Sunday, February 3, 2019

One Day Tour: Stratford upon-Avon, Stow On the Wold, Oxford

September, 2017


Perjalanan dari London ke Oxford diiringi hujan sepanjang jalan. Hening mendominasi suasana di dalam mobil yang membawa kami ke sana. Sesekali saja sang tour guide berbicara tanpa ada yang menanggapi. Saya sibuk memandang ke luar jendela menikmati hamparan padang datar yang luas khas countryside Inggris dan juga hutan penuh pohon birkin yang daunnya mulai memberi warna khas musim gugur.

Pemberhentian pertama kami di Stratford upon-Avond, sebuah kota kecil yang cantik tempat kelahiran penyair terkenal William Shakespeare. Kami mengunjungi The Shakespeare Center, semacam museum tempat menyimpan banyak koleksi dari kehidupan Shakespeare di masa dulu. Kemudian kami memasuki rumah yang dipercayai sebagai rumah tempat kelahiran Shakespeare. Kalian bisa melihat berbagai  barang di dalam rumah tersebut masih terawat dengan baik, tempat tidur dimana Shakespeare dilahirkan pun masih berada di sana. Penampakan rumah ini khas sekali bangunan Inggris di masa lalu, dengan taman yang cantik di sekelilingnya. Di bagian belakang terdapat toko suvenir, menjual berbagai barang yang berhubungan dengan Shakespeare. Perjalanan dilanjutkan menuju Anne Hathaway's Cottage, yang merupakan rumah masa kecil dari istri William Shakespeare. Sayangnya kami hanya diberi waktu 5 menit untuk turun dan mengambil foto. Saya kira kami akan mampir juga di Trinity Church, gereja yang terdapat makam Shakespeare, namun ternyata tidak. Dan gerimis mulai turun kembali saat kami melanjutkan perjalanan menuju Costwold.

Rumah tempat kelahiran William Shakespeare.

Hujan semakin deras ketika kami berhenti di Stow-on-the-Wold, Costwold, untuk makan siang. Costwold sendiri merupakan salah satu daerah di dekat Oxford yang memiliki banyak sekali desa kecil yang cantik. Bahkan karena keindahannya, oleh pemerintah Inggris wilayah ini dijuluki  sebagai "Area of Outstanding Natural Beauty". Kami hanya diberikan waktu satu jam oleh sang tour guide untuk berada di sini, jadi saya langsung menuju sebuah cafe kecil di sana untuk makan siang sekaligus berteduh. Setangkup chicken sandwich dan segelas minuman hangat cukup untuk mengganjal perut. Hujan mulai reda ketika saya selesai makan. Masih ada waktu sekitar 30 menit sebelum perjalanan menuju Oxford dilanjutkan, jadi saya putuskan mengelilingi wilayah sekitar. Rumah-rumah dari batu berwarna kekuningan mendominasi bangunan-bangunan di sini. Rasanya seperti berjalan di dalam buku dongeng. Indah sekali. 

Kalau suatu saat nanti ada kesempatan lagi untuk datang ke Inggris saya pasti akan mengambil tour khusus di daerah Costwold untuk mengunjungi berbagai desa tercantik di Inggris Raya ini.

Deretan toko suvenir di Stow-on-the-Wold

Perjalanan menuju Oxford berlanjut dan hujan turun kembali. Kami tiba di Oxford sekitar pukul dua siang, masih gerimis, namun tak menghentikan walking tour kami ke Christ Church College, Bridge of Sighs, Boudlain Library, dan Divinity School. Sayangnya, kami tidak masuk ke dalam Christ Church College yang terkenal sebagai lokasi syuting film Harry Potter. Jadi keinginan saya melihat Great Hall Hogwarts dan tangga dimana Harry pertama kali bertemu dengan Prof. McGonagall tidak bisa tercapai. Sebagai Potterhead tentu saja saya kecewa. Namun kekecewaan itu lumayan terbayar ketika kami memasuki Divinity School. Tempat ini juga merupakan salah satu lokasi syuting film Harry Potter yang digunakan sebagai kelas dansa bersama Prof. McGonagall dan juga ruangan rumah sakit di Hogwarts, tempat Harry dirawat setelah bertarung pertama kalinya dengan Voldermort.

Meski hanya beberapa jam menghabiskan waktu di Oxford tapi kota ini jelas membuat saya jatuh cinta terutama dengan suasana dan bangunan-bangunan tuanya. Universitas Oxford di sini juga merupakan universitas tertua di Inggris dan menjadi almamater bagi banyak tokoh ternama dunia. Tanggal berdiri universitas ini tidak pernah diketahui secara pasti namun diperkirakan kegiatan belajar-mengajar di Oxford telah dimulai sejak tahun 1096. Tidak cukup sehari mengelilingi kota ini, mungkin menghabiskan dua malam di sini akan terasa lebih sempurna. Sayangnya waktu kunjungan saya kali ini tidak banyak. But it means there's a "I'll see you again" for Oxford.


Kenal ruangan ini? Yup! Tempat Ron Weasley belajar dansa dengan Prof. McGonagall.

Untuk tour yang saya ikuti ini adalah dari www.internationalfriends.co.uk. Kalau dinilai skala 1-10, nilai saya untuk tour ini hanya 5. Karena apa? Harganya cukup mahal untuk one day tour, saya membayar GBP 278 untuk dua orang. Kami tidak mendapat makan siang, sang tour guide juga tidak cukup attractive menurut saya pribadi, dan di beberapa tempat kami sangat diburu-buru. Kemudian kami juga tidak berhenti di Bourton on the Water (saya kira ini dikarenakan hujan saat itu), dan banyak tempat di Universitas Oxford yang hanya kami lewati dari luarnya saja.

Keputusan saat itu untuk mengambil tour ini adalah dikarenakan layanan mereka yang mempunyai meeting point di depan British Museum, yang mana lokasinya tidak jauh dari penginapan kami dan akan mengantar kami kembali ke London. Jadi kami tidak perlu repot lagi mencari transport ke- dan dari Oxford. Padahal salah satu tujuan utama kami ingin ke Oxford adalah untuk mengunjungi lokasi-lokasi syuting film Harry Potter dan tour ini rasanya memang tidak tepat.

Kalau kamu Potterhead dan punya tujuan yang serupa dengan kami, banyak sekali tour di Oxford yang menyediakan walking tour khusus Harry Potter. Salah satu yang jadi pertimbangan saat itu adalah www.experienceoxfordshire.org. Kalian bisa mengambil ""Harry Potter and Alice In Wonderland Official Oxford Tour" di sana, dengan harga yang jauh lebih murah, hanya GBP 25 per orang. Hanya saja tour ini tidak berlangsung setiap hari, dan hanya berdurasi 2 jam, meeting point pun berada di Oxford langsung, yang artinya jika kamu datang dari London, kamu harus cari sendiri transportasi untuk ke sana.


Friday, January 11, 2019

Berkaca Dari Perjalanan


Apa yang paling mengesankan dari setiap perjalanan? Banyak tentunya. Apalagi kalau kamu berkunjung ke negara lain yang lebih maju daripada negara tempat kamu tinggal. Banyak hal yang bikin kagum, banyak hal yang bikin takjub.

Dari perjalanan ke London, Melbourne, dan Sydney, banyak hal yang bikin saya merasa malu jadi orang Indonesia karena ngerasa, duh, ini negara ketinggalan banget deh. Kapan majunya? Kaya saat passport gak bisa di-scan di bandara Sydney, berdiri stuck hampir 20 menit di line imigrasi, diliatin orang-orang cuma gara-gara kertas passport yang udah tahun 2018 masih aja harus di-input manual karena gak bisa kebaca di mesin scanner. Tapi gak sedikit pula alasan yang membuat saya bersyukur jadi orang Indonesia. Saat menggigil kedinginan di London, rasanya udah mau mati, saya kangen banget ada di Jakarta yang mataharinya tiap hari muncul. Untuk makanan Indonesia yang enak-enak dan murah meriah, sementara makanan di sana udah hambar, mahal pula. Ya begitulah hubungan sama negeri sendiri, benci, benci, benci, tapi rindu.

Dari perjalanan di tiga kota besar ini yang membuat saya paling terkesan adalah soal sistem transportasinya yang canggih, serba teratur, bersih, dan tepat waktu. Selain itu apalagi? Banyak! Udaranya yang bersih, minim polusi, trotoar lebar untuk pejalan kaki yang gak perlu rebutan sama motor atau tukang jualan, banyak taman kota yang luas, museum yang bagus-bagus, infrastruktur yang baik, gak ada macet, gak ada motor yang seliweran sembarangan dengan klakson yang berisik. Yang paling utama soal kesadaran masyarakatnya yang tinggi untuk tertib dan disiplin.

Salah satu taman kota di Melbourne yang luas, bersih, gak ada pedangang kaki lima 😛


Menjadi negara maju itu bukan sekedar menyediakan fasilitas canggih luar biasa dan yang paling terdepan. Bukan cuma soal pemerintahan yang baik dan gak korup. Menjadi negara maju juga perlu mentalitas kuat serta kesadaran tinggi dari masyarakatnya untuk mau tertib, disiplin, mandiri. Sebaik apa pun pemerintahan, sehebat apa pun fasilitas yang diberikan, semua akan sia-sia kalau masyarakat yang hidup di dalamnya minim kepedulian dan kesadaran untuk menjaganya bersama-sama.

Tapi perjalanan ke luar negeri, mengunjungi negara-negara yang lebih maju juga tak sepatutnya dijadikan ajang sibuk mencaci-maki negeri sendiri hanya karena terpukau atas kehebatan negara lain. Karena kadang kita hanya terlalu sibuk menertawakan kekurangan tanpa tahu bagaimana menjadikannya lebih baik. Sibuk mengkritisi tapi tak mengambil peran nyata dalam memperbaikinya.

Perjalanan kerap kali membuat saya berkaca diri, apa yang perlu saya lakukan setidaknya yang dapat dimulai dari diri sendiri. Hal terkecil yang bisa kita lakukan untuk menjadikan tempat kita tinggal terasa lebih baik. Sederhananya saja, gak buang sampah sembarangan, tertib antri, gak merusak fasilitas umum, dll.

Perjalanan itu selayaknya memang membuka mata dan pikiran kita untuk lebih luas lagi memandang dan mampu berpikir lebih bijaksana.


Oxford Street, London, trotoar luas hanya untuk para pejalan kaki. 😊





Thursday, January 3, 2019

Cerita Dari Para Homeless

London, September 2017

Sore itu saya baru saja keluar dari stasiun Tottenham Court Road, hendak balik ke hotel kami di Dean Street. Di tengah keramaian orang di sekitar Oxford Street seorang perempuan paruh baya, berkerudung hitam, dari wajahnya saya tebak sepertinya dari Timur Tengah, menghampiri saya. "Assalamualaikum, Sister... Can you buy me a food, please?", katanya. Saya menggeleng dan berkata, "No, sorry." sambil terus berjalan. Tidak sampai semenit saya jalan rasa bersalah menghinggapi diri. Saya ingat saat itu saya bilang ke Ena, "Yaaah, itu ibu-ibu tadi padahal cuma minta dibeliin makanan." Rasa bersalah itu tak kunjung hilang hingga saya tiba di hotel.

Malamnya Ena nonton Harry Potter and the Cursed Child, saya karena gak kedapetan tiket jadi kelilingan sendiri di Oxford Street, kemudian malah berakhir dengan belanja di Primark. Keluar dari Primark saya masih celingukan di sekitar Oxford Street karena mikir mungkin ibu-ibu tadi masih ada di sekitar sini. Tapi gak ketemu lagi. Semalaman itu gak tau kenapa saya ingat ibu-ibu itu terus.

Sampai di Jakarta cerita tadi saya kisahkan ke suami. Dia suruh saya sedekah di Jakarta aja sebagai pengganti rasa bersalah tadi. Jadi waktu itu saya niatkan masak sendiri, bikin nasi kotakan untuk dibagiin ke pengemis di sekitar wilayah dekat rumah. Apa rasa bersalahnya hilang? Ternyata tetap enggak. Bayangan atas kesombongan saya saat di London itu masih terus ada.



Cerita tadi memang kesannya biasa saja. Menolak memberikan uang ke pengemis kan di Jakarta juga sering, tapi entah kenapa peristiwa di London itu begitu membekas. Saya seperti ditampar entah oleh apa. Wajah ibu itu, apa yang ia ucapkan, lalu bagaimana cara saya menolaknya, semua detailnya masih jelas sekali saya ingat. Seperti ada hantu yang terus gentayangan di dalam pikiran dan membisikan betapa sombongnya diri ini.

Bagaimana tidak sombong, Allah kasih saya rejeki yang berlimpah sekali di tahun 2017 itu. Keinginan saya yang sudah bertahun-tahun untuk menginjakkan kaki di London dikabulkan, Visa UK yang sudah sempat ditolak ternyata diberikan kemudahan lagi untuk mendapatkannya. Tapi ketika ada orang lain minta sedikit saja rejeki dari saya, mudah banget saya tolak mentah-mentah.

Sudah setahun lewat sejak perjalanan di London saat itu, tapi peristiwa tersebut masih lekat dalam ingatan.

No one has ever become poor by giving

Sydney, Desember 2018

Sore itu juga sama. Saya dalam perjalanan balik menuju hotel. Sydney hujan badai, angin kencang sekali, sampai payung saya berubah jadi mangkok berkali-kali. Jarak dari stasiun King Cross menuju hotel tempat saya tinggal berjarak kurang lebih 1 km, dan saya harus jalan kaki ke sana. Jalanan gak ramai, semua orang berjalan cepat-cepat menghindari hujan angin yang kencang. Dari kejauhan saya lihat seorang perempuan duduk di depan toko. Mendekap dirinya, kehujanan, tanpa payung, bahkan tanpa mengenakan jaket. Seketika saya bertanya sendiri dalam hati, "itu pengemis bukan sih?" karena pakaiannya bersih dan cukup bagus, dan tak ada barang-barang di sekitarnya seperti kebanyakan pengemis lain yang saya temui di jalanan. Namun saat itu juga bayangan perempuan pengemis di London tahun lalu tiba-tiba muncul lagi di kepala saya. Saya yang juga kebasahan saat itu cuma mikir satu hal, jangan sampai kejadian seperti di London terjadi lagi.

Ketika jarak semakin dekat, perempuan ini sudah menatap ke arah saya. "Give me just ten cents, please!" katanya.

Alhamdulillah, penyesalan yang sama tidak lagi hinggap hingga saya menulis cerita ini.

Melbourne, The Most Liveable City in the World.

Apa yang mau saya sampaikan sebetulnya dari cerita ini adalah kita manusia kerap merasa ketakutan kekurangan rejeki, hingga mau berbagi pun rasanya berat sekali. Padahal rejeki sudah dijamin oleh Allah. Kenapa begitu sombong saat memiliki sesuatu? Padahal apa sih yang kita punya sebetulnya?

Kisah dalam perjalanan saya di atas tadi betul-betul menjadi ingatan yang lekat sekaligus pelajaran yang membuat saya belajar untuk terus bersyukur atas apa yang saya punya, sedikit apa pun itu dan kesadaran untuk selalu mau berbagi rejeki dengan orang lain.

Ada dua hadist yang sampai sekarang akan selalu saya ingat. Dikatakan... "Bersedekahlah, supaya engkau diselamatkan dari api neraka, walaupun hanya dengan sebutir kurma." Dan, "tidak akan pernah berkurang harta yang disedekahkan kecuali ia bertambah, bertambah, bertambah."

Kadang kita memang perlu melihat ke bawah untuk terus bisa merasa bersyukur. 

Banyak cerita dari London dan Australia yang belum saya sempat tuliskan di sini, sebagiannya mungkin bahkan saya sudah lupa. Tapi cerita ini adalah kisah pertama dari dua perjalanan saya terakhir yang ingin saya bagikan di sini, sebagai pengingat bagi diri saya sendiri, semoga juga bagi orang lain yang membacanya.

Berbuat baiklah. Niscaya kebaikan itu akan berbalik kepada kita.


PS: Ini sedikit kesan saya melihat para homeless di London, Melbourne dan Sydney. Meskipun  di negara maju, jumlah homeless di sana ternyata juga lumayan banyak. Tapi satu hal yang bikin saya kagum, banyak banget homeless yang saya temui selama diperjalanan, meski tidur di jalanan, meski ga punya rumah, mereka tetap baca buku. Buku dan anjing, dua hal itu yang  banyak saya lihat tetap mereka punyai meski berada di jalanan.


Jakarta, 3 Januari 2019
"Selamat Tahun Baru"

















Monday, December 31, 2018

Hujan Di Luar Meratap

Hujan di luar meratap
Malam pun sepi
Ku tertegun pada kaca jendela
Menghitung rintik demi rintik
Detik demi detik
Melintas waktu begitu bergegas
Kemudian tersadar kita berjarak setengah lingkar dunia

Apa kabar di sana?

Angin musim gugur mengirimkan suara dari jauh kepadamu
Berdesing di telingamu
Tentang airmata yang panas


Salemba, 6 November 2018

Friday, March 16, 2018

Trip To London: Visa UK Ditolak

Hellaaaawwww....

Iyaa, ini emang udah kelewat lama sejak trip ke London akhir September 2017 lalu. Tapi better late than never, kan ya? Setelah blog ini dianggurin sampe jamuran, kali ini aku mau sharing tentang pengalaman visa UK yang sempat ditolak.

Jadi, setelah dapat tiket murah meriah untuk ke London dari Garuda Travel Fair, aku sama Ena udah excited banget karena mimpi kami menjejakkan kaki di Inggris rasanya gak lama lagi terwujud. Akomodasi, itinerary dan segala printilan lain untuk ke sana udah disiapin dari bulan-bulan sebelumnya. Tinggal nabung yang masih kudu jor-joran dan proses bikin visanya. 

Ena apply visa UK sekitar 3 minggu lebih dulu daripada aku yang saat itu masih riweh karena suami diopname karena DBD. Setelah isi aplikasi online untuk visa UK (syarat dan cara pengisian form Visa UK bisa dibaca di sini), tanggal 17 July 2017 pagi sesuai appointment aku datang ke VFS di Kuningan City untuk melakukan interview dan pengambilan sidik jari. Kebetulan di hari yang sama, sore harinya Ena juga mau ngambil hasil visa UK dia yang ternyata udah keluar.

Jam 4 sore, ada Whatsapp masuk dari Ena. Bunyinya, "Visa gue ditolak, Da." 😭

Drama dan huru-hara tentu saja terjadi tapi gak perlu lah ya ditulisin di sini. Kepanjangaaaan...! Intinya adalah, visa UK Ena ditolak karena rekening tabungan yang dikasih gak bisa menunjukan bukti pemasukan dari gaji dia dan ada lonjakan saldo yang tinggi dan dicurigain itu bukan uang dia yang sebenarnya. (Ribet yeee, duit dikit salah duit kebanyakan juga salah 😛)

Baiklah... jadi ya emang ada salahnya juga sih karena ternyata si Ena gak ngasihin print rekening tabungan payroll dia yang mana bisa nunjukin kalau tiap bulan dia terima uang gaji. Dia cuma kasih print rekening tabungannya yang khusus dipake nabungin uang untuk jalan-jalan. Dan soal lonjakan saldo sebetulnya adalah uang THR dia pas lebaran yang begitu masuk di rekening payroll dia transfer langsung semuanya ke tabungan jalan-jalannya.

Saat itu gue ikut deg-degan juga. Mikirnya, kalau nanti gue dapet visa ya masa gue jalan-jalan sendiri. Nanya sana-sini soal aplikasi visa UK yang ditolak, browsing di internet juga minim banget informasinya. Untungnya yaa, ada Kakak Kenny - Kartu Pos (IG: @kartuposinsta) yang baik banget ditanyain soal info ini itu. Dari dia lah akhirnya kami tau kalau visa UK ditolak maka applicant boleh meng-apply visa lagi tanpa perlu menunggu jeda waktu tertentu. 

Jadi diputuskan lah bawa Ena akan apply ulang visa UK (dan tentunya bayar ulang pulaaak...). Semua dokumen disiapin lagi selengkap-lengkapnya. Dia sampe bikin surat keterangan untuk dilampirin yang memberikan keterangan soal apa itu THR. 😁

Seminggu kemudian...

Aku dapat notifikasi lewat email dari VFS bahwa visa UK-nya udah bisa diambil. Dua hari kemudian aku datang. Sepanjang nunggu nomor antrian dipanggil dada ini dag dig dug melulu. Karena sudah tau bahwa visa yang ditolak pasti di dalam plastik pembungkus passport kita bakalan ada surat pemberitahuannya, maka hal yang aku lakukan pertama kali saat menerima amplop tersebut adalah menggesek plastik dokumennya untuk merasai ada kertas gak di dalamnya. Dan apa coba???

Iyaaak... Ada dong kertasnya. Gue rasanya saat itu kok ya nelangsa tapi pasrah. Haha...! Gak kaget lagi sih karena udah dengar kabar visa UK Ena yang ditolak juga. Jadi gue berpikir sama, yaudah gue bakal apply aja lagi.

Setelah terima amplopnya, walaupun udah tau ada kertas di dalamnya, untuk memastikan lagi, aku masuk ke toilet dan duduk di dalamnya cuma untuk buka itu amplop. (Kan malu yak masa buka amplopnya di dalem VFS terus ntar orang-orang liat dong kalo visa gue ditolak). Abis baca surat penolakan visanya aku kirim Whatsapp ke Ena, "Visa gue juga ditolak dong." 😭😭😭

(Anak kembar nasibnya gini amat yaa, serupa.)

Alasan penolakannya kali ini beda, lebih beragam. Mungkin karena aku nulis pekerjaan di form aplikasi sebagai freelancer. Mulai dari yang bilang pemasukan yang gak jelas tiap bulannya, gak ada bukti bahwa sudah pernah melakukan perjalanan ke luar negeri sebelumnya (ini salah gue sih lupa kasih fotokopi isi passport lama), gak mencantumkan bukti pendapatan suami (padahal laki gue kan gak ikut perginya), sampe di state katanya biaya trip ini semacem lebih besar pasak daripada tiang, so deze gak satisfied. (Elaaaah... aku kudu piye supaya kamu satisfied, Maz?)

Dari penolakan ini aku belajar sih kalo soal apply visa itu emang bukan cuma perkara banyaknya duit di rekening. Tapi juga soal kelengkapan dokumen yang meyakinkan mereka. Karena kalo mau ngomongin soal jumlah uang, di rekening aku saat itu jumlahnya jauh banget dari kata cukup (sombooong 😝). Tapi untunglah aku anaknya gigih dan gak mudah menyerah, visa ditolak <strike>dukun bertindak</strike> ya apply lagi lah!

Emang sih apply visa baru means harus bayar lagi, double pengeluaran. Tapi yawis rapopo demi mengejar mimpi. Jadi dalam waktu sekitar 2 minggu berikutnya yang aku lakukan adalah mempersiapkan semua dokumen yang dianggap perlu untuk dilampirkan demi membuat mereka yakin dan percaya. 

Dokumen tambahannya sbb: 

- fotokopi semua halaman passport lama yang ada stamp dari negara-negara yang pernah dikunjungi (ini karena emang kelupaan sebelumnya)
- surat keterangan dari beberapa perusahaan yang selama ini bekerja sama dengan aku, yang menyatakan bahwa betul aku bekerja freelance di tempat mereka dan masih akan menggunakan jasaku untuk ke depannya. (Minta di-print di atas kop surat perusahaan, ditandatangani dan dicap basah)
- print tabungan payroll suami selama 6 bulan terakhir
- tagihan kartu kredit suami selama 6 bulan terakhir
- surat keterangan dari Ena sebagai orang yang pergi bareng untuk trip ini, bahwa dia bekerja dan memiliki gaji tetap dari perusahaannya dan dia menjamin sebagian pengeluaran aku di sana.
- print rekening payroll dan tabungan jalan-jalan Ena selama 6 bulan terakhir
- print tagihan kartu kredit Ena selama 6 bulan terakhir
- foto aku bersama anak-anak dan suami (biar yakin gue punya keluarga di sini dan pasti bakalan pulang). Ini perlu gak perlu sebetulnya, tapi dari hasil baca-baca beberapa blog orang, it works.
- surat keterangan yang berisi pernyataan mengenai beberapa point: menyatakan bahwa walaupun bekerja sebagai freelancer tapi saat itu aku juga bekerja sebagai karyawan tetap di satu perusahaan riset, which means aku punya dua pemasukan sebetulnya. Lalu aku pergi dengan saudara kandungku yang punya pekerjaan tetap di Jakarta, aku punya suami dan anak yang pasti membuatku akan pulang lagi ke Indonesia.
- dan pada print rekening koran selama 6 bulan terakhir, semua pemasukan dari perusahaan-perusahaan tempat aku bekerja sebagai freelancer juga aku stabilo-in biar mereka bisa liat secara jelas jumlah uang yang masuk tiap bulan.


Ribet yak? Mayaan. Tapi untuk mewujudkan mimpi emang perlu usaha, kadang ekstra.

Well, setelah aku masukin aplikasi lagi ke VFS untuk kedua kalinya, tinggal nunggu kabar dari mereka. Kalau aplikasi visa pertama less than a week aku udah bisa terima hasilnya (yhaa, walopun ditolak), yang kedua ini aku sampe senewen nungguinnya kok gak dapat-dapat kabar juga. Sementara tanggal keberangkatan semakin mepet. Dan Ena tentu saja sudah berhasil dapat visa UK nya. 

3 minggu kemudian...

Akhirnya masuk juga email notifikasi dari VFS, mengabarkan bahwa hasil visa UK aku udah bisa diambil. Dan tentu saja kalian udah bisa nebak kan hasilnya? 😎😎



London, I'm comiiiing....!!!