan passport memakan waktu 3-5 hari kerja, sementara untuk e-passport 14 hari kerja.

7. Pengambilan passport diberikan waktu hingga 30 hari. Lewat 30 hari jika passport kalian tidak juga diambil maka passport akan dipotong oleh pihak imigrasi.

8. Pengambilan passport bisa diwakilkan dengan membawa surat kuasa di atas materai 6000 dan KTP asli pemohon passport. Jika yang mewakilkan masih berada dalam satu Kartu Keluarga yang sama dengan kita, tidak perlu membawa surat kuasa, cukup bawa KK dan KTP asli pemohon dan penerima kuasa.

9. Saran saya ada baiknya kalian datang pagi-pagi supaya masih bisa dapat nomor antrian awal, kalau perlu datanglah ke kantor imigrasi yang biasanya sepi pemohon, seperti imigrasi jakut dan jakbar.

10. Semua proses yang saya jalanin itu, tiba jam 05.25 dan selesai tepat di pukul 10.30 (2 jam pertama cuma dipakai untuk ngantri sampe imigrasinya buka).






Monday, November 28, 2016

Tentang Rindu

Ada yang selalu dikenang dari tahun-tahun yang telah berlalu.
Dan ini tentang rindu...


Entah sudah berapa lama saya tidak lagi pernah duduk berjam-jam termangu di depan layar komputer, merenungkan hidup dan perjalanan, merasai cinta yang hilir mudik di hati dan membuatnya berdegup lebih kencang, lalu menuliskan kisah-kisah tentangnya. Entah sudah berapa lama hidup berjalan begitu saja tanpa lagi dirasa-rasai gairahnya. Entahlah...

Tiap kali membuka blog ini, tiap kali itu juga saya merasa terseret dalam pusaran lorong waktu yang membawa saya kembali pada kenangan di tahun-tahun silam, tahun-tahun ketika begitu banyak orang yang datang dan membawa kisahnya masing-masing, pembicaraan-pembicaraan panjang tengah malam, serta kehidupan dan gegas-gesanya yang selalu hadir di tiap pagi.

Katakanlah, mungkin saya merasa jenuh.
Mungkin juga sepi.
Atau rindu.


pic from here









Friday, August 12, 2016

Cahaya Pagi

Selalu, yang terkenang darimu
Adalah cahaya pagi
Ketika pijar pertama dan embun
Berkilau karenanya
Bahkan di sudut waktu yang muram
Oleh lembab udara yang kesal
Yang terkenang darimu adalah
Cahaya pagi



25 July 2016

Menenun Ingatan

apa yang tersisa sepeninggal kita adalah rasa yang menjadi usang
dan dinding waktu yang beku. waktu kita sampai di sini.

lalu kau dan aku sama-sama merapihkan buku, menyusun serak-serak lembar kenangan
yang padanya kita titipkan semacam harapan.

hingga sampai suatu waktu, kelak kita diserang rindu dan kita akan mulai memintal dari lembar usang berdebu itu, menenum ingatan, tentang rasa yang t'lah dilupakan

dan kelak pula saat itu kita kembali saling menyalahkan
siapa yang lebih dahulu meninggalkan.


Jakarta, 26 Juni 2014

Tersiksa Sepi

apakah sepi yang membuatmu
menyerukan sunyi berulang-ulang
dan dadamu kosong; nyeri
yang kekal serupa mata belati

malam begitu lindap dan hujan turun di beranda
di dalam kamar kau tersiksa rasa yang ganjil
yang membuatmu kerap bertanya-tanya
apa benar karma itu ada?



Jakarta, 11 July 2014

Simpang Jalan

aku sampai pada suatu titik
berhenti
menggemakan namamu dalam kepala
mendebarkanmu dalam dada

kau simpang jalan itu
arahmu takkan kulalui lagi

hujan terlalu deras
untuk terus berlari
atau mengambil jalan pulang



Jakarta, 15 Juli 2014

Selingkuh

dalam pejam matanya
menciummu
yang dibayang
wajahku



Jakarta, 23 November 2015

Dalam Ingatan

sebab dalam ingatanku
kau tak pernah memilihku
maka jangan salahkan jika aku pergi
lalu kemudian kau merasa kehilangan
dan menyesal


Salemba, 13 Desember 2015
22:56

Untuk: Capung Hijau

aku adalah daun kering yang jatuh
layu, sebelum tiba di tangamu
menjelma bunga rekah mewangi

aku adalah daun kering yang melayang
di pusaran angin yang
gemetar -
jatuh dan dilupakan

kau adalah aroma wangi pagi
di muka jendela
ingin kuhirup erat
lagi dan lagi

di tanganmu aku
adalah bayi yang ringkuk dan ingin
mendekap di dadamu
sepanjang hari



Salemba, 1 Mei 2016

Pulang Ke Kotamu

aku gentayangan
dengan perasaan gamang berkepanjangan
apa yang ingin aku kenang sebetulnya?
sebab di jalanan ini kita tak pernah
melangkah menggores cerita

pulang ke kotamu

hanya kebodohan-kebodohan
yang menghantui diri
lagi dan lagi
apa yang aku cari?

(seakan) ada yang berkata.

"kau pandir
dan terus menerus menggali 
kecewa"



16 Mei 2016

Di Kotamu

di kota ini tak ada lagi kenangan
yang kubawa pulang
aku merasa asing, sepi dan sendiri
bau pagi hanyalah tentang sakit hati
kenangan lama hanyalah tentang kecewa

kau selalu muncul sebagai rasa penasaran
dan aku mencintai kemungkinan-kemungkinan
yang diciptakan kepalaku sendiri



Jakarta, 17 Mei 2016

Senja Yang Cemas

barangkali adalah air laut yang pasang surut cinta kita itu. kau menjadi asin gelombang yang terus menyapu jejak kakiku di gigir pantai itu. lukaku perih dan tak kunjung sembuh, tapi seperti yang kelak kau tahu, aku selalu saja mencari dan menghampirimu.

kehilangan adalah hal yang sederhana, katamu, maka berbahagialah. tapi senja selalu menuntunku pada cemas. menculik satu demi satu kelip bintang yang sering kita eja di beranda malam-malam.

telah sekian lama aku lupa bagaimana menyalakan lentera di kepalaku. untuk tetap ingat bahwa matamu lah kunang-kunang penghias gulita. untuk tidak alpa bahwa aku pernah mengasihimu.

tapi senja selalu menuntunku pada cemas. bagaimana nanti aku mengingatmu saat gelap? sementara kenangan semakin surut pada magrib yang basah.



Jakarta, 17 Mei 2016

Kau Yang Dijemput Hujan

kau yang dijemput hujan, singgah datang ke rumahku
katamu, hujan hanya persoalan dingin dan basah
ada yang berbisik dalam hatiku,
"ada yang ingin menipumu"

bagaimana bisa kau menduga aku tak tahu
bahwa hujan selalu tentang kesedihan
yang turun tanpa boleh berharap
menggapai langit

ketika hujan berhenti
aku tak menemukanmu
dimana-mana



Jakarta, 17 Mei 2016