Monday, August 3, 2015

Lahirnya Maryam - Part 2

"Saya Yang Melahirkan, Suster Yang Teriak-Teriak"


Sampai di unit Immanuel, RS St. Carolus saya masih harus daftar kamar dulu dan urus administrasi bla bla bla. Duh, kalau dibandingin dengan kehamilan pertama dulu, kehamilan kali ini kurang persiapan banget deh rasanya. Dulu saya sudah daftar kamar 2 mingguan sebelum saya melahirkan. Saya sudah nyiapin tas dan peralatan untuk dibawa ke RS sejak usia kandungan 7 bulan. Tapi kali ini semua serba belum. Hiks! Rasanya agak-agak kesel gimana gituuu...

Selesai dengan urusan tetek bengek itu saya langsung diantar masuk ke kamar dan ganti pakaian. Jam 1 tepat saat itu. Saat jalan menuju ruang bersalin saya lihat ada 2 ibu lain yang juga sedang menunggu saat-saat melahirkannya di kamar lain. Seorang suster melakukan pengecekan ini itu kepada saya dan seperti biasa masih aja menanyakan banyak pertanyaan tentang riwayat penyakit, data diri, dll, sementara rasa mules saya makin kuat dan makin sering. Dan suami saya belum juga datang.

Kira-kira 20 menit setelah saya masuk kamar bersalin ketuban saya pecah. Saya bilang ke suster dan pemeriksaan dalam pun dilakukan. Sudah pembukaan 7, jam 2 kurang 10 menit. Suster minta saya istirahat saja karena perkiraan melahirkannya sekitar jam 4 atau 5 pagi. Lalu saya ditinggal dan ruangan bersalin saya masih belum disiapkan peralatan apa-apa.

Tepat pukul 2 suami saya datang. Akhirnyaaa... saya lebih tenang rasanya. Di luar ruangan saya dengar teriakan-teriakan salah satu ibu, pasti dia sudah mau melahirkan. Sementara rasa mulas saya datang makin kuat. Saya pencet bel untuk memanggil suster. Satu orang suster datang ke kamar dan saya bilang bahwa rasanya saya sudah seperti mau mengejan. Saya minta dicek dalam lagi tapi suster itu bilang, "Tadi kan belum lama baru pembukaan 7, Bu. Ditahan aja dulu ngedennya. Masih dua jam-an lagi lahirannya." Suami saya bilang ke suster, "Di cek aja Sus, dulu waktu hamil pertama juga lahirannya cepet." Dan permintaan suami saya cuma dijawab suster dengan "Iya, nanti ya, Pak!"

Saya pikir ini pasti suster yang piket malam cuma sedikit sementara ada tiga ibu yang harus dilayanin, makanya agak kelabakan kali yaa. So, selama ada suami saya biarin aja deh suster-suster itu ngapain kek, meskipun begitu rasa mulas dan mau ngedennya juga semakin kuat. Saya cuma berusaha tenang dan mengatur napas. Mempraktikan hypnobirthing yang sudah saya pelajari dan tetap tenang, meski tangan suami saya remes-remes, hehe...

Empat sampai lima kali rasa mulas terus saja datang semakin kuat lalu saya merasakan dorongan yang amat kuat, otomatis saya memencet bel lagi tanpa henti untuk memanggil suster. Seorang suster datang tergopoh, kemudian saya bilang saya sudah mau ngeden sekali, dia menyibak kain selimut saya, wajah suster tersebut belum sempat melihat ke arah vagina saya, tapi suami saya lebih dulu bilang, "Sus, itu kepalanya udah keliatan!"

Dengan suara yang panik suster tsb langsung bilang, "Bu, angkat kakinya! Ngeden!" Dan dia lanjut teriak-teriak manggil temannya "ikaaa... ikaaa..." dan sambil kerepotan nyiapin peralatan. Di saat yang bersamaan saya mengangkat kaki saya tapi belum ngeden karena jujur saja sesaat saya malah merhatiin kepanikan susternya dan seperti lupa buat bagaimana caranya ngeden. Begitu suster yang kedua datang dan memerintahkan saya untuk ngeden lagi, barulah saya seperti keingat untuk ngeden. Daaan... belum juga nafas saya habis dalam satu dorongan, bayinya sudah meluncur keluar. :)

Saya kaget juga senang sekaligus tak mengira secepat itu bayinya keluar. Saya ga merasa kelelahan sama sekali. Begitu bayinya sedang di bersihkan dan dipotong tali pusatnya saya malah langsung ngambil hape yang tergeletak di meja sebelah tempat tidur dan foto-fotoin si adek bayinya.

Setelah diukur dan ditimbang, susternya bilang adek bayinya harus dikasih oksigen dulu sekitar 30 menit karena napasnya agak cepat. Setelah 30 menit baru bayinya diletakan di dada saya untuk IMD. IMD yang harusnya 2-3 jam kali ini hanya dilakukan 1 jam saja karena adek bayinya harus kembali dikasih oksigen lagi. Kali ini pemberian oksigen dilakukan di ruangan yang terpisah.

Tidak lama Dr. Ekarini baru datang dan melakukan pengecekan dan menjahit. Setelah selesai saya dimandikan suster dan ruangan sudah dirapihkan semuanya bayinya msh blm selesai di oksigen juga. Ketika Dr. Evelin paginya datang untuk memeriksa, dia bilang karena napas bayi saya sedikit ada masalah maka harus dilakukan pemberian oksigen seharian dan dipantau. Agak sedih sih karena saya kira saya dan adek bayi akan segera dipindah ke ruang perawatan berbarengan seperti dengan Langit dulu, tapi ternyata tidak.

Dan kali ini entah karena apa, susternya sih bilang karena lagi pembersihan kamar perawatan dan pertukaran shift, maka saya menunggu diruang bersalin hingga hampir pukul 4 sore dan baru dipindah ke kamar perawatan. Beberapa teman kantor yang datang pun menjenguk ke kamar bersalin dan gak bisa ketemu adek bayinya.





8 comments:

  1. wahhh...mantap ni gan seritanya,,
    sangat menarik deh pokoknya...

    ReplyDelete
  2. mantap gan artikelnya..
    sangat menarik..makasih atas infonya gan...
    salam kenal dan mselam sukses.

    ReplyDelete
  3. makasih banyak atas informasinya gan ..benar2 sangat menarik dan bermanfaat sekali gan..
    mantap..

    ReplyDelete
  4. selamat kelahirannya, semoga bayinya sehat selalu dan tumbuh jadi anak yang baik.

    ReplyDelete
  5. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  6. zapplerepair pengerjaan di tempat. Zapplerepair memberikan jasa service onsite home servis pengerjaan di tempat khusus untuk kota Jakarta, Bandung dan Surabaya dengan menaikan level servis ditambah free konsultasi untuk solusi di bidang data security, Networking dan performa yang cocok untuk kebutuhan anda dan sengat terjangkau di kantong" anda (http://onsite.znotebookrepair.com)
    TIPS DAN TRICK UNTUK PENGGUNA SMARTPHONE

    ReplyDelete

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails