aku dipaksa menjadi batu
batu yang keras dan mati rasa
sehingga ketika kalian melemparku dari ujung jurang
aku hanya akan hancur tanpa rasa
aku adalah batu
batu yang tak punya rasa
sehingga ketika kalian menginjak-injakku
aku takkan merasa apa-apa
aku dipaksa menjadi batu
dan menyaksikan kalian tertawa-tawa
Jakarta, 13 Juni 2014
-ketika hati dirundung mendung sementara matahari terik di luar sana-
ketika awan mendung, aku akan berlari keluar, bertelanjang kaki dan menari bersama rinai hujan. Dalam basah akan kutemukan inspirasi, maka pada kata-kata ini kukristalkan dingin kisahnya
Friday, June 13, 2014
Tuesday, March 4, 2014
Crying by The Songs
Di perjalanan pagi ini menuju kantor saya berdiskusi kecil-kecilan dengan suami yang intinya adalah pokoknya nanti sampai di kantor saya mau nge-download lagu-lagu anak dan nursery rhymes buat Langit, karena rencana kami adalah akan memutarkan lagu-lagu anak untuk Langit setiap pagi. Menurut penelitian siih *tau deh penelitian siapa, huehe* anak-anak yang terbiasa didengarkan musik sejak kecil kecerdasannya lebih tinggi sekian persen dibandingkan dengan anak-anak yang gak terbiasa mendengarkan musik lho. Nah, saya kepengen Langit tumbuh besar dengan musik.
Saya sendiri punya ingatan samar tentang masa kecil saya dimana sepertinya saat saya belum masuk SD setiap pagi papa saya selalu memutarkan lagu-lagu anak untuk saya dari kaset. Buktinya sih masih jelas tersimpan. Di rumah papa mama di Bekasi, kaset-kaset lagu anak saya jaman dahulu masih tersimpan rapih di laci, tapi entah apa masih bisa diputar dengan suara yang bagus atau enggak.
Singkat kata, sepagian ini di kantor saya ngubek-ngubek Youtube untuk download lagu sambil ngerjain report kantor. Lagu yang pertama kali saya download adalah "Your Mother"-nya Rashid Bikha. Lagu ini saya pernah dapatkan sekitar sembilan atau delapan tahun lalu dari seorang teman di Kuala Lumpur, namanya Ali. Sejak pertama kali dikasih lagu ini dan liat videonya saya jatuh hati, ti,ti,ti.... Temen saya Dhiesta pernah mbrebes mili* waktu dengerin lagu ini. Nah ngomongin soal mbrebes mili ini, saya juga jadi korban. Lagu kedua yang saya download adalah "My Mum is Amazing" yang dinyanyiin sama Yusuf Islam. (Ini temanya emang lagi nyari lagu-lagu anak yang bernuansa islam gitu deh). Begitu saya denger lagu ini plus baca liriknya plus liat videonya, airmata saya langsung bercucuran. Jiaaah, lagi ngerjain report pulak booook. Untung gak ada yang sempat lihat. Saya langsung sedih terbawa suasana, langsung keinget Langit, langsung pengen resign aja dan pengen di rumah aja nemenin Langit. Begitu lagunya habis bukannya saya stop itu video, yang ada malah saya putar lagi berulang-ulang kali, didengerin sambil nahanin airmata. Akhirnya saya ke toilet terus mewek deh. Deeeuh cengeng beeeutts yaa...
Tapi begitulah, saya ini muka Rambo hati Rinto. Galak-galak tapi hatinya sensitip. Apalagi semenjak punya anak, gak bisa lihat berita, cerita, lagu tentang hubungan anak dan orang tuanya, pasti saya mewek sendiri inget Langit. Huaaaa.... :((
Lagu-lagunya sudah selesai di download dan siap diperdengarkan untuk Langit. Lagunya memang sengaja saya cari yang pakai bahasa Inggris, liriknya simple, dengan pesan yang bagus, dan musik yang menyenangkan didengar. Semoga Langit suka dan bisa belajar banyak kosakata dari lagu-lagu ini.
![]() |
| picture from here |
*nangis bercucuran airmata
Friday, January 17, 2014
Hari-hari Kemarin
Hi semua...
Semoga belum terlalu telat mengucapkan selamat Tahun Baru. Tidak terasa tahun sudah berganti lagi, hari-hari kemarin terlewati dengan begitu banyak cerita yang tidak sempat lagi saya tuliskan di sini. Sibuk? Tidak juga sebetulnya. Kegiatan saya masih seperti biasanya pekerja kantoran from 9 to 5 ditambah porsi menjadi seorang ibu. Banyak hal yang sulit membuat saya memiliki mood yang bagus untuk menulis. Saya tidak bisa menulis ketika suasana terlalu ramai, saya tidak bisa menulis ketika saya sangat sedikit membaca (buku/puisi/cerita/tulisan di blog), saya tidak bisa menulis ketika saya terlalu sedikit mendengarkan lagu di telinga, saya tidak bisa menulis ketika waktu banyak terlewat untuk hal lain yang perlu lebih saya utamakan. Ini bukan sesuatu yang menyenangkan bagi saya sebetulnya. Tapi saat ini, beginilah!
Siang ini saya hanya kebetulan mampir membuka blog ini, membaca beberapa tulisan dari blog teman-teman yang sudah lama tidak pernah saya kunjungi, lalu saya ingin menulis. Menulis tentang hari-hari kemarin yang telah lewat, hari-hari yang tidak sempat saya ceritakan di sini. Mungkin ini hanya serpihan yang tersisa dari ingatan dalam kepala. Selebihnya entah apa, saya terlalu lupa.
Sejak Langit hadir dalam hari-hari saya, fokus saya tertuju kepadanya semaksimal mungkin. Langit sekarang sudah menginjak usia 8,5 bulan. Giginya sudah tumbuh dua di bawah. Setiap tingkahnya membuat saya tak bisa berhenti jatuh cinta kepadanya. Saya berusaha menjadi Ibu yang terbaik baginya. Setiap pagi saya bangun setengah 5, memastikan semua kebutuhan Langit beres sebelum saya berangkat kerja. Sesibuk apa pun pekerjaan saya di kantor, sepagi apa pun saya harus berangkat kerja, saya HARUS memasak sendiri makanan untuk Langit di rumah. Instan food is a big NO! Alhamdulillah ASI saya masih keluar dengan lancar, stock ASIP di rumah pun masih banyak. Sufor is also big NO!
Aktifitas saya di kantor masih sama, dengan kesibukan yang tak pasti. Bulan Juni nanti genap empat tahun saya mengabdi di sini. Perusahaan ini berkembang pesat, bukan lagi perusahaan dengan karyawan sejumlah 22 orang seperti pertama kali saya bergabung di sini, sekarang sudah hampir mendekati 150 orang. Kantor ini baru saja pindah ke gedung baru yang tetangga depannya kerap ramai didatangi para koruptor calon penghuni sel. Akhir tahun lalu saat para karyawan diliburkan selama dua minggu, saya dan team justru sibuk melakukan pindahan kantor ke gedung baru ini. Mood bekerja saya kadang naik turun, ini tahun keempat saya di sini, rasa bosan sering kali melanda, membuat saya kadang galau dan ingin keluar dari pekerjaan ini.
Banyak hal yang saya rindukan. Banyak sekali! Saya rindu hari-hari dimana saya bisa menyendiri, benar-benar sendiri, mengurung diri sambil merenung lalu menangisi masa lalu. Saya rindu membaca banyak buku dan mendengar banyak lagu yang menginspirasi untuk menulis puisi. Saya rindu menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengobrol dengan teman-teman maya yang tidak pernah saya lihat wujudnya, tak pernah saya dengar suaranya tapi kami mengobrol banyak hal dan terasa begitu akrab. Saya rindu berkumpul dengan teman-teman saya yang sekarang ini kebanyakan juga sudah berumah tangga, ngobrol ngalor ngidul dengan mereka dan ketawa ngakak gak berhenti-henti sampai lemas. Saya rindu pergi ke pantai dan jalan-jalan ke tempat yang tidak pernah saya kunjungi sebelumnya. Saya rindu menghabiskan waktu berdua saja dengan Gema di taman, berjam-jam berdiam di sana hanya melihati orang-orang yang lalu lalang. Saya rindu nonton midnight di bioskop. Saya rindu pergi ke Taman Ismail Marzuki, nongkrong di sana sampai hari menjelang pagi. Saya rindu datang ke acara-acara seni dan pentas puisi.
Saya rindu hari-hari kemarin ketika saya merasa 'bebas', di lain sisi saya menikmati hari-hari saya sekarang sebagai seorang ibu, mengamati Langit tumbuh setiap hari dan tak henti-henti jatuh cinta kepadanya.
Mood menulis saya yang dulu masih pergi entah kemana. Juga dengan berat hati saya mungkin perlu bilang selamat tinggal kepada puisi. Saya sudah tidak menulis puisi lagi, saya pun lupa kapan terakhir kalinya. Produktifitas saya menurun drastis. Sedih, tapi beginilah adanya. Mungkin nanti akan ada masanya lagi. Ketika saya senang kembali merenung, melihat hari-hari kemarin dengan lagu-lagu mellow di telinga. Mungkin nanti akan ada masanya lagi saya kembali menulis puisi di pagi hari, puisi (favorite saya) tentang kesedihan, penyesalan dan cinta yang ditinggalkan.
Just dropping by to say hi, don't be sad everyone. I'll see you again later. :)
![]() |
| pic from here |
Thursday, November 7, 2013
Pejuang ASI
Langit hari ini genap berusia enam bulan dan dinyatakan lulus ASI eksklusif. Mamanya senang sekali akhirnya bisa berhasil ngasih Langit yang terbaik. No sufor, no water, breastmilk only. Perjuangan untuk ngasih ASI eksklusif untuk Langit bisa dibilang alhamdulillah mudah dan lancar. Waktu hamil saya cuma berbekal banyak baca tentang ASI dan seputar hal-hal menyusui. Salah satunya yang jadi pecut bagi saya untuk bertekad kuat memberi ASI eksklusif untuk Langit adalah ketika membaca buku ID Ayah ASI. Sebagian orang mungkin bisa bilang buku ini biasa-biasa saja, cerita standart, atau apa pun itu. Yup, saya juga bilang begitu tapi dibalik cerita yang biasa-biasa dan standart ini saya melihat perjuangan yang kuat bagaimana ayah atau pun ibu ingin memberikan yang terbaik untuk bayinya. Bagaimana godaan-godaan itu datang baik dari pihak luar seperti Rumah Sakit, dokter maupun suster, teman atau tetangga, sampai orang-orang terdekat sendiri seperti orangtua, mertua atau adik dan kakak. Dari buku itu saya belajar bagaimana caranya memiliki tekad dan semangat kuat serta belajar bagaimana caranya menghadapi cobaan-cobaan seperti itu jika terjadi kepada saya.
Beryukur banget saya punya suami yang memberikan dorongan 1000% dan keluarga yang mendukung untuk memberi ASI dan tidak menggunakan dot kepada Langit, walaupun ada sih sebagian dari mereka yang sempat keheranan dan mempertanyakan ketika melihat saya memberikan ASI perah menggunakan cup feeder. Tapi semuanya dikembalikan lagi kepada saya sebagai orangtuanya Langit.
ASI saya sebetulnya sudah keluar tepat di pagi hari setelah saya melahirkan Langit, tapi hanya sebatas kolostrum yang hanya setetes-setetes saja. Tapi berbekal ilmu yang saya miliki saya tidak merasa khawatir dan tetap tenang dan senang. Pihak RS St. Carolus pun sangat pro ASI, sehingga dokter dan para suster pun selalu memberi semangat dan dukungan alih-alih nyodor-nyodorin buat pake sufor atau nakut-nakutin si ibu bahwa ASI-nya dikit dan si bayi bakal kelaperan kalau gak dikasih sufor.
ASI saya keluar lancar saat di hari keenam. Saat itu sekali perah untuk dua payudara saya bisa menghasilkan 150-250 ml. Namun Langit saat itu belum bisa menyusu langsung dari saya, sampai kami 4x mengunjungi klinik laktasi dan seminggu setelah Langit lahir dia malah harus dirawat dua hari di RS karena bilirubinnya cukup tinggi (gak tinggi-tinggi banget sebenernya saat gue udah tau sekarang) dan minumnya kurang karena belum bisa nyusu langsung itu yang menyebabkan berat badannya turun banyak dari berat saat Lahir. Waktu langit masuk RS dan harus disinar rasanya kaya kiamaaaaat (emang lebay banget deh, maklum yak ibu baru, ngeliat anak gue ditutup matanya dan disinar biru sampe kepanasan sedih banget, sampe nangis bercucuran airmata dan sesenggukan seharian. Suster-suster di sana sampe keheranan kayanya ngeliat gue, anak cuma kuning aja kok emaknya nangis kaya anaknya kena penyakit ajaib dari planet lain yang gak ada obatnya). Tapi emang kadang Tuhan ngasih berkah dengan caranya yang ajaib, justru karena Langit dirawat di RS saat itulah dia bisa nyusu lancar langsung ke saya. Suster di sana melarang saya nyuapin Langit ASIP dengan sendok, katanya "Kalau ada mamanya harus nyusu langsung, kalau malam saat mamanya tidur baru suster yang suapin pakai sendok." Alhasil karena paksaan suster di sana dan diajarin juga, tepat malam pertama Langit dirawat dia langsung nyusu lancar 40 menit non stop melekat pada payudara saya. Wohooo...
Saya mulai stok ASI saat usia Langit sebulan, patokannya minimal sehari ngestok 100ml ASIP. Alhamdulillah lagi setiap hari selalu lewat dari target. Saya bisa stok per harinya 3-5 botol @100ml di freezer. ASI saya sempat seret keluarnya sampai beli booster ASI Mama Soya. Cuma diminum seminggu dan modal positif thinking aja kalau ASI nya pasti banyak, ASI saya keluar lagi dengan lancar jaya. Sebulan sebelum masuk kerja stok ASIP saya di kulkas mencapai hampir 140 botol @100 ml, sampai akhirnya memutuskan untuk menyewa freezer ASIP karena kulkas di rumah gak muat lagi.
Hari ini, meski Langit sudah lulus ASI eksklusif dan sudah mulai belajar makan, mamanya tetap bertekad memerah ASI setiap hari sampai benar-benar tidak mampu lagi berproduksi. Semoga Langit tumbuh jadi anak yang sehat dan kuat.
![]() |
| Ini dia stok ASIP untuk Langit. Foto ini diambil 3 hari sebelum Langit tepat berusia 6 bulan. |
Lulus ASI Eksklusif
Heiii, we did it, son!
Hari ini Langit tepat 6 bulan dan lulus ASI eksklusif lho! Mama is so proud can give the best for him.
Meskipun begitu perjuangan memerah dan menyimpan ASI untuk Langit masih akan terus berlangsung sampai Mamanya ga bisa lagi produksi ASI.
Subscribe to:
Posts (Atom)



